Official Blog of Nugi Nugraha || Member of Google Corp & Blogger - Since 2011 || Copyrights 2011 - 2025 by Personal Blog & Google

Sabtu, 25 Oktober 2025

Kavling (Part 4)



Hidup bukan hanya soal melewati hari demi hari dalam pola yang sama. Setiap pagi memberi kita kesempatan baru untuk menulis cerita yang berbeda. Halaman-halaman waktu tidak meminta kesempurnaan, tapi kehadiran kita yang utuh dengan kesadaran, niat baik, dan keberanian untuk hidup dengan makna. - "Writer"

**

Hari-hari Angga hanya diisi dengan menonton film, membaca, menulis di beberapa artikel unknown, sesekali dia juga menulis di blog pribadinya.

Semenjak perpisahan Angga bersama anaknya, tidak ada komunikasi lagi di antara keduanya. Mantan istrinya juga tidak pernah memberi akses kepada Azriel untuk saling memberi kabar bersama Angga, ayahnya. Kini mereka benar-benar terpisah yang entah sampai kapan semua itu akan berakhir. Meskipun ada diksi yang berkata bahwa sebuah perpisahan adalah pertemuan yang akan ditemui di kemudian hari, tapi bagi Angga sebuah perpisahan yang dia jalani bersama anaknya adalah sebuah paksaan dengan makna bahwa mengikhlaskan adalah pilihan yang dibuatnya secara sadar tanpa harus menyalahkan keadaan. 

Karena bagi Angga, puncak tertinggi dari mengikhlaskan seseorang adalah ketika dia sudah tidak lagi mempermasalahkan apa yang menjadi penyebabnya. Angga mulai memaksa dirinya untuk menjadi terbiasa dengan keadaannya, mulai menerima rasa sakitnya, dan tidak ada lagi rasa kecewa dengan harapan dan kerinduan dalam dirinya. 

Dalam proses mengikhlaskan semuanya, Angga belajar untuk melepaskan semua angan, semua keinginan, dan semua luka yang masih tersisa. Angga belajar untuk menerima apa yang terjadi dan tidak lagi mempermasalahkan semuanya.

Karena bagi Angga, dengan semua itu dia mulai merasa berjalan di tengah tangga untuk mencapai puncak tertinggi dari mengikhlaskan. Dia akan merasa bebas dari rasa sakit dan kecewa. Dia akan merasa bahwa dirinya telah melepaskan beban yang berat untuk melanjutkan hidup dengan lebih tenang dan damai. 

Meskipun demikian, Angga masih terus berusaha untuk membiasakan dirinya agar tetap terlihat baik-baik saja di depan semua tetangganya. 

Apalagi sekarang dia sudah hampir satu tahun tinggal di rumah kavling itu. Angga selalu memperhatikan kehidupan orang-orang yang ada di sana. Salah satunya adalah penghuni rumah di nomor 11D. 


Namanya Pak Rusli yang umurnya sudah hampir 50 tahun. 

Dia bekerja sebagai chef di salah satu cafe terbaik yang ada di pusat kabupaten. Orangnya memang ramah, tapi sangat tertutup dengan kehidupan pribadinya. Kabar yang Angga dapat dari para tetangga yang lain, katanya Pak Rusli berstatus duda. Sudah memiliki cucu dari kedua anaknya. Tapi bukan Angga jika keingintahuannya dan kecurigaannya tidak pernah terjawab dengan berbagai fakta hanya agar rasa penasarannya menjadi sebuah cerita tanpa menyisakan kesalahpahaman semata. 

Angga memang tidak terlalu dekat dengan Pak Rusli, tapi Angga mempunyai teman yang bisa dia manfaatkan untuk mengorek banyak informasi dengan bukti bukan hanya alakadarnya.

Sudah hampir satu tahun Angga dekat dengan Fajar anak dari rumah keluarga nomor 13D. Keduanya cukup akrab dan sering menghabiskan waktu bersama. Bermain game, mengobrol, dan sesekali pergi keluar untuk sekadar ngopi saja seperti anak muda pada umumnya. Angga memang tidak seumuran dengan Fajar, tapi Angga bisa dengan mudah untuk menyesuaikan diri dengan berbagai macam kalangan usia yang ada di kavling itu, termasuk dengan Fajar. 

Pada suatu ketika, Fajar mengajak Angga untuk ngopi di sebuah cafe yang katanya lumayan bagus. Jaraknya hanya sekitar 10 menit saja dengan mengendarai sepeda motor. Dan tibalah mereka di sebuah cafe yang menurut orang-orang adalah salah satu cafe terbaik yang ada di kabupaten itu. 

Fajar sudah sering mengunjungi tempat itu bersama teman-temannya. Bahkan beberapa kali dia juga hanya pergi seorang diri. Angga tidak terlalu mempermasalahkan hal itu. Lagi pula orang tua Fajar tidak mempedulikan anaknya mau main dan pergi ke mana pun juga dengan siapa anaknya bergaul. 

Setelah memesan kopi, keduanya mulai bermain game seperti biasanya. Sesekali mereka juga menyalakan rokok yang dihisap untuk memenuhi kenikmatan sambil meminum kopi Americano pesanan mereka. Dan setelah sekian lama bermain game, Angga melihat sosok yang tidak asing di dekat pantry yang tidak jauh dari tempat mereka duduk. Orang itu adalah Pak Rusli yang tinggal di kavling juga. Kemudian Angga pun bertanya kepada Fajar tentang Pak Rusli yang ternyata bekerja di cafe yang sedang mereka kunjungi saat itu. 


Fajar pun mulai menceritakan tentang awal perkenalannya dengan Pak Rusli. 

Saat kepindahan keluarga Fajar ke kavling itu, Pak Rusli sudah lebih dulu tinggal di sana. Katanya, dia adalah salah satu penghuni pertama yang ada di blok D. Pada saat itu Fajar masih kelas 2 SMP. Kedua orang tuanya juga masih sibuk dengan kepindahan mereka. Sedangkan Fajar yang belum mempunyai teman di sana terkadang suka bingung mau main dengan siapa. Apalagi dia juga tidak begitu akrab dengan saudara tirinya, Bima. Orang tua Fajar yang cukup sibuk, selain karena memang mereka mengelola usaha jual beli emas, kedua orang tuanya juga jarang ada di rumah yang membuat Fajar dan Bima sangat bebas untuk pergi dan pulang sesuka hati mereka.

Pada suatu hari, dia mulai disapa oleh Pak Rusli yang kebetulan hari itu adalah hari Minggu. Fajar yang pada saat itu memang masih belum mengerti, dia sangat antusias berkenalan dengan tetangga barunya itu. Diajaklah dia ke rumah Pak Rusli untuk menonton TV dan memakan cemilan. Rumah mereka yang bersebelahan membuat keduanya tidak sulit untuk sekadar saling sapa dan menjadikan semua itu kesempatan bagi Fajar untuk mengisi hari-harinya yang tanpa pengawasan kedua orang tuanya. 

Pada suatu ketika, Fajar dipanggil oleh Pak Rusli untuk datang ke rumahnya, dan itu sudah menjadi kebiasaan. Fajar tidak menaruh curiga apa pun terhadap Pak Rusli yang notabennya adalah tetangga yang menurutnya cukup baik. Apalagi Pak Rusli juga umurnya tidak beda jauh dengan kedua orang tua Fajar. Tapi saat itu menjadi kali terakhir bagi Fajar untuk menginjakkan kaki di rumah Pak Rusli. Bukan hanya menginjakkan kaki untuk terakhir kalinya, tapi hari itu adalah hari terakhir di mana mereka bertegur sapa. Karena ada kejadian yang membuat Fajar ketakutan setengah mati dibuatnya. 

Kejadiannya begitu cepat. 

Pada saat itu dia sedang menonton TV di sofa ruang tengah Pak Rusli seperti biasanya. Tapi tiba-tiba Pak Rusli tetangga baik yang menurut Fajar adalah sosok kebapakan itu melakukan hal senonoh kepada dirinya. Dia dirangkul dan dicium hingga Fajar pun berontak dan berteriak. Tapi seketika Pak Rusli meminta maaf dan mengaku bahwa dia mulai merasa nyaman dengan Fajar yang kala itu usia di antara keduanya terpaut jauh. Fajar yang pada saat itu ketakutan pun ditenangkan oleh Pak Rusli dan berjanji untuk tidak akan pernah mengulangi perbuatannya. Pak Rusli juga meminta agar Fajar tidak pernah membicarakan kejadian itu kepada siapa pun. Dan semuanya berlalu begitu saja. 

Tapi setelah kejadian itu, hubungan di antara tetangga itu menjadi renggang dan bahkan jauh seperti tidak pernah saling mengenal lagi. 

Tapi Pak Rusli tidak berhenti di situ. 

Setelah gagal dengan Fajar, dia mulai mendekati Bima. 

Entah apa yang terjadi, hingga sekarang pun Bima dan Pak Rusli masih tetap dekat dan berkali-kali Bima menginap di rumah Pak Rusli jika kedua orang tuanya sedang keluar kota. Dan Fajar tidak mempedulikan kedekatan keduanya. Lagi pula dia sangat tidak peduli dengan saudara tirinya itu. 


Setelah mendengar cerita itu, Angga hanya terdiam dan seperti tidak percaya kalau Fajar pernah mengalami hal demikian. Apalagi hingga sekarang Bima juga masih dekat dengan Pak Rusli. 

Karena yang menjadi masalah adalah Angga juga mempunyai anak yang umurnya tidak beda jauh dengan Fajar dan Bima. 

..

Keingintahuan Angga pun berlanjut. 

Dia selalu memperhatikan gerak-gerik Pak Rusli. Berangkat kerja dan pulang jam berapa. Angga juga sudah tahu hari apa saja Pak Rusli libur bekerja. Bahkan beberapa kali Angga juga melihat Bima keluar masuk rumah Pak Rusli. Bukan hanya Bima, Pak Rusli juga sering membawa orang berbeda hampir setiap hari. 

Tapi semua itu tidak menjadi masalah pribadi untuk Angga. Karena semua orang mempunyai pilihan dan konsekuensi atas pilihannya itu. 

Dan Angga juga masih tertarik dengan kehidupan para penghuni lain di kavling itu. 


Jiwa keingintahuan Angga pun semakin menjadi setelah dia mengenal banyak orang di sana. 

Salah satunya adalah penghuni yang tinggal di rumah nomor 9D.


To be continued. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar kamu disini!👇✌️😁