Ketika manusia mengetahui hal yang dapat menghancurkan mentalnya, tidak sedikit dari mereka yang malah menyerah dan berhenti menjalani hidup. Namun, tidak bagi mereka yang sudah terbiasa bertemu dengan badai kehidupan, entah bersama seseorang ataupun sendirian.
Faktanya, ia sudah membiasakan diri dengan gelombang yang pasti akan menerpa setiap manusia. Tidak ada celah dan kesempatan untuk menghindar, apalagi berlari; selain tetap berdiri hingga badai itu berlalu. Karena tugas manusia bukanlah menyelesaikan atau menghindar, melainkan hanya bertahan dan kembali berjalan.
Setelah menunggu cukup lama di lobi, akhirnya seorang pria berkemeja putih yang dibalut jas hitam sambil menjinjing tas laptop menghampiri Cindy. Dia adalah Andika, pria yang Cindy kenal tempo hari di tempat karaoke tempatnya bekerja.
Andika hanyalah seorang pria yang sedang berusaha mengikuti kebiasaan rekan kantor sebayanya jika ada kegiatan ke luar kota. Dia bukanlah pria yang kesepian, apalagi pendiam; terlebih ia sudah menjalani lima tahun bahtera rumah tangga. Andika benar-benar sedang menikmati hasil kerja kerasnya untuk mencoba hal-hal baru yang belum pernah dilakukan sebelumnya. Salah satunya adalah membeli jasa seperti yang Cindy tawarkan.
Bagi Andika, ini adalah hal baru, tetapi tidak bagi Cindy. Keluar-masuk hotel bagi Cindy bukanlah sesuatu yang asing. Bertemu dengan orang-orang seperti Andika pun bukan kali pertama. Tidak terhitung berapa banyak pria yang Cindy temui dalam situasi dan kondisi yang hampir sama. Tentu saja, Cindy sudah paham harus memperlakukan pria yang mulai mengajaknya masuk ke kamar tipe deluxe di lantai lima itu.
Terpampang jelas nama Andika Prayoga di kartu identitas ber-lanyard merek lokal dengan logo sebuah bank ternama.
Keesokan paginya, hanya Andika yang terlihat berada di lantai dua untuk sarapan, sedangkan Cindy masih membaringkan tubuh di atas kasur king size yang entah sudah dipakai berapa ratus orang sebelumnya.
Cindy terbangun karena iPhone 13—pemberian salah satu kepala dinas PU beberapa bulan lalu—berdering. Aplikasi WhatsApp-nya dibuka, dan ia menekan tombol call back. Tertulis nama “Anakku 1”.
Azka adalah anak pertama Cindy hasil pernikahannya dengan pria keturunan Tionghoa 18 tahun lalu. Mereka bercerai karena keluarga mantan suaminya tidak mengakui keberadaan Cindy dan Azka. Akhirnya, Cindy harus berjuang sendiri membesarkan anak laki-lakinya.
Delapan belas tahun yang lalu, Cindy pernah bekerja sebagai pembantu rumah tangga bersama saudaranya. Saat itu ia baru berusia 16 tahun. Kehidupan di kampung bukanlah hal yang menarik bagi seorang gadis yang putus sekolah karena kedua orang tuanya sudah meninggal saat ia masih belia. Cindy dituntut membantu kehidupan ketiga adiknya yang masih bersekolah.
Berawal dari keinginan untuk membantu perekonomian keluarga, ia malah bertemu dengan anak majikan yang seumuran. Tentu saja, pada usia itu bukanlah cinta yang mereka rasakan. Sekalipun sumpah dan janji terucap, pada kenyataannya hanya hasrat yang menghancurkan segalanya bagi Cindy.
Bagi si anak majikan, itu bukanlah sebuah kehancuran, melainkan sebatas pengalaman buruk yang tidak akan berdampak apa pun bagi kehidupan ke depannya. Sementara Cindy hanya bisa menangis dan didera penyesalan tiada arti. Meskipun mendapat uang pesangon sekaligus “uang tutup mulut” untuk biaya persalinan, semua itu hanya sementara.
Cindy menekan enam angka PIN m-banking di ponselnya, lalu mengirim bukti transfer kepada Azka. Ibu dan anak itu sedang berjuang bersama demi masa depan yang lebih baik. Cindy dengan segala usahanya mencari biaya kuliah Azka, sedangkan Azka berjuang tekun belajar, berharap mendapatkan pekerjaan yang lebih baik dibanding Cindy—ibu yang selalu menyayanginya, yang berjuang tanpa peduli norma yang ada. Karena bagi Cindy, anak adalah segalanya.
Sekitar pukul sembilan, Cindy selesai mandi, kemudian terdengar suara pintu dibuka dari luar. Andika menghampiri Cindy yang sedang sibuk menata jilbabnya. Tentu saja Cindy sudah ahli dalam berkamuflase; penampilannya bisa menipu siapa saja yang melihatnya.
Seperti belum kenyang dengan sarapan, Andika masih kelaparan ketika melihat Cindy dengan penampilan barunya. Ia merangkul Cindy seraya berkata bahwa nanti akan ditambah uang overtime-nya. Cindy pun tersenyum sambil mengangguk.
Di antara banyak aturan yang Tuhan tulis dalam berbagai kitab-Nya, selain harus berdoa dan bersabar, Dia tidak menulis bagaimana cara bertahan menghadapi cobaan yang sebenarnya Dia sendiri yang memberikannya.
Kepulangan Cindy dengan perut yang membesar tentu saja menjadi buah bibir tetangga di kampungnya. Apalagi usianya belum genap 17 tahun kala itu. Selain mempermalukan keluarga, ia juga tidak memiliki harapan untuk melanjutkan hidup. Ia merasa nasibnya sudah berakhir. Mental Cindy benar-benar hancur.
Selain merasakan perutnya yang semakin hari semakin membesar, hari-hari Cindy hanya diisi dengan penyesalan yang mendalam. Kesehariannya seakan tidak pernah bertemu dengan indahnya mentari lagi. Mimpi-mimpinya yang baru ditulis sudah terhapus begitu saja. Jangankan bermimpi, mempunyai harapan untuk melanjutkan hidup pun sudah tidak ada. Seandainya waktu bisa diulang, ia tidak akan pernah menyentuh rasa penasaran, apalagi termakan janji seorang remaja yang baru ia kenal beberapa minggu itu. Tapi apa daya, semua sudah terjadi.
Memasuki usia kehamilan lima bulan, Cindy dibawa neneknya ke klinik yang cukup jauh dari rumah untuk menghindari gunjingan tetangga yang semakin hari semakin memojokkan—seakan-akan mereka adalah orang tersuci yang tidak pernah melakukan kesalahan seumur hidupnya.
Di klinik itu, kebetulan ada alat USG yang cukup baik. Ketika pemeriksaan berlangsung, air mata Cindy tidak berhenti mengalir. Selain masih diselimuti kabut penyesalan, ia juga tidak bisa melupakan pria yang telah ia beri harga dirinya.
Ketika dokter membacakan hasil pemeriksaan, seketika wajah murung Cindy berubah seolah ada cahaya kembali menyinari dunianya. Calon anaknya berjenis kelamin laki-laki dan dalam keadaan sehat. Saat Cindy melihat wajah mungil di kertas termal hasil USG itu, harapan untuk bertahan hidup kembali tercipta. Itu semua karena ia bisa menerima kenyataan bahwa ada nyawa tidak berdosa yang harus ia perjuangkan.
Meskipun berjuang sendiri tanpa pria yang pernah membuatnya terpuruk, dengan memaafkan diri sendiri dan menerima keadaan terburuk dalam hidupnya, Cindy bisa kembali bangkit dan lebih siap untuk berjalan lagi.
Ketika Cindy baru memejamkan mata sebentar, tiba-tiba “Ayah Kalbar” menelpon. Ketika Cindy menjawab panggilan itu, ia diminta datang ke sebuah hotel terbaik yang tidak jauh dari gedung dengan lambang sate di atasnya.
Cindy harus berjuang demi mendapatkan uang untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Komentar kamu disini!👇✌️😁