Aku hampir tidak percaya menyaksikan betapa ngerinya pemandangan yang aku lihat di kamar Nenek.
Nenek sudah terbujur kaku dengan bersimbah darah di atas tempat tidurnya.
Paman langsung menelpon polisi.
Tidak lama kemudian, polisi pun tiba di rumah.
Tapi sudah bisa dipastikan bahwa Nenek sudah benar-benar meninggal.
Ada spekulasi kalau Nenek dibunuh oleh orang yang mencoba merampok rumah kami yang masuk melalui jendela.
Terbukti dengan hilangnya beberapa perhiasan, uang, dan beberapa barang berharga lainnya milik Nenek.
- ●
Setelah kejadian itu, pikiranku tidak pernah tenang.
Hampir setiap saat aku terus memikirkan kejadian pada malam saat Nenek meninggal. Entah itu sedang di sekolah, di jalan, apalagi jika sedang berada di rumah.
Ibu kini mencoba membuka usaha menjahit yang letaknya tidak jauh dari rumah.
Sedangkan Paman selalu sibuk dengan banyak pekerjaannya. Berangkat pagi dan pulang pada sore bahkan larut malam, tanpa terlihat sedih atau memikirkan apalagi menyesali apa yang sudah dia lakukan.
Aku mengetahui sesuatu, tapi tidak berani membicarakannya kepada Ibu, apalagi kepada orang lain.
Sekalipun aku berusaha untuk terus melupakan kejadian itu, semakin lama aku diam, semakin tidak terkendali pula rasa ingin mengungkapkan fakta yang sebenarnya.
Tapi aku tetap berusaha tenang dan terlihat baik-baik saja.
Ada hal yang menurutku sama pentingnya, yaitu sekolahku.
- ●
Tiba saatnya aku mengikuti ujian akhir sekolah.
- ●
Dua minggu berlalu.
Kini tiba saatnya mengetahui hasil kelulusan.
Pagi ini hatiku terasa tidak karuan, jantung terus berdebar, tidak bernafsu untuk sarapan, dan pikiranku sedikit kalut. Tapi aku melihat pancaran wajah Ibu yang menggambarkan betapa bahagianya dia melihat aku yang akan segera lulus sekolah.
Karena semua siswa harus didampingi oleh orang tua masing-masing, pagi ini aku pergi ke sekolah bersama Ibu dengan mengendarai motor kesayanganku pemberian Nenek saat ulang tahunku yang ke-17.
Dalam perjalanan menuju sekolah, aku sedikit mengobrol dengan Ibu. Dia bilang kalau aku boleh memilih tempat kuliah yang aku mau. Katanya dia ingin aku mempunyai pendidikan yang tinggi agar nantinya mempunyai jenjang karier yang bagus.
Aku masih melihat wajah Ibu yang memancarkan kebahagiaan itu di kaca spion motor. Rasanya aku bahagia ketika melihat Ibu terus tersenyum seperti itu, aku terus memandang wajahnya melalui spion.
Dalam hati, ingin rasanya aku menceritakan apa yang selama ini aku ketahui.
Tapi aku segera menyimpan keinginan itu, karena untuk saat ini aku lebih mementingkan kebahagiaan Ibu, dan mungkin Paman juga tidak dengan sadar telah melakukan perbuatannya itu.
Tapi tidak menutup kemungkinan jika suatu hari aku akan mengungkap perbuatan yang sudah Paman lakukan.
Karena tidak sepantasnya Nenek diperlakukan seperti itu oleh anaknya sendiri.
Saking lamanya aku melamun, aku tidak fokus lagi melihat jalan, sehingga aku tidak sadar sudah beralih ke jalur sebelah kanan. Di depan ada sebuah mobil yang melaju cukup kencang, dan tabrakan pun tidak terhindarkan.
Aku tidak ingat apa-apa lagi, semuanya menjadi gelap.
- 2024.
Sore ini aku akan berjalan-jalan menyusuri pantai. Kebetulan cuacanya cukup bagus, cocok sekali untuk menikmati angin sore sambil menunggu sunset.
Setelah lumayan lelah berjalan, aku memutuskan untuk masuk ke sebuah bar yang letaknya jauh dari bibir pantai. Aku memesan bir dan menyalakan rokok yang selalu aku bawa di saku celana. Kurang lebih sama seperti kebiasaanku 10 tahun yang lalu.
Hampir setiap hari aku bersantai di bar dan pergi ke diskotik ketika malam hari.
Itu saat pertama kali aku keluar dari rumah.
Tidak terasa sudah hampir 2 jam aku duduk di sana, hari pun mulai gelap, lampu-lampu di sepanjang jalan sudah mulai menyala. Aku segera menuju kasir untuk membayar dan berjalan keluar dari bar.
Ketika melihat lampu yang terang di sepanjang jalan, seketika aku teringat kejadian dulu.
- 2014.
Aku terbangun di sebuah ruangan dengan selang infus di tangan dan selang oksigen di hidungku. Ketika melihat keadaan sekitar, ternyata ada banyak orang, termasuk kakakku dan Paman. Tapi aku tidak melihat Ibu.
Terlihat mata kakak yang sembab seperti habis menangis berjam-jam bahkan berhari-hari. Aku tahu pasti dia bukan menangisi apa yang terjadi kepadaku, tapi ada hal lain yang membuatnya lebih bersedih.
Ketika aku bertanya di mana Ibu, kakak hanya terdiam dan malah menjawab dengan air mata yang mengisyaratkan bahwa sesuatu sudah terjadi kepada Ibu.
Di situlah aku merasa bahwa hidupku tidak lagi ada artinya. Aku perlu dihukum atas apa yang sudah aku perbuat. Ini semua salahku yang menyebabkan Ibu meninggal.
Aku tidak sadarkan diri cukup lama.
Aku tidak berkesempatan untuk melihat wajah Ibu untuk terakhir kalinya selain di kaca spion, itu pun seminggu yang lalu.
Setiap hari aku hanya bisa terdiam dan tidak mampu lagi berkata apa pun, apalagi untuk menangis. Setiap saat aku hanya memandang langit-langit kamar rumah sakit. Sesekali aku memejamkan mata yang membawaku ke kejadian itu, rasanya seperti tertidur dengan mimpi buruk yang tidak pernah berakhir.
- ●
Sebulan kemudian aku keluar dari rumah sakit.
Aku langsung mengunjungi makam Ibu, tapi aku masih tetap tidak merasakan kesedihan apalagi menangis, kecuali rasa marah yang luar biasa.
- 2024.
Sebelum pulang ke rumah, aku sengaja kembali melewati pantai yang tadi sore aku lalui. Masih tetap dengan rokok di tangan yang sesekali aku hisap. Malam ini cukup dingin, aku selalu lupa membawa jaket atau baju berlengan panjang, memang kebiasaan burukku dari dulu.
Deburan ombak terdengar begitu jelas, mungkin karena semakin malam air laut sedang pasang. Terbukti kakiku basah karena ombak yang sampai ke tepi pantai.
Aku begitu menyukai pantai.
Jadi teringat ketika masih kecil.
Kami sekeluarga berlibur ke sebuah pantai yang tidak terlalu jauh dari rumah. Mungkin saat itu usiaku 5 tahun. Begitu senangnya ketika ombak datang, aku akan melompat agar tubuh kecilku tidak terbawa arus, membuat benteng dan rumah-rumahan dari pasir bersama kakakku. Ayah duduk santai di bawah payung sambil meminum air kelapa, Ibu menunjuk ke arah gulungan ombak yang datang sambil berkata, “Awas, ada ombak, jangan terlalu jauh mainnya,” sambil mengayunkan tangan menyuruh kami ke pinggir.
Terasa ada yang mengalir di pipiku, padahal aku tidak merasa sedih atau apa pun. Dokter menyebutnya hipofrenia. Padahal dulu aku tidak bisa menangis, itu sebelum aku mengikuti hipnoterapi agar bisa kembali menangis seperti orang pada umumnya.
Sedalam itukah rasa sedihku?
- ●
- 2015.
Saat itu baru seminggu tinggal di ibu kota. Tidak ada teman, apalagi keluarga sama sekali. Aku tinggal di sebuah hotel yang tidak jauh dari jantung kota, dengan berbekal uang yang lumayan banyak dari Pamanku. Hampir setiap hari aku mengunjungi sebuah kafe yang sama, untuk melupakan sedikit demi sedikit beban yang aku rasakan.
Pada suatu ketika, ada yang menyapaku dan bertanya apakah aku duduk sendirian atau sedang menunggu seseorang. Dia juga bertanya siapa namaku dan berasal dari mana.
Namaku saat itu adalah Ale, kata yang diambil dari bahasa Prancis “Aller” yang berarti pergi. Aku bekerja sebagai pelayan di sebuah restoran.
Tentu saja itu adalah sebuah kebohongan.
Sedangkan nama dia adalah Diana, diambil dari bahasa Latin yang berarti surgawi. Nama yang begitu indah.
Seorang perempuan yang baru lulus dari universitas ternama dan sudah bekerja di perusahaan besar di bidang transportasi sebagai konsultan administrasi.
Kebetulan tempat tinggalnya tidak terlalu jauh dari sana, maka dia cukup sering mampir ke kafe yang sama yang aku kunjungi.
- ●
Selama aku hidup hingga saat ini, aku belajar untuk survive alone atau bertahan hidup sendirian.
Bisa saja ada orang lain yang menghampiri atau bersamaku pada saat ini dan menganggap aku penting bagi dirinya, menyukaiku, menyayangiku, tapi di kemudian hari bisa saja aku bukan lagi siapa-siapa baginya, bahkan mungkin dia tidak ingin lagi mengenal siapa diriku.
Maka penting untuk survive alone, because in the end of the day it’s only me and myself.
- ●
Pada keesokan harinya kami selalu bertemu di tempat dan waktu yang sama.
Pertemuan kami di hari-hari selanjutnya tidak lagi kaku seperti sebelumnya. Kami mulai bercerita tentang keluarga masing-masing. Ternyata dia anak kedua dari dua bersaudara, dia mempunyai kakak seorang polisi. Bahkan banyak anggota keluarganya yang memiliki latar belakang yang sama.
Di tengah banyaknya obrolan yang kami lakukan, yang paling jujur dari semua ucapanku hanya tentang kesukaanku pada pantai dan makanan favoritku, yaitu nasi goreng masakan Ibu. Selebihnya adalah bualan semata.
Di tengah obrolan, dia menceritakan tentang kakaknya yang pernah bersekolah di tempat khusus di Jawa Barat, namanya sekolah intelijen.
Aku pun mulai tertarik dan penasaran dengan apa yang dia ceritakan.
Hampir setiap hari aku menghabiskan waktu hanya dengan duduk termenung karena belum bisa melupakan apa yang sudah terjadi dalam hidupku.
Pada hari itu aku terbangun ketika matahari sudah tepat di atas kepala. Karena semalaman aku tidak bisa tertidur.
Sudah hampir sebulan aku berpindah-pindah hotel, bukan kamar kos yang pernah aku ceritakan kepada Diana.
Ketika membuka ponsel, ternyata ada pesan masuk dari Diana. Dia menanyakan apa kegiatanku sore nanti. Aku jawab saja akan ke tempat yang sama seperti kemarin.
Pada sore harinya, kami pun bertemu lagi di tempat yang sama.
Aku mempunyai tujuan untuk bertanya lebih lanjut tentang sekolah intelijen yang pernah dia ceritakan sebelumnya.
- 2014.
Sejak kejadian itu aku hanya diam di dalam kamar dan sesekali duduk di halaman depan rumah. Selain itu, yang membuat diriku terpuruk adalah kabar bahwa aku tidak lulus sekolah, hasil ujianku gagal.
Tiga bulan berlalu.
Tubuhku sudah benar-benar pulih, cara berpikirku sudah sedikit lebih baik. Aku harus bisa memperbaiki keadaan, meskipun tidak sama seperti sedia kala, karena yang sudah terjadi tidak akan bisa diubah. Waktu tidak akan pernah kembali, maka aku harus lebih siap menghadapi banyak kemungkinan di kemudian hari.
Bukankah hidup akan terus berjalan?
Aku mulai berpikir apa yang salah dari semua ini, dan mencari cara bagaimana memperbaikinya, terutama langkah apa yang akan aku ambil selanjutnya. Aku tidak mau terus begini, hanya duduk terdiam dan merasa tidak berguna.
Ini semua berawal sejak kepergian Ayah, Nenek yang meninggal tidak wajar, hingga Ibu yang menjadi korban kecelakaan karena keteledoranku.
Aku mencoba menerima kenyataan itu. Tidak ada pilihan selain menerima semuanya. Terbukti aku sudah bisa hidup tanpa kesedihan berlebihan atas kepergian mereka.
Aku belajar untuk tidak takut kehilangan siapa pun yang hadir dalam hidupku, entah teman, sahabat, keluarga, atau orang yang aku sayangi.
Karena aku akan lebih takut kehilangan diriku sendiri hanya karena terus memikirkan masa lalu.
Jika aku kehilangan diriku, aku akan kehilangan hidup, jati diri, dan masa depanku.
Aku harus melakukan sesuatu.
Pada suatu malam, aku meyakinkan diri bahwa aku harus meminta pertanggungjawaban dari Paman. Dia adalah orang yang harus disalahkan atas semua yang terjadi.
Dia meminta maaf dengan sungguh-sungguh, bahkan berjanji akan menyerahkan diri ke polisi.
Terlihat air mata mengalir di pipinya. Tapi aku tetap tidak bisa menerima kata maafnya yang begitu mudah dia ucapkan. Dia bahkan bersujud di kakiku agar dimaafkan. Aku memang memaafkannya, tapi aku punya rencana lain yang sudah kupikirkan matang.
Aku memberikan secarik kertas berisi nomor rekening pribadiku yang baru dibuat beberapa hari lalu. Di sana juga tertulis sejumlah uang yang harus dia berikan.
Belakangan diketahui alasan dia melakukan hal keji itu kepada Nenek.
Hanya karena Nenek menolak menandatangani surat wasiat yang berisi bahwa seluruh harta harus diberikan kepadanya.
Pada suatu malam, Paman datang dan memberikan slip transfer. Nominalnya melebihi jumlah yang aku minta. Dia juga meminta agar aku tidak mengadukan kejadian itu kepada siapa pun, apalagi polisi.
Benar saja, dia akan mengingkari janjinya.
Pantas saja dia memberikan uang lebih banyak.
Dia tidak benar-benar tulus meminta maaf.
Nyawa harus dibayar dengan nyawa.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Komentar kamu disini!👇✌️😁