Official Blog of Nugi Nugraha || Member of Google Corp & Blogger - Since 2011 || Copyrights 2011 - 2017 by Personal Blog & Google

Rabu, 10 Februari 2016

Perjalanan Hidupku Di Negeri Paman Sam 1

Di file-ku dengan judul Pengalaman Hidup Di Negeri Paman Sam, Amerika >correct to blog jadi< Pengalaman Hidup di Amerika (2016)

*
Setiap orang berhak mempunyai cita-cita setinggi langit. Siapa pun dan bagaimana pun keadaan dia, cita-cita tetaplah harus dapat dicapai. Meskipun cobaan akan selalu menghampiri, asalkan cita-citanya kuat, pasti akan tercapai.


Ini cerita ku yang hanya aku tulis di laptop ku sejak keberadaan ku di kota kecil namun indah ini. Sudah beberapa bulan aku meninggalkan Negara termaju di dunia. Ya, Amerika. Tanpa pekerjaan atau pun teman. Aku pergi dari sana karena aku merasa bahwa bukan ini yang sebenarnya aku inginkan.


Aku berasal dari Negara republik, yang kini semakin banyak saja masalah disana. Indonesia tercinta. Aku masih ingat saat pertama kali belajar lagu Indonesia Raya di bangku sekolah dasar. “Hiduplah Indonesia Raya”.


Ini memang keinginan ku untuk pergi keluar dari titik aman kehidupan ku. Mencoba hal-hal baru, demi menambah pengalaman dalam kehidupan ini. Karena aku percaya, bahwa setiap nasib masih bisa dirubah.


*

6 tahun yang lalu, akhirnya untuk pertama kalinya aku mendapat lotre green card (Program DV Lottre). Beruntung sekali aku, karena dari setiap periode aku selalu ikut mendaftar, aku tidak sendirian, bersama salah seorang teman ku sewaktu masih di bangku kuliah kalau ikut lotre itu. Namanya Rudi. Dia belum beruntung mungkin, meskipun setiap tahun ikut mendaftar, tapi keberuntungan belum berpihak padanya. Karena yang saat itu adalah aku. Padahal saat itu aku baru ikut program itu ke dua kalinya.
Wajar saja, karena 1:1000 orang di seluruh dunia yang mendapatkan kesempatan untuk tinggal tetap di Negara Paman Sam itu.



Kenapa aku memilih jalur green card, karena aku pikir tidak perlu banyak dana yang harus aku keluarkan untuk mengurus visa/ izin tetap tinggal. Hanya perlu registrasi dengan gratis dan menunggu selama 7 bulan untuk mendapat kabar/pengumuman apakah akan mendapat kesempatan itu atau tidak.

Dari awal bulan Oktober dan pemberitahuan tahun berikutnya tepatnya bulan Mei.


*

Setelah mengurus semua persyaratan, termasuk visa yang memang langsung diurus oleh ku sendiri, dengan pulang pergi Kedubes AS di Jakarta. Sekitar 6 bulan, tepat pada bulan November, semua persyaratan sudah siap. Terutama apartemen yang sudah aku sewa di daerah Los Angeles sebelum keberangkatan. Dan yang paling penting aku mempersiapkan mental, juga tidak lupa mencari info sebanyak-banyaknya tentang Negara yang akan aku tempati, Amerika.


Dengan di jemput oleh bus travel khusus angkutan bandara, diantar oleh ibu dan adik perempuan ku yang kini duduk di bangku SMA. Aku teringat, saat itu dia baru masuk SD kelas satu, sedangkan aku sudah kelas 5. Sambil berjalan menuntunnya berangkat ke sekolah, rasanya aku merindukan saat itu.
Aku juga diantar teman ku, Rudi.

Pagi itu kami langsung menuju bandara internasional terbesar di Negara ku, yaitu bandara Soekarno Hatta. 
Tidak lebih dari 3 jam kami sampai di bandara, terminal 1 tepatnya. Tidak perlu untuk cek in lagi, karena satu hari sebelum keberangkatan aku memang sengaja langsung mendatangi kantor tempat penjulan tiket pesawatnya. Jadual keberangkatan masih sekitar 2 jam lagi. Karena jadual masih lama, kami memutuskan untuk makan dulu. 


Sambil ngobrol ngaler-ngidul (Sunda mode on), apalagi aku akan meninggalkan Negara tercinta ini lumayan cukup lama. Aku juga harus meninggalkan ibu dan adik ku yang cukup lama. Aku tidak terlalu khawatir tentang biaya untuk kehidupan mereka, tapi masalah kesehatan ibu yang kadang-kadang drop. Kebetulan saat itu dia baru sembuh dari sakit typusnya.
Aku juga tidak henti-hentinya meminta do’a restu pada ibu. Juga berpesan pada adik ku agar senantiasa menjaga ibu.


Dan tibalah saatnya aku berpisah dengan mereka, rasanya sedih sekali saat itu. 
Aku memeluk ibu dengan erat, juga adik ku. “Jaga diri baik-baik ya nak", oh so sad.

*

Setelah sekian jam berada diatas awan, sampailah aku di bandara yang begitu mewah. Bandara yang terletak di kota Los Angeles, California. Sebelumnya transit di bandara Changi, Singapura. (tidak ingat pesawat jenis apa waktu itu, tapi yang pasti jenis super ekonomi). Karena orang dari kedubes pikir itu mungkin sudah yang terbaik.


Ada pengalaman yang lumayan menarik ketika berada di pesawat saat transit di Bandara Changi.


Ketika masuk pesawat, aku duduk bersebelahan dengan seorang wanita yang aku perkirakan usianya sekitar 40 tahun.
Terlihat dari penampilannya, sepertinya dia orang yang penting, dan sudah pasti kalau terbang ke berbagai negara adalah kebiasaan dia.
Aku akui, kalau naik pesawat aku juga sering, tapi hanya domestik saja, tidak seperti saat ini, menuju ke negara yang wah sekali, dimana setiap orang ingin mengunjunginya.


Dengan polosnya diriku, aku mencoba memperkenalkan diri. "Saya Ryan dari Indonesia". Dengan senyum ramah, dia menyambut sapaan ku. "Saya Anne dari Virginia, Amerika".  Kebetulan sekali, dia adalah orang pribumi dari Negara yang aku tinggali.


Bahasa Inggris ku sangat fasih kalau hanya sekedar bertegur sapa.
Setelah memperkenalkan diri, barulah aku berani bertanya tentang pekerjaanya. Tanpa ragu, dia pun menjawab apa yang aku tanyakan. Ternyata dia adalah seorang akuntan dari sebuah lembaga ternama di Amerika. Dan kebetulan dia baru ada yang harus dikerjakan di Singapura. Dan sekarang menuju rumahnya di Virginia.
Aku pun menjelaskan apa tujuan ku ke Negara Paman Sam itu.


*

Tibalah saatnya makan malam diatas pesawat itu. Tapi aku hanya memilih makanan ringan saja. Karena melihat dari nama menunya saja aku sudah tau, tidak akan cocok dengan lidah ku.
Setelah selesai makan, aku mencoba menonton film yang bergenre action drama yang ada di monitor depan kursi ku. Mrs Anne aku memanggil dia. Dia juga ikut menonton film yang ada di layar monitor ku. Meskipun dengan gambar yang sesekali pecah karena perjalanan saat itu sedikit terganggu, sudah biasa kata pilot yang berbicara dari pengeras suara.

Dia langsung berkomentar, "itu filmnya dengan sutradara terbaik oscar tahun lalu" dan dia juga menyebutkan para pemainnya. 
Dia bilang jangan terlalu sering menonton film seperti itu, karena bisa mempengaruhi pikiran secara psikologi. Tapi aku tidak memperhatikan apa yang dia katakan lagi, karena filmnya semakin asyik untuk di tonton. Sudah mau ending.


Sepanjang perjalanan, dia selalu memperhatikan ku. Entah apa yang menarik dari aku.
Terakhir dia berpesan, kalau hidup dimana pun, apalagi di negara seperti Amerika, harus selalu siap dalam setiap kondisi, terutama mental. Karena bukan hanya akan bertemu dengan orang-orang baru, tapi akan hidup di lingkungan yang berbeda, termasuk suku, budaya dan gaya hidup yang beragam, juga agama?kepercayaan yang beragam juga. Apalagi pribumi biasanya tidak terlalu terbuka bagi para pendatang, bukan berarti tidak menerima pendatang, hanya saja tidak semua penduduk asli bersedia untuk cepat bersosialisasi dengan pendatang. Yang namanya hidup di Negeri orang, harus pandai-pandai menjaga diri, terutama dari pergaulan juga lingkungan. 


*

Karena pesawat sudah landing, semua penumpang di pesawat sangat ramai dan lumayan berisik. Tidak sedikit yang sangat sibuk dengan barang bawaannya.
Begitupun aku. Meskipun hanya ransel dan tas jinjing yang berisi computer mini ku, kebetulan beberapa barang bawaan lainnya ada di bagasi, tetap saja aku tidak mau kalah kelihatan sibuk dari penumpang lain.


Sebelum keluar pesawat, Mrs Anne memberi sebuah kartu nama. Jika suatu waktu aku butuh bantuannya, aku bisa menghubungi dia kapan pun aku mau. Dan yang membuat aku terharu saat itu, dia memelukku dan berkata, "Maybe he's like you now. This's for you". Selain kartu nama, dia juga memberikan amplop yang berwarna coklat.
"Ini apa ?" Aku  bertanya dengan ragu. "Terima saja, itu sedikit untuk uang saku kamu, karena dulu saya juga pernah seperti mu"


Aku hanya mampu mengucapkan terimakasih. Selain pepatah yang sepanjang perjalanan tadi aku dapatkan, aku juga mendapat sesuatu yang membuat aku penasaran.
 

Part 2

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Komentar anda akan memotivasi blog ini lebih cemerlang..