Official Blog of Nugi Nugraha || Member of Google Corp & Blogger - Since 2011 || Copyrights 2011 - 2017 by Personal Blog & Google

Selasa, 02 Februari 2016

Money Changer Story (part 2) Cerita Non Fiksi 2016

Part 2

Sesaimpainya di tempat penukaran uang, di depan pintu masuk tepatnya, ada panggilan masuk di telfon ku. Nomer baru. Kemudian aku angkat. Ternyata yang diujung telfon terdengar suara dengan bahasa Indonesia yang kurang lancar, setelah aku tanya siapa, dia adalah orang yang ada di hotel kemarin.
Dia bilang aku harus menunggunya, kebetulan dia sedang ada di sebrang jalan, dan memang terlihat pria yang berusia sekitar 30an. Setelah bertemu, dia menyebutkan nama, Rony, just call Ron katanya.
Aku masih belum tau kenapa aku harus menunggu dia diluar tempat penukaran uang itu. Aku juga tidak bertanya, mungkin dia kebetulan melihat aku saja dan seperti percakapan sewaktu masih di hotel, mereka butuh orang untuk menjadi penunjuk arah jalan atau apalah namanya. Meskipun sebenarnya aplikasi smartphone kini banyak yang canggih, tapi tidak sedikit juga para pendatang khususnya tamu di hotel tempatku bekerja memang sengaja menyewa orang untuk menemani mereka. Dan ini bukan pertama kalinya bagi ku.
Kemudian aku disuruh mencari taxi untuk menunggunya di sebrang jalan. Katanya temannya yang satu lagi, Martin sedang ada di dalam tempat penukaran uang itu dan akan kembali ke hotel. Aku menurut saja. Dan seketika itu juga aku langsung menyebrang jalan dan men-stop taxi.
Setelah sekitar 5 menit menunggu, akhirnya terlihat mereka berlari menuju ke arah taxi yang sudsh aku berhentikan sebelumnya. Kenapa berlari ?
Mereka bukan hanya berdua, melainkan bertiga dengan seorang yang lebih pendek dari mereka. Dan yang tambah membuat ku kaget, mereka semua memakai penutup wajah berwarna hitam. Aku masih mengenali mereka, karena pakaian yang mereka pakai masih sama dengan yang kemarin saat bertemu di hotel, kecuali seorang lagi.
Terdengar suara alarm dari dalam gedung. Dan terlihat juga beberapa orang penjaga keamanan mengejar mereka.
Yakin. Mereka baru saja merampok tempat penukaran uang terbesar di kota tempat ku tinggal. Ya Tuhan.

Kemudian mereka menyuruhku masuk taxi baru mereka menyusul. Kami bertiga di kursi belakang dan yang satu lagi di depan. Yang di depan langsung menodongkan pistol tepat di kepala supir taxi itu. Dan seketika itu juga supir langsung melajukan mobilnya dengan cepat.
Terlihat dari belakang ada 2 mobil polisi yang mengejar. Dengan sirine yang begitu keras. Dengan jelas juga semua orang yang di pinggir jalan melihat kearah taxi yang kami tumpangi.
Sekitar 300 meter kami melaju menjauh dari gedung itu, tiba-tiba saja suara pistol terdengar. Dooorrr !!! Alangkah kagetnya. Ternyata supir taxi itu di tembak. Terlalu pelan, kata yang duduk di depan. Dan dia langsung menggantikan posisi supir itu untuk mengemudi.

Aku pun tidak diam saja. Aku langsung meminta agar  diturunkan oleh mereka. Memaksa dan terus memaksa. Karena aku tidak mau terlibat dalam masalah mereka. Aku tidak mau sampai berurusan dengan lembaga hukum. Apalagi kalau sampai keluarga ku tau. Bingung sekali. Tidak tau apa yang harus aku lakukan. Loncat keluar juga tidak mungkin, karena aku duduk di tengah-tengah mereka. Meskipun begitu, aku tetap meminta mereka berhenti dan segera menurunkan ku. Tapi mereka tidak menggubris permintaan ku.
Dan semuanya gelap, setelah ada hantaman yang mendarat tepat di kepala ku.
Gelap…

*

Aku tidak tau berapa lama aku tertidur, karena yang aku ingat hanya tertidur saja waktu itu. Ketika membuka mata, aku melihat ke arah sekitar, ternyata aku masih di dalam sebuah mobil. Tapi bukan taxi yang tadi, tapi sebuah mobil sedan. Dan tangan juga kaki ku dalam keadaan terikat. Mulut ku juga di tutup rapat dengan pelester berwarna hitam. Terlihat dari kaca yang ada di depan kemudi.

Ternyata aku berada di jalan tol. Aku tidak tau tepatnya di daerah mana. Apalagi dengan mobil yang melaju sangat kencang. Mereka masih bertiga. Dan hantaman keras lagi yang aku terima. Tepat di kepala ku. Dan semuanya kembali gelap. Aku tidak ingat apa-apa lagi.

*
Seminggu sebelumnya, aku pernah bermimpi bertemu orantua juga saudara-saudara ku, malah adik perempuan ku yang masih duduk di bangku SMP. Kami membicarakan segala hal. Termasuk masa depan ku. Kata ayah, pekerjaan apapun terima dan kerjakan saja, asalkan itu tidak merugikan diri sendiri dan juga orang lain. Begitu pun ibu, pasti dia mewanti-wantikan agar aku berhati-hati dalam bergaul. Harus pandai memilih teman. Seperti bukan mimpi.

Sebulan sebelumnya, aku juga sempat pulang ke rumah. Kebetulan ada acara keluarga. Dan di rumah pun kejadiannya persis seperti di mimpi. Mungkin terbawa mimpi.

*

Aku tidak tau berapa lama aku pingsan. Ketika aku tersadar, aku berada di sebuah ruangan. Kamar hotel tepatnya. Dengan view gedung-gedung tinggi yang belum pernah aku lihat sebelumnya. Ada dimana aku ? Apa aku masih hidup ? Ya, masih hidup. Terbukti adanya seseorang yang menyapa ku dari belakang. Dia adalah Ron. Kemudian dia membuka perekat yang menempel di mulut ku. Juga pistol di tangan sebelah kirinya yang mengarah ke kepala ku.

Aku bilang padanya, kalau aku tidak mau terlibat ke dalam masalah mereka. Aku meminta mereka untuk melepaskan ku saja. Aku akan pergi begitu saja. Seolah-olah tidak pernah tau apa yang sudah terjadi. Tapi semua usaha ku percuma saja. Dia tidak menggubris. Dia juga diam saja. Malah dengan kerasnya menyuruhku berhenti berbicara. Dan memperlihatkan berita yang ada di TV tepat di samping kiri ku.
Disitu ada berita tentang perampokan sebuah Money Changer di kota Kembang. Ya, itu tempat dimana aku beberapa jam sebelumnya tepat berdiri berdiri. Di depan pintunya. Dan yang sangat membuat aku kaget dan takut, pada siaran berita itu juga terlihat jelas ada wajah ku di video yang dengan jelasnya memberhentikan taxi dan masuk seperti yang tadi aku lakukan. Dijelaskan juga bahwa aku termasuk anggota perampokan itu.
Dan Ron langsung memberi penawaran, agar aku mengikuti saja apa yang dia katakan. Jelasnya agar aku menjadi anggota mereka. Dengan imbalan bahwa aku akan mendapatkan bagian. Atau keluar berjalan begitu saja dengan tuduhan yang sudah menantiku diluar sana.
Aku hanya bisa terdiam.

Mau ikut gabung sudah pasti salah, mau keluar begitu saja juga sangat tidak mungkin. Serba salah.
Oh tidak akan serba salah. Setika aku menemukan ide. Ide yang aku pikir akan membuat semuanya membaik. Apalagi untuk hidup ku.
**

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Komentar anda akan memotivasi blog ini lebih cemerlang..