Official Blog of Nugi Nugraha || Member of Google Corp & Blogger - Since 2011 || Copyrights 2011 - 2026 by Personal Blog & Google

Selasa, 27 Agustus 2024

Namaku (Part 3)


Hujan tidak berguna lagi untuk pohon yang sudah mati.

Aku bukan lagi manusia tanpa harapan. Aku tidak bisa terus berada dalam ruang yang sesak dan penuh dengan amarah. Aku harus melepaskan diri dari semua ini.


2014 akhir

Kini hanya kami berdua yang tinggal di rumah.

Keseharianku hanya tidur, makan, dan sesekali pergi mengunjungi makam Nenek dan Ibu.
Sedangkan Paman berkegiatan seperti biasanya.
Pergi ke kantor dan pulang hingga larut malam.
Sesekali dia baru pulang ketika pagi hari.

Aku tidak peduli.


Malam itu aku memutuskan untuk menjalankan sebuah rencana.

Tepat pada hari Sabtu pukul 9 malam, seperti biasa dia akan menghabiskan waktunya di luar rumah dan akan pulang pada keesokan harinya. Terdengar suara mobil Paman menyala, mengisyaratkan bahwa dia sudah siap untuk berangkat.
Kemudian aku mengikutinya dengan sepeda motor.

Setelah berkendara sekitar 30 menit, akhirnya dia sampai di sebuah diskotik. Ya, memang di tempat seperti ini kebanyakan orang datang untuk bersenang-senang, menutupi rasa sakit hati, dan tidak sedikit pula yang berlari dari banyaknya masalah hidup. Tapi tidak denganku, justru aku akan menyelesaikan semua masalah di tempat ini.

Terlihat dia keluar dari mobilnya dan langsung masuk ke tempat itu. Aku yang dari tadi hanya mengawasinya dari motor kemudian segera mengikutinya masuk, tetapi tetap menjaga jarak agar tidak diketahui oleh Paman.

Di dalam ternyata sangat penuh dengan orang. Aku sempat kehilangan pandangan darinya. Mungkin karena kebetulan sekarang adalah malam Minggu.

**

Jadi ingat saat ulang tahun temanku dua tahun yang lalu.

Ketika kami mencoba menerobos masuk, kami ditahan oleh petugas keamanan karena memang belum cukup umur saat itu. Tapi temanku melakukan cara andalannya dengan memberi uang rokok kepada mereka. Alhasil, kami pun bisa masuk ke dalam.

**

Terlihat Paman duduk di bar bersama beberapa orang, mungkin teman-temannya. Aku terus memperhatikannya dari jarak jauh yang sesekali terhalangi oleh lalu lalang orang, tetapi tetap pandanganku tidak teralihkan darinya.

Semakin malam, semakin sesak dipenuhi oleh banyak orang yang datang ke tempat itu. Aku masih sabar menunggu saat yang tepat.

Beberapa saat kemudian dia terlihat beranjak dari tempat duduknya dan menuju ke toilet. Aku pun mengikutinya.

Namun, keadaan toilet cukup penuh dan sangat terang. Kalau aku masuk, pasti dia akan menyadari kehadiranku di sana.
Aku pun menunggunya di pintu keluar toilet. Begitu dia keluar, aku langsung menusuk perutnya beberapa kali dengan pisau yang sedari tadi sudah aku simpan di kaki bagian bawah. Darah pun terlihat mengalir dari perutnya, meskipun tidak terlalu jelas karena redupnya lampu di tempat itu, tetapi cukup terasa di tanganku.

Tidak lama, ada beberapa orang berteriak karena melihat kejadian yang baru saja terjadi.

Aku pun segera pergi dan keluar mengikuti orang-orang yang mulai berhamburan meninggalkan tempat itu.

Aku segera kembali ke rumah untuk mengambil beberapa barang pribadiku dan beberapa barang berharga yang ada di sana.

Aku langsung menuju sebuah hotel untuk bersembunyi dan menenangkan diri.

Jantungku tidak berhenti berdebar kencang. Rasanya seperti mau copot.

Aku juga tidak berani menyalakan TV, apalagi keluar kamar.

Dua hari kemudian aku memutuskan untuk pergi ke luar kota.


Semua orang melakukan kesalahan, entah itu pernah atau bahkan setiap saat. Tidak mungkin ada orang yang belum pernah melakukannya.
Tetapi tidak semua orang mempunyai keberanian untuk mengakuinya.

Aku bukan orang yang berada di tengah-tengah kebenaran dan selalu berperilaku salah, tetapi jika memang aku memilih berada di jalan yang tidak baik, maka sudah pasti dan bisa dipastikan bahwa aku sudah memikirkan dan memutuskan untuk melakukan hal itu sebelumnya.

Aku tidak akan malu, apalagi takut untuk mengakui jika aku salah. Tidak akan ragu untuk meminta maaf. Aku juga tidak akan sulit untuk memaafkan.

Namun memang ada kalanya tidak semua orang berhak atas permintaan maafku ataupun menerima maaf atas kesalahan yang mereka lakukan.
Karena ada beberapa hal yang sebenarnya tidak bisa diterima jika sudah melebihi batas, apalagi menyangkut dengan pilihan yang aku jalani.


2015

Aku merasakan sesuatu yang tidak pernah aku alami sebelumnya.
Ada rasa ingin cepat bertemu ketika aku jauh darinya.

Pada suatu sore aku kembali bertemu dengan Diana.
Untuk pertama kalinya aku berniat akan mengatakan sebuah kejujuran kepadanya.

Setelah selesai aku bercerita, Diana pun hanya terdiam dan seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja aku ceritakan.

Aku pun merasa khawatir karena telah memberitahu orang lain tentang apa yang sudah aku perbuat, apalagi melihat reaksi Diana yang sejak tadi hanya membisu.

Namun itu tidak berlangsung lama, karena beberapa saat kemudian dia bercerita tentang kejadian pada masa lalunya yang membuatku sedikit kaget.

Diana bercerita.

Dia mempunyai sepupu yang seumuran dengannya, ketika itu mereka kelas 1 SMP.

Mereka sering mengerjakan tugas bersama dan terkadang Diana mengajak sepupunya untuk menginap di rumahnya atau Diana yang menginap di rumah sepupunya.

Pada suatu malam, Diana menginap di rumah sepupunya, lebih tepatnya di rumah tantenya, adik dari ayah Diana.

Pada malam itu, ketika mereka sedang mengerjakan tugas, tiba-tiba listrik padam dan tantenya menyalakan beberapa lilin.
Setelah menunggu cukup lama, ternyata listrik tidak juga menyala. Akhirnya semua orang memutuskan untuk tidur karena sudah larut malam.

Namun Diana tidak langsung tidur, dia masih mengerjakan tugasnya, sedangkan sepupunya sudah terlebih dahulu tidur.

Dengan bantuan penerangan lilin yang seadanya, Diana berusaha menyelesaikan tugasnya itu hingga akhirnya dia tertidur di ruang tamu.

Tiba-tiba terasa ada hawa panas. Ternyata api sudah melahap sebagian ruangan dan menjalar ke berbagai ruangan lainnya.
Dia tidak sempat membangunkan semua orang yang ada di rumah itu karena api semakin membesar. Dia pun langsung berlari keluar rumah.

Dia selamat, tetapi tidak dengan sepupu, tantenya, dan anggota keluarga yang lain yang ada di rumah itu.
Mereka semua meninggal dalam kebakaran itu.

Ketika menceritakan itu, terlihat air mata Diana mengalir di pipinya. Terlihat juga rasa penyesalan di wajahnya. Sejenak dia terdiam, tetapi aku berusaha meyakinkan dia bahwa itu sebuah kecelakaan, berbeda dengan yang sudah aku perbuat yang jelas-jelas sengaja aku lakukan.

Kami pun melanjutkan cerita tentang masa kecil masing-masing dan beberapa hobi serta musik favorit yang kami sukai.

Untuk mengalihkan topik serius yang sedari tadi kami bahas.

Apakah kami sama-sama seorang pembunuh?


Caraku memandang dunia hingga sejauh ini sudah jauh berbeda. Kebenaran bagiku adalah apa yang aku nilai benar, dan tidak ada kesalahan yang mutlak tanpa alasan ataupun sebuah pemikiran. Sesalah apa pun perbuatan orang masih bisa diperbaiki melalui banyak cara dan berbagai upaya.

Tentang orang yang katanya paling mengerti kita, kita hanya harus melihat perlakuannya, bukan mendengarkan perkataannya. Dan semua tergantung dari sisi mana kita melihatnya.


Namanya Rangga, tahun ini umurnya 9 tahun.
Ya, aku sudah mempunyai anak hasil buah cinta antara aku dan Diana. Saat ini dia tinggal bersama kakakku.
Sedangkan yang mengetahui hal ini hanya beberapa orang saja.

2015 (9 tahun yang lalu)

Hubunganku dengan Diana cukup dekat, bahkan lebih dari dekat.

Saat itu usiaku baru 19 tahun, sedangkan Diana sudah berumur 23 tahun.

Aku sedang dalam pelarian, tidak mempunyai pekerjaan. Aku memang memiliki uang, tetapi tujuanku belum jelas akan ke mana dan harus bagaimana.

Takdir mempertemukanku dengan Diana, yang kehidupannya bisa dibilang sudah mapan dan tidak banyak masalah.
Sedangkan aku sebaliknya.
Namun cinta tidak memandang itu semua.

Kami pun menikah, meskipun tanpa restu dari orang tua Diana. Kami tetap melakukan pernikahan itu karena saat itu Diana sudah mengandung buah cinta kami.

Jadi teringat saat kakak melangsungkan acara pernikahan.

Karena tidak ada wali dari anggota keluarga ayah, maka yang berhak menjadi wali nikah kakak adalah aku.
Saat itu umurku baru 17 tahun.

Aku diberi tanggung jawab yang cukup besar, yaitu mempercayakan nasib kakakku kepada seorang laki-laki yang tidak pernah aku kenal.
Menyaksikan betapa bahagianya keluargaku untuk terakhir kalinya.

Karena setelah acara pernikahan itu kehidupanku kembali berubah, bahkan menjadi titik ketidakseimbangan dalam hidupku.

Kehilangan kakak meskipun masih bisa ditemui, tetapi karena sudah berumah tangga tentu tidak akan sama seperti saat masih sendiri.
Kemudian aku kehilangan Nenek, dan disusul kepergian Ibu karena kecerobohanku sendiri.

Kehidupanku setelah pernikahan itu berubah drastis, tanpa terkecuali Diana.

Kami tidak tinggal bersama keluarga Diana, karena kami memilih mengontrak rumah yang tidak terlalu jauh dari tempat Diana bekerja.

Keseharianku mulai sibuk dengan pekerjaan baruku. Aku belajar bertanggung jawab, dimulai dari menikahinya dan dilanjutkan dengan memenuhi kebutuhan keluarga kami, termasuk biaya persalinan nanti.
Sedangkan Diana masih tetap bekerja di tempat sebelumnya.

Dia perempuan yang selalu menghargai aku.
Perlakuannya masih sama seperti pertama kali kami bertemu.
Meskipun penghasilannya lebih besar dariku, dia tetap melaksanakan kewajibannya sebagai seorang istri dengan baik.

Aku sangat menyayanginya.
Dia seperti rumah bagiku.
Seperti tetesan hujan di tengah gurun.
Sangat lembut dalam perlakuannya.

Mungkin karena umurnya empat tahun lebih tua dariku, terlihat dari kedewasaan yang selalu dia tunjukkan.

Kehidupan kami yang sederhana tidak menjadi cobaan bagi pernikahan kami. Gajiku tidak seberapa, tempat tinggal seadanya, makanan pun sederhana.
Kehidupan remajaku berubah menjadi kehidupan yang lebih bertanggung jawab.

Hubungan kami selalu baik-baik saja.

Hingga suatu sore ketika aku sedang bekerja seperti biasa, tiba-tiba ponselku berdering.
Diana menelepon bahwa perutnya terasa sakit, pertanda akan segera melahirkan.

Di sebuah klinik yang tidak jauh dari kontrakan kami, Diana berjuang dengan nyawanya demi buah hati yang selama ini kami nantikan.

Setelah beberapa lama, terdengar suara bayi.
Tangisannya memecah keheningan hidupku.
Wajahnya seperti mentari yang menyinari kehidupanku.

Kulihat wajah mungil itu yang membuat hidupku terasa luar biasa bahagia.

Kugendong dia dengan pasti.
Kehadirannya melengkapi keluarga kecil kami.

Anak laki-laki itu kami beri nama Rangga, diambil dari bahasa Jawa yang berarti kesatria.

Semoga suatu hari nanti dia menjadi kesatria bagi orang-orang di sekitarnya, terutama untuk dirinya sendiri.

Kehidupan kami menjadi lebih lengkap dan sangat bahagia.

Aku semakin giat bekerja demi keluargaku.
Diana juga cepat beradaptasi menjadi seorang ibu.
Dia merawat Rangga dengan baik.
Rangga tumbuh sehat dan kuat.

Hari-hariku dipenuhi tangis dan tawa anak tercinta kami.

Satu tahun pun berlalu.


2016

Rangga akan merayakan ulang tahun pertamanya.
Kami sudah merencanakan pesta kecil untuknya.
Kami mengundang beberapa anak kecil di sekitar kontrakan.

Meskipun dia belum mengerti, kami ingin mengabadikan momen itu sebagai kenangan.

Pestanya tidak meriah, hanya kue kecil dengan lilin merah berbentuk angka satu.
Kami bahagia dengan sederhana, seperlunya, dan sewajarnya.

Namun semua itu tidak berlangsung lama.


Di depan rumah kontrakan kami sudah ada beberapa polisi yang bersiap menjemputku.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar kamu disini!👇✌️😁