Masa remaja Ahmad dihabiskan dalam perjalanan panjang tanpa arah, hingga langkahnya kerap kehilangan kendali. Di tengah badai pencarian jati diri, dia bertemu banyak orang yang perlahan menempa karakternya hingga menjadi seperti sekarang. Namun, sejauh apa pun Ahmad melangkah, dia sebenarnya hanya mendambakan satu hal: kasih sayang.
Memasuki masa SMP dan SMA, kenakalan Ahmad semakin menjadi-jadi. Pola hidup yang nomaden—berpindah dari satu rumah saudara ke rumah saudara lainnya—membentuk Ahmad menjadi pribadi yang skeptis. Baginya, kebenaran tak lagi tunggal, melainkan sepaket pilihan yang membingungkan. Sayangnya, Ahmad belum menemukan cara agar jeritan lewat kenakalannya itu bisa dimengerti oleh orang dewasa. Di mata mereka, Ahmad hanyalah anak nakal. Titik.
Hingga akhirnya, berbekal selembar ijazah kelulusan yang disiapkan oleh ayahnya sendiri di rumah, Ahmad membulatkan tekad. Dia harus pergi, meninggalkan semua tempat yang selama ini dipaksakan untuk disebut sebagai "keluarga".
Saat itu, usia Ahmad bahkan belum genap 17 tahun. Dia nekat merantau ke kota besar demi mencari nafkah sendiri. Semua cita-cita masa kecilnya telah dia kubur dalam-dalam. Ahmad mengawali hidup barunya sebagai buruh di sebuah toko roti kecil dekat alun-alun kota. Gaji yang minim membuat dia harus memutar otak; upah itu hanya cukup untuk menyewa kamar kos sempit dan mengganjal perutnya sendiri.
Di tempat kerja itulah Ahmad mengenal Hani, gadis seumuran yang menarik perhatiannya. Selain parasnya yang manis, Hani adalah sosok yang sangat berbakti. Sebagian besar upahnya yang tak seberapa selalu dikirimkan untuk membantu ekonomi keluarganya—kontras dengan Ahmad yang hidup sebatang kara dan hanya memikirkan isi perut sendiri. Kekaguman Ahmad pada Hani perlahan berubah menjadi cinta, hingga mereka memutuskan berpacaran.
Namun, darah muda kerap kali terlalu berapi-api. Diikat oleh cinta dan hasrat yang melampaui kedewasaan usianya, kejutan itu pun datang: Hani hamil.
Dihantui rasa bimbang dan tak siap, Ahmad tetap memilih bertanggung jawab. Dia menikahi Hani dalam sebuah prosesi sederhana yang hanya disaksikan oleh keluarga inti sang istri. Ahmad memilih menutup rapat kabar ini dari keluarganya sendiri. Hubungan yang dingin serta trauma atas perlakuan sang ayah di masa lalu membuatnya terlalu takut untuk bersuara.
Namun, ego masa mudanya harus dikesampingkan. Fokus Ahmad kini telah bergeser; ada nyawa tak berdosa yang sebentar lagi lahir ke dunia. Mereka pun memulai hidup baru di sebuah kontrakan petak yang bersahaja.
Ahmad dipaksa dewasa oleh keadaan, bahkan sebelum dia sempat memahami arti kedewasaan itu sendiri. Tiba-tiba dia menjadi suami, tiba-tiba dia memikul beban yang teramat berat, tanpa ada satu pun tempat bersandar atau teman berbagi cerita. Nasi telah menjadi bubur, dan Ahmad harus menelan bubur itu sendirian tanpa uluran tangan keluarganya.
Sebelum genap berusia 18 tahun, Ahmad resmi menjadi ayah. Seorang bayi laki-laki lahir dan diberi nama Angkasa. Bocah kecil itu hadir di saat mental dan ekonomi Ahmad masih tertatih mencari bentuk. Namun, seluruh cinta Ahmad tumpah untuk putranya. Dia belajar dan berdarah-darah demi menjadi figur ayah yang bertanggung jawab. Meski Angkasa lahir dari ketidaksengajaan, Ahmad tahu hidupnya bukan lagi milik sendiri. Ada jiwa yang harus dia lindungi, meski dirinya sendiri sebenarnya masih rapuh dan butuh didekap.
Hari-hari Ahmad berjalan monoton namun penuh arti: bekerja dari pagi hingga petang, lalu pulang untuk membantu Hani mengurus bayi mereka. Sederhana, tetapi Ahmad bahagia. Kehadiran Angkasa merenggut masa mudanya, memaksanya matang karena tuntutan situasi. Tanpa celah untuk memilih atau mengeluh, Ahmad mencoba menjalani takdirnya dengan sukacita.
Setahun berlalu, mereka merayakan ulang tahun pertama Angkasa. Sebuah perayaan kecil-kecilan digelar dengan mengundang tetangga sekitar kontrakan. Ahmad ingin memberikan memori terbaik untuk anaknya. Meski Angkasa belum paham arti tiup lilin, Ahmad berbisik dalam hati, berjanji untuk selalu hadir di setiap ulang tahun putranya kelak. Di sanalah Ahmad mengecap arti kebahagiaan yang sesungguhnya—bahagia saat bisa memberi dan menyayangi dengan tulus, walau lewat cara-cara yang paling sederhana.
Saat menginjak usia 19 tahun, Ahmad melewatkan momen Idulfitri pertamanya tanpa pulang ke rumah orang tua. Dia memilih ikut bersama keluarga besar Hani ke luar kota. Ada hangat yang menjalar karena memiliki keluarga baru, namun ada perih yang menyelinap saat mengingat rumah asalnya.
Beban remaja 19 tahun itu kian hari kian mencekik. Menjadi suami dan ayah dengan pekerjaan yang pas-pasan, di saat dirinya sendiri masih mendambakan figur seorang ayah yang mengayomi. Seolah penderitaannya belum lengkap, di tengah badai batin itu, Ahmad mendapati Hani berselingkuh.
Bukannya mengamuk, Ahmad justru berkaca pada kemiskinannya. Dia sadar, apa yang dicari Hani mungkin tak mampu dia penuhi. Dia paham betul bahwa cinta saja tidak cukup untuk memberi makan sebuah keluarga ketika ekonomi menjadi tolok ukurnya. Dengan lapang dada yang dipaksakan, Ahmad merelakan perpisahan itu. Angkasa pun dibawa pergi oleh Hani bersama pria barunya.
Kecewa dan runtuh, Ahmad merasa semua perjuangannya selama ini sia-sia. Namun itulah hidup; sering kali dia yang mati-matian memperjuangkan, harus kalah oleh dia yang pandai menabur harapan. Ironisnya, setahun kemudian Ahmad mendengar kabar bahwa pernikahan baru Hani pun berujung pada perceraian.
Kembali sendiri di usia yang masih sangat muda, Ahmad membiarkan dirinya hanyut dalam arus kehidupan yang gersang akan kasih sayang. Sesekali, dia memaksakan diri pulang ke rumah orang tuanya. Di dinding kamarnya yang sepi, dia menempelkan selembar foto dirinya bersama Angkasa. Foto yang dicetak dengan tinta murah dan kertas seadanya itu menjadi satu-satunya penawar rindu yang retak.
Ahmad menyimpan mimpi besar untuk mengenalkan Angkasa pada keluarga besarnya. Namun, dia membentur dinding buntu. Angkasa kini diasuh oleh kakek dan nenek dari pihak Hani. Jangankan membawa pulang, untuk sekadar menjenguk pun Ahmad harus mengemis waktu dan persetujuan mantan mertuanya.
Dan belati paling tajam yang menusuk dada Ahmad adalah ketika Angkasa, darah dagingnya sendiri, memanggilnya dengan sebutan "Om". Entah cerita apa yang dijejalkan ke kepala bocah itu, Ahmad hanya bisa tersenyum getir dan menerimanya. Dia rela dianggap orang asing asalkan tidak kehilangan hak untuk melihat anaknya tumbuh. Mungkin karena nafkah yang dia beri tak lagi penuh, atau mungkin, memang begitulah takdir menghukumnya.
Dari luar, hubungan Ahmad dan keluarganya tampak adem ayem. Tetangga melihat mereka sebagai potret keluarga harmonis, apalagi sang ayah adalah seorang guru dihormati. Namun di dalam rumah itu, Ahmad adalah orang asing. Hubungannya dengan orang tua begitu dingin dan berjarak. Ada sekat tebal yang membuat lidahnya kelu setiap kali ingin menumpahkan isi hatinya pada sang ayah. Sekat misterius yang bahkan Ahmad sendiri tidak tahu apa namanya.
Meskipun kehadiran Angkasa bermula dari ketidaksengajaan, Ahmad tidak pernah menyesali kelahiran putranya. Dia tetap mencintai Angkasa dengan seluruh sisa-sisa jiwanya. Karena pada akhirnya Ahmad sadar, "Anak Yang Tak Diharapkan" dalam silsilah keluarga itu bukanlah Angkasa, melainkan dirinya sendiri.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Komentar kamu disini!👇✌️😁