Masa remaja Ahmad dihabiskan dengan perjalanan panjang dengan arah dan tujuan yang berlawanan hingga menjadi tidak karuan.
Di tengah pencarian jati diri yang begitu bergelombang, Ahmad bertemu dengan banyak orang yang membentuk jati dirinya hingga menjadi seperti sekarang.
Tapi sejauh apa pun dia berjalan, dia hanya ingin satu hal, yaitu kasih sayang.
***
Pada masa SMP hingga SMA, kenakalan Ahmad semakin menjadi. Apalagi berpindah-pindah tempat tinggal dari satu rumah saudara ke rumah saudara yang lainnya membentuk Ahmad menjadi pribadi yang tidak terbentuk dengan satu jalan dan kebenaran yang baginya kini menjadi banyak pilihan. Tapi sejauh itu Ahmad belum menemukan cara agar kenakalannya dimengerti oleh orang dewasa di sekitarnya. Semua orang hanya melihat sisi kenakalan dirinya saja.
Hingga pada akhirnya setelah mendapat ijazah SMA yang dibuat oleh Ayahnya sendiri di rumah, Ahmad pun mulai benar-benar berani menguatkan tekadnya untuk meninggalkan semua rumah yang dia sebut sebagai keluarga itu.
Pada saat itu usia Ahmad belum 17 tahun.
Dia pergi ke kota besar untuk mencari pekerjaan agar dia mendapatkan penghasilan sendiri.
Dia sudah menghapus semua cita-citanya ketika kecil. Dia mulai bekerja di sebuah toko roti yang tidak begitu jauh dari alun-alun yang ada di kota itu. Dengan gaji yang cukup minimal pada saat itu, penghasilannya hanya cukup untuk dia tinggal di sebuah kost sederhana dan benar-benar hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan pribadinya saja.
Di tengah pengalaman pertamanya bekerja, Ahmad berkenalan dengan seorang perempuan yang seumuran dengannya bernama Hani yang kebetulan bekerja di tempat yang sama.
Perempuan itu cukup menarik perhatian Ahmad. Selain cantik, Hani juga perempuan yang sangat perhatian terhadap keluarganya. Terbukti dengan penghasilannya yang tidak seberapa tapi semuanya untuk membantu perekonomian keluarganya. Sangat berbeda dengan Ahmad yang hanya untuk memenuhi kebutuhan pribadinya saja. Hani membuat Ahmad kagum.
Hingga mereka berdua pun berpacaran.
Tapi masa muda memang begitu mempesona. Selain karena cinta, mereka mempunyai hasrat yang tidak bisa dikatakan cukup lumrah bagi orang dewasa untuk seumurannya. Hani pun hamil.
Dengan perasaan yang tidak terlalu yakin, Ahmad pun menikahi Hani dengan hanya disaksikan oleh keluarga terdekat Hani saja.
Pada saat itu Ahmad tidak ada keinginan untuk memberitahu keluarganya. Selain karena hubungan dengan keluarganya yang tidak begitu harmonis, Ahmad juga mempunyai ketakutan tersendiri. Apalagi dia sudah cukup tahu bagaimana sikap Ayah dan keluarganya sejauh ini memperlakukannya.
Tapi mau bagaimana lagi, fokus Ahmad saat itu sudah bukan hanya tentang dirinya lagi, tapi ada calon anak tidak berdosa yang sebentar lagi akan segera lahir.
Mereka berdua pun tinggal di sebuah kontrakan sederhana.
Umur Ahmad belum cukup dewasa untuk mencerna semua hal yang terjadi di dalam hidupnya. Tapi dia dipaksa untuk dewasa di umur yang belum bisa dikatakan cukup dewasa.
Tiba-tiba dia menikah dan dinanti untuk tanggung jawab yang begitu besar, tapi sayangnya tidak ada seorang pun yang bisa dia ajak bicara atas semua kejadian yang begitu nyata bahkan begitu cepat menghampiri kehidupan untuk seusia Ahmad pada saat itu.
Nasi sudah menjadi bubur. Ahmad harus menanggung beban itu sendirian. Tanpa bantuan dari siapa pun termasuk keluarganya.
Ketika usia Ahmad belum genap 18 tahun, anaknya pun lahir.
Seorang anak laki-laki yang diberi nama Angkasa itu lahir di tengah perekonomian dan kehidupan Ahmad yang masih dalam proses pembentukan pendewasaan.
Tapi Ahmad begitu menyayangi anaknya. Semuanya dia curahkan untuk anaknya itu.
Dia belajar dan berusaha untuk menjadi seorang Ayah yang cukup baik dan bertanggung jawab.
Meskipun kelahiran Angkasa tidak pernah direncanakan, tapi Ahmad menganggap bahwa kini hidupnya bukan lagi tentang dirinya. Kini ada seorang anak yang harus dia sayangi walaupun dirinya saja masih membutuhkan kasih sayang dari orang lain.
Keseharian Ahmad diisi dengan bekerja dan sepulangnya dari bekerja dia membantu Hani untuk mengurus anaknya.
Terlihat sederhana tapi begitu bahagia kehidupan Ahmad pada saat itu.
Baginya, kehadiran Angkasa merubah dia menjadi orang tua seketika dan harus dewasa karena sebuah keadaan dan tuntutan bukan keinginan. Bahkan untuk memilih pun tidak ada celah baginya.
Mau tidak mau, suka ataupun tidak, Ahmad mencoba untuk menjalaninya dengan sukacita.
Setahun berlalu.
Ahmad dan Hani merayakan ulang tahun Angkasa yang pertama. Mereka membuat acara yang cukup sederhana. Mengundang beberapa orang di sekitar kontrakannya.
Ahmad ingin membuat kesan terbaik untuk anaknya. Meskipun usia anaknya belum bisa mengerti apa itu arti ulang tahun, tapi Ahmad berjanji untuk selalu ada demi anaknya hingga nanti di ulang tahun Angkasa di setiap tahunnya.
Angga merasakan apa itu artinya bahagia ketika memberi, berbagi, dan menyayangi dengan setulus hati. Meskipun itu hanya dengan hal-hal yang sederhana.
Di usia Ahmad yang ke 19 tahun, untuk pertama kalinya dia tidak pulang ke rumah untuk merayakan Hari Raya Idul Fitri.
Dia pergi ke kota lain bersama keluarga besar Hani.
Bahagia karena bisa berkumpul bersama keluarga barunya, tapi juga sedih karena tidak bisa bertemu dengan keluarganya sendiri.
Anak usia 19 tahun harus memikul beban dan tanggung jawab sebegitu besarnya.
Dapat pekerjaan yang alakadarnya, lalu harus menjadi suami juga menjadi seorang Ayah, padahal dirinya sendiri pun masih membutuhkan figur seorang Ayah. Dan di tengah kegundahan hatinya, Ahmad menemukan Hani berselingkuh dengan orang lain.
Tapi Ahmad menyadari banyak hal dalam dirinya. Mungkin apa yang dibutuhkan oleh Hani tidak sebanding dengan apa yang diberikan oleh dirinya sebagai seorang suami. Ahmad juga menyadari bahwa untuk menjadi seorang suami dan membangun rumah tangga itu bukan sesuatu yang mudah ketika ekonomi menjadi patokannya.
Ahmad pun berpisah dengan Hani dan membiarkan Angkasa untuk dibawa oleh Ibunya bersama keluarga barunya.
Sedih dan kecewa merasuki jiwa Ahmad.
Karena dia merasa bahwa semua hal sudah dia berikan dan dia curahkan meskipun masih dalam keterbatasan. Tapi begitulah kehidupan.
Kadang yang memperjuangkan akan kalah dengan orang yang memberi harapan.
Karena setahun kemudian Ahmad mendengar kabar bahwa Hani sudah kembali bercerai dengan suami barunya.
Ahmad masih muda. Dia merelakan dan membiarkan dirinya terbawa oleh arus kehidupan yang haus akan kasih sayang yang belum dia temukan selama ini.
Sesekali dia masih pulang ke rumah orang tuanya. Membawa foto Angkasa dan dirinya yang dia tempel di dinding kamarnya.
Berharap rindunya akan sedikit terobati walau hanya memandang foto itu yang tampak berwarna tapi terpecah karena print-an yang alakadarnya.
Besar harapan Ahmad untuk mempertemukan Angkasa dengan keluarganya. Tapi dia mempunyai kebingungan dan kebuntuan. Karena tidak tahu harus memulainya dari mana.
Apalagi kini Angkasa sudah tinggal bersama Kakek dan Neneknya. Di mana untuk bertemu saja Ahmad harus mencari waktu yang tepat agar kedua mantan mertuanya itu mengizinkannya.
Dan yang paling menyedihkan bagi Ahmad adalah ketika harus dipanggil "Om" oleh anaknya sendiri.
Entah ada obrolan apa yang terjadi di antara mereka, hingga Ahmad pun dengan sukarela diperlakukan seperti itu hanya agar dia tetap bisa bertemu dengan anaknya. Mungkin karena keuangan Ahmad yang tidak seberapa hingga tidak selalu ada untuk memenuhi semua kebutuhan anaknya. Atau mungkin karena memang harus seperti itu jalannya.
Hubungan Ahmad dengan keluarganya terlihat baik-baik saja. Tapi itu tampak luarnya saja.
Mungkin orang lain melihat keluarganya begitu rukun dan penuh kebahagiaan. Apalagi Ayah Ahmad juga seorang guru yang sangat disegani seperti penglihatan Ahmad yang biasanya. Tapi pada kenyataannya hubungan Ahmad dengan orang tuanya tidaklah dekat.
Dia selalu merasa ada sebuah batas untuk mengungkapkan perasaan dan keinginannya kepada Ayahnya. Jika ditanya apa batas yang menjadi penghalang itu, Ahmad pun tidak tahu.
Meskipun kehadiran Angkasa di hidup Ahmad bukanlah sesuatu yang diharapkan, tapi Ahmad tetap menyayangi dan mencoba selalu ada untuk anaknya meskipun masih dalam proses yang seadanya.
Justru "Anak Yang Tak Diharapkan" itu bukanlah Angkasa, tapi dirinya sendiri.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Komentar kamu disini!👇✌️😁