Official Blog of Nugi Nugraha || Member of Google Corp & Blogger - Since 2011 || Copyrights 2011 - 2026 by Personal Blog & Google

Senin, 18 Mei 2026

ANAK Yang Tak Diharapkan (Part 3)


Aku dan Ayah sering duduk makan bersama atau sekadar menonton TV di tempat yang sama. Namun, seumur hidupku—dan sudah pasti selama hidupnya pun—kita belum benar-benar saling bicara. Terlalu banyak hal yang tidak bisa diungkapkan dan diucapkan, juga mungkin banyak yang kami sembunyikan satu sama lain. Kadang aku membencinya, kadang aku merindukannya. Lucunya, kenapa rindu, padahal dia ada di pelupuk mata. Tapi kini, sejauh apa pun aku pergi, tetap dirinyalah yang aku inginkan. Entah di hari yang sudah berlalu atau di hari yang akan datang, aku dan dirinya masih dalam perjalanan panjang untuk belajar saling memaafkan hal yang sebenarnya tidak tahu salahnya di mana.


***


Dulu, di sela-sela jam istirahat sekolah, Ayah Ahmad selalu mengajarinya bermain catur. Melalui permainan catur, Ahmad diajari tentang strategi hidup. Bagaimana sebuah kreativitas dalam memecahkan masalah, juga tentang pengorbanan hidup yang mungkin hanya menguntungkan beberapa orang saja, sekalipun orang itu terperdaya dan bahkan terkecoh. Secara tidak langsung, Ahmad menerapkan semua pola permainan catur yang diajarkan oleh ayahnya itu di dalam kehidupannya.

Ketika Angkasa berusia 2 tahun, 3 tahun, bahkan hingga sekarang pun, Ahmad tidak pernah lupa untuk mengucapkan selamat ulang tahun kepada anaknya. Dia berusaha untuk selalu hadir dan memberikan hadiah walau ala kadarnya. Memang tidak pernah mewah, tetapi Ahmad selalu mempunyai keyakinan bahwa yang paling berharga itu bukanlah harta, melainkan waktu dan obrolan ringan sesederhana bertanya kabar. Memastikan tidak ada yang kurang, meminta maaf karena terkadang tidak hadir di saat yang dibutuhkan, dan berusaha menciptakan banyak momen bersama karena betapa besarnya rasa sayang Ahmad untuk anaknya. Ahmad tidak ingin jika anaknya merasakan hal yang sama seperti yang pernah dia alami.


Saat usia Ahmad 20 tahun, dia pergi ke kota lain yang lebih besar untuk bekerja di sebuah hotel sebagai housekeeping. Tidak sulit bagi Ahmad untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan barunya. Meskipun tidak berpengalaman di bidang perhotelan, Ahmad bisa dengan mudah mendapatkan apresiasi dari atasannya. Selain karena pekerjaannya yang hanya membersihkan kamar, Ahmad bisa meyakinkan atasannya untuk mendapatkan tanggung jawab yang lebih dengan gaji yang cukup besar pula. Jika sif malam tiba, pekerjaan Ahmad tidak lagi membersihkan, merapikan, dan mempersiapkan kamar untuk tamu, tetapi dia juga diberi tugas menjadi resepsionis hotel. Tugasnya kali ini adalah menyambut tamu, mengelola reservasi, juga membantu proses check-in dan check-out tamu. Terkadang, dia juga harus menjawab panggilan telepon yang bertanya tentang ketersediaan kamar hotel.


Hari berganti minggu, dan minggu berganti bulan. Ahmad sudah nyaman dengan pekerjaan barunya sebagai housekeeping di siang hari dan menjadi resepsionis ketika mendapatkan sif malam. Karena tuntutan pekerjaan yang harus selalu ramah kepada tamu dan siapa pun yang datang ke hotel itu, Ahmad kenal dengan seseorang yang bernama Rian. Rian bukanlah tamu hotel. Namanya hampir tidak pernah tertulis di buku daftar tamu. Namun, wajahnya menjadi tidak asing lagi karena saking seringnya dia memasuki hotel tempat Ahmad bekerja. Hotel tempat Ahmad bekerja bukanlah hotel yang berkelas. Jadi, siapa pun yang hanya memiliki uang 300 ribu saja kala itu bisa menginap di sana, termasuk Rian dan tamu-tamunya. Ya, Rian selalu datang dengan orang yang berbeda-beda, baik itu tamu perempuan maupun laki-laki. Tamunya pun dari semua kalangan usia.

Pernah pada suatu malam ketika Ahmad sedang duduk-duduk di luar, Rian keluar hotel dengan salah satu tamunya. Namun bukan untuk check-out, Rian hanya mengantarkan tamunya saja ke parkiran. Rian pun menghampiri Ahmad. Mereka berkenalan dan mengobrol seperti teman yang sudah lama tidak bertemu. Mereka bercerita satu sama lain tentang latar belakang keluarga, dan obrolan itu menuju ke sebuah topik yang membuat Ahmad sedikit terkejut. Ternyata, Rian adalah seorang pria panggilan.

Rian mempunyai latar belakang yang sama dengan Ahmad. Hubungan dengan ayahnya tidak dekat, komunikasi dengan keluarganya juga tidak berjalan dengan baik. Rian hidup seorang diri karena keterpaksaan, bukan pilihan, karena ayahnya sudah membiarkannya hidup seorang diri ketika Rian masih duduk di bangku SMP. Ada alasan dan keputusan, juga sebuah kesempatan bagi Rian hingga dia menjadi seorang pria panggilan. Selain karena uangnya yang cukup mudah untuk didapatkan, dia tidak perlu lagi bersusah payah bekerja seharian dan menunggu tanggal gajian.


Seiring berjalannya waktu, Ahmad dan Rian pun berteman. Mereka sering pergi bersama jika Ahmad sedang libur bekerja. Apalagi, keduanya berasal dari kota yang sama, yang menjadikan ada sebuah ikatan pertemanan erat di antara mereka.

Di tempat kerjanya, Ahmad tidak menemukan kendala apa pun. Justru, Ahmad bisa melihat banyak hal dengan berbagai macam alasan pula, tentunya. Dia menjadi orang yang cepat dalam berpikir dan bertindak, juga sangat hati-hati dalam mengambil keputusan. Ahmad bisa dengan mudah membaca karakter seseorang hanya dengan melihat sepintas, bertemu sekali, atau hanya mengobrol beberapa saat saja. Selain bertemu dengan para tamu hotelnya, dia juga sangat mengenal banyak pribadi orang-orang yang ada di tempat kerjanya. Hingga setahun berlalu Ahmad bekerja di hotel itu dan memutuskan untuk mengundurkan diri (resign). Selain karena gaji yang hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan dia sendiri dan untuk sekadar membantu uang jajan anaknya, dia merasa bahwa jika terus-menerus bekerja di sana, hal itu hanya akan membuat kehidupannya seperti itu saja, tidak ada tantangan. Dia membutuhkan suatu pekerjaan yang memacu adrenalin.

Setelah keluar dari pekerjaan itu, Ahmad mulai menerapkan bagaimana bermain catur bisa dipakai di kehidupan nyata yang sesungguhnya. Permainan yang dilihatnya sederhana saat diajarkan oleh ayahnya dulu, justru menjadi suatu naluri yang mengubah kehidupan Ahmad ke depannya. Ahmad masih berteman dengan Rian. Dia tertarik dengan apa yang pernah dikatakan Rian, "Percuma punya tampang cakep kalau tidak jadi uang." Ya, perjalanan Ahmad yang baru pun dimulai.

Ahmad mempunyai tampang yang cukup menarik. Terbukti saat dia dan Rian duduk di sebuah tempat kopi yang isinya orang-orang kantoran berpakaian rapi dan rambut klimis seperti baru disisir, mereka banyak dilirik. Entah karena melihat mereka aneh atau benar-benar ada yang tertarik. Di sanalah Rian mengajarkan Ahmad bagaimana cara melihat orang yang tertarik atau tidak. Bagaimana juga membedakan apakah orang tersebut hanya berniat sekadar berkenalan atau ada tujuan lebih. Harus dilihat juga apakah orang itu berduit atau hanya orang pas-pasan. Dilihat dari penampilan, jam yang dia pakai, merek sepatu, tas yang dia bawa, atau mungkin ada kunci mobil yang sengaja digantung di antara sakunya. Rian mengajarkan Ahmad semua hal dasar itu.

Namun tentu saja, jika mereka melihat seseorang dari penampilannya, mereka berdua pun harus sudah terlihat menarik juga bagi orang lain. Diajaklah Ahmad untuk berbelanja pakaian demi menunjang penampilannya. Selain Rian membantu dia dari cara berpenampilan dan menentukan calon targetnya, Rian juga membantu dia bagaimana mengobrol dengan sesederhana bercanda kecil, dan yang terpenting adalah menuntun ke arah pembicaraan di mana semuanya harus berakhir. Ya, tentu saja tujuannya adalah untuk uang. Mereka berdua harus mengaku sebagai anak kuliah yang berasal dari kota yang jauh dan tidak mempunyai sanak saudara di kota yang sama. Semuanya harus dimulai dari latar belakang yang sedemikian rumit. Jangan sampai ada satu hal pun yang benar-benar jujur. Jika ada yang benar-benar tertarik, di sanalah mesin uang akan mengalir.


Ahmad pindah ke sebuah apartemen milik Rian yang berada di kawasan elite. Tidak murah, memang. Namun, dengan kelihaian Rian, Ahmad bisa merasakan bagaimana semuanya bisa dibeli dengan uang. Dan untuk mendapatkan uangnya pun tidaklah sulit. Hanya bermodalkan tampang dan penampilan yang mendukung, juga gaya bicara dan pembawaan yang meyakinkan, dengan hanya menjentikkan jari maka semuanya bisa didapatkan.


Pada suatu hari, ketika Rian pergi ke luar kota bersama seseorang, Ahmad makan di suatu tempat makanan cepat saji langganannya. Ketika dia sedang makan, ada seseorang yang menghampirinya untuk berkenalan. Untuk pertama kalinya bagi Ahmad berkenalan dan bertukar PIN BB, karena pada saat itu HP BlackBerry masih banyak digunakan orang. Ternyata, orang itu adalah seorang karyawan bank ternama yang tidak jauh dari apartemen Ahmad. Statusnya sudah memiliki keluarga. Di sanalah Ahmad mulai menerapkan strategi bermain catur untuk kehidupan nyatanya.


Kehidupan Ahmad yang baru pun dimulai

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar kamu disini!👇✌️😁