Official Blog of Nugi Nugraha || Member of Google Corp & Blogger - Since 2011 || Copyrights 2011 - 2026 by Personal Blog & Google

Sabtu, 30 Mei 2026

Nugraha is My Name (Part 58)



PERINGATAN!


Sebelum membaca artikel ini, diharapkan agar pembaca sudah berusia 17 tahun, mempunyai kemampuan untuk menghargai dan menerima juga open minded. 

Karena artikel ini berdasarkan pengalaman pribadi dan terdapat konflik secara mendalam dari konteks, paradigma, opini dan juga akan menyertakan orang-orang yang pernah ada di kehidupan pribadi sang penulis secara jujur yang bisa dikonfirmasi secara komprehensif. 

 

-------


Aku sudah patah, bahkan bukan hanya patah, tapi hatiku hancur terbakar hingga menghangus. 

Ini tentang hidupku yang dipenuhi dengan banyak pertanyaan dan alasan kenapa harus pernah ada uluran tangan tapi hanya sebatas dan sepintas. Kenapa pada saat itu aku diselamatkan dari ketidakmampuan hidupku yang tidak baik-baik saja menjadi pernah baik-baik saja hingga kini pada akhirnya kembali ke titik di mana pengurangan dalam matematika saja tidak cukup untuk menggambarkan betapa hampanya ketidakadilan itu. 


Aku yang pernah merasakan betapa berartinya mendapatkan kesempatan untuk hidup di dunia ini, tapi entah apa yang kembali salah dariku hingga semuanya terasa begitu berat untuk aku terima di usiaku yang sekarang. 

Karena aku menjadi merasa sayang dengan semua perjalanan yang pernah aku lalui selama ini jika aku akhiri begitu saja. 

Aku yang pernah berjuang mati-matian berusaha bangkit di saat terjatuh sendirian tanpa sandaran atau sesederhana sedikit rangkulan dan pelukan. 

Aku menyayangkannya banyak waktu yang telah aku lewati selama ini. 

Harapan yang semestinya beriringan dengan penerimaan juga keterbukaan, tapi semuanya tertutup dengan sebuah fakta bahwa sejak awal pun aku memang tidak pernah diharapkan. 


Sekarang semuanya menjadi semakin terang benderang. Semua pertanyaan dan alasan yang dulunya hanya ada dalam pikiran melayangku kini terjawab dengan kenyataan yang sebenarnya. 

Memang sakit. 

Tapi mau apa lagi. Aku sudah telanjur hidup di dunia ini. 

Aku memang pernah mengecewakan, membuat malu, bahkan pernah tidak mampu untuk menjaga nama baik yang selama ini dibangunnya bersusah-payah. 

Tapi kini rasanya aku sudah cukup untuk berubah menjadi sosok yang lebih baik. 

Tidak pernah ada berita miring tentangku lagi, perilakuku pun sudah cukup baik, lalu aku harus berbuat apa lagi untuk bisa diterima dengan keadaanku yang seperti ini? 

Aku masih bingung dengan apa yang diinginkannya sejauh ini dariku. 


Jujur, aku tidak sedang baik-baik saja. 

Bahkan tidak ada yang benar-benar baik-baik saja, sebagian pikiranku pun tetap sibuk merapikan retakan yang ada. 

Mencoba menyulap luka menjadi senyum yang sopan, agar dunia percaya semuanya tetap tampak terkendali.

Mereka menyebutnya kuat, padahal itu hanya kebiasaan menahan runtuh, mengunyah kecewa sampai hambar, lalu berpura-pura sudah sembuh.

Benar, aku tidak baik-baik saja, aku hanya sudah hafal caranya bernapas di dalam luka yang tidak pernah benar-benar reda.


Katanya, tidak ada yang menyuruhku sekeras itu.

Lucu. 

Karena orang yang hidupnya penuh sandaran dan uluran tangan memang mudah menyuruh orang lain untuk tenang.

Aku bukan anak tunggal, keluargaku ada di hampir semua titik lokasi, bahkan aku juga seorang anak laki-laki, dan bukan berarti aku sekuat itu. 

Tapi pada kenyataannya kalau bukan aku yang menguatkan diri, memangnya siapa lagi? 


Aku pernah menggenggam terlalu erat.

Seolah yang kupunya adalah satu-satunya yang

akan ada, itu "dia". 

Tapi hidup mengajariku pelan-pelan, bahwa tangan yang penuh tidak pernah siap menerima apa pun yang baru.

Katanya ingin itu harus berani, tapi tidak ada yang bilang bahwa berani sering berarti mengosongkan diri.

Aku menjauh bukan karena membenci.

Aku hanya sedang membuka ruang untuk sesuatu yang belum tentu datang.

Jika akhirnya aku mendapatkan arti dari ikhlas, itu bukan karena doa dan harapan, tapi waktu yang mungkin masih memberiku kesempatan untuk itu. Hanya saja waktu itu entah kapan akan tiba di titik yang tepat. 


Aku selalu melatih wajahku agar tetap utuh, menjahit senyum di sudut yang paling mudah runtuh.

Menjadi manusia yang tampak baik-baik saja, di tengah sunyi yang pelan-pelan mematikan rasa.

Yang dulu berkilau kini hanya sisa cahaya.

Seperti lampu yang enggan mati, tapi juga tidak benar-benar menyala.

Aku berjalan dengan tubuh yang lengkap, namun jiwaku tertinggal di hal-hal yang tak lagi berdenyut.

Tidak pernah ada yang curiga, karena aku masih tertawa pada jeda yang seharusnya.

Padahal di dalam, ada yang sudah lama selesai, hanya saja aku belum sempat menguburkannya dengan benar.


Kini, aku mencoba mengerti dari sudut pandang dia hingga mereka. 

Mencoba berpikir dengan logika. 

Berusaha semampuku untuk tetap menjaga semuanya tidak menjadi percikan api yang membakar amarah mereka. 

Belajar menerima dan memberi kesempatan untukku bisa menerima. 

Karena setiap orang diberi kesempatan di masa depan, dan seseorang juga tidak patut disalahkan atas masa lalunya. 

Menurutku manusia itu sama, hanya tidak ditampakkan semua keburukannya saja. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar kamu disini!👇✌️😁