Official Blog of Nugi Nugraha || Member of Google Corp & Blogger - Since 2011 || Copyrights 2011 - 2025 by Personal Blog & Google

Sabtu, 18 Oktober 2025

Kavling (Part 3)



Rumah nomor 13D.


Ketika Angga baru pindah ke kavling, Pak Sidik dan Bu Sidik adalah orang yang pertama Angga kenal. Di hampir setiap perumahan entah memang sudah menjadi sebuah kebiasaan atau karena ada hal lain, karena hampir semua para istri yang tinggal di komplek perumahan sudah terbiasa dipanggil dengan nama suaminya. Begitupun Bu Sidik ini. Kedua anaknya bersekolah di sebuah SMA Negeri yang tidak jauh dari kavling tempat mereka tinggal. Keduanya anak laki-laki dan sekarang kelas 2. Angga menjadi penasaran, kenapa kedua anaknya bersekolah di tempat yang sama dan tingkatannya juga sama-sama di kelas 2. Kalau anak kembar mungkin wajar. Tapi kedua anaknya tidak ada kemiripan sama sekali. 

Bukan Angga namanya jika rasa penasarannya tidak pernah terjawab. 

Dia mulai mencari tahu dengan melakukan pendekatan kepada salah satu anak mereka yang bernama Fajar. Karena hanya Fajar-lah yang terlihat lebih mudah untuk diajak mengobrol dibanding Bima yang terlihat lebih tertutup. 

Pak Sidik dan istrinya mempunyai usaha jual beli emas di sebuah pasar. Terlihat dari penampilan Bu Sidik yang selalu memakai perhiasan yang hampir memenuhi setiap jarinya. Terlihat pula kesan glamor jika ada yang melihatnya. Oleh karenanya masih bisa dikatakan wajar karena memang usaha mereka adalah jual beli emas. Pak Sidik dan Bu Sidik, keduanya terlihat seperti pasangan yang tidak bisa terpisahkan. Angga melihatnya seperti sepasang kekasih yang baru bertemu. Ke mana-mana berdua, membersihkan rumah berdua, melakukan kegiatan di luar rumah juga berdua, dan banyak hal yang sebenarnya bisa dilakukan oleh salah satunya saja tapi mereka melakukannya berdua. 

Pandangan Angga tentang Pak Sidik dan Bu Sidik itu tidak begitu jauh dari perkiraannya selama ini. Karena ternyata Fajar menceritakan bahwa kedua orang tuanya memang baru menikah. Bahkan usia pernikahannya pun belum genap satu tahun. 


Jadi, begini....


Pada suatu ketika, ada seorang pria yang sedang membutuhkan uang untuk membawa istrinya ke rumah sakit. Karena sakitnya yang benar-benar serius, pria itu sampai harus menjual rumah dan barang-barang termasuk beberapa perhiasan hanya agar bisa mengobati sang istri. Ketika semuanya hampir terjual habis, tapi takdir berkata lain. Karena akhirnya sang istri harus meninggal karena penyakit yang dideritanya. Dan setelah kepergian istrinya, si suami hanya tinggal berdua di sebuah kontrakan bersama anaknya yang bernama Bima. 

Bima yang pada awalnya periang dan mudah untuk bergaul, tapi setelah kehilangan Ibunya dia menjadi anak yang selalu murung dan pendiam. Tidak ada lagi keceriaan dalam hari-harinya. Ayahnya Bima, Pak Sidik yang pada saat itu sudah merasa bahwa masa berkabungnya sudah cukup lama pun mulai mencari Ibu pengganti untuk anaknya, Bima. 

Pak Sidik mempunyai kebiasaan buruk, yaitu suka bermain judi. Begitu dia teringat ada sisa perhiasan sepeninggalan mendiang istrinya, dia langsung menjualnya ke sebuah pasar. Dan dia menjualnya ke tempat yang sama pada saat sebelum membawa istrinya ke rumah sakit. 

Entah memang sudah menjadi takdir karena semesta yang membawa jiwa-jiwa yang kesepian untuk dipertemukan, kedua orang yang pada awalnya hanya sebatas pembeli dan penjual pun kini saling menaruh asmara yang terjalin di antara mereka. Apalagi seorang wanita yang mempunyai usaha jual beli emas yang sekarang lebih akrab dipanggil Bu Sidik pun pada saat itu sudah hidup menyendiri bertahun-tahun karena suaminya meninggal. Karena adanya masa lalu yang sama, yaitu ditinggalkan pasangannya masing-masing, keduanya memantapkan diri dan hati untuk menjadikan hubungan keduanya di atas janji suci, yaitu sebuah pernikahan. 

Setelah keduanya melakukan pernikahan, mereka membeli rumah di sebuah perumahan kecil yang disebut kavling. Bima anak dari Pak Sidik, dan Fajar anak dari Bu Sidik pun pindah ke sekolah yang sama agar tidak jauh dari rumah mereka. Apalagi Bima dan Fajar usianya juga sama. Pak Sidik dan istrinya mempunyai harapan agar anak-anak mereka juga cepat akrab dan akur seperti saudara pada umumnya. Tapi pada kenyataannya tidak sesuai harapan. 

Bima yang melihat karakter Ibu tirinya sangat jauh berbeda dengan Ibu kandungnya. Karena Bu Sidik sangat keras dan perlakuannya berbanding terbalik dengan perlakuannya kepada Fajar. Bima semakin terlihat lebih pemurung dan menjadi anak yang pendiam setelah kepindahannya ke rumah baru itu. 

Bukan hanya Bima, Fajar-pun tidak seceria itu jika berada di rumah. Bu Sidik yang biasanya hanya memperhatikan Fajar, kini perhatiannya menjadi terpecah dan terbagi untuk suami baru dan anak tirinya. Fajar merasa bahwa dirinya tidak lagi begitu diperhatikan seperti biasanya. Fajar yang pada awalnya adalah anak yang baik dan penurut, kini dia mempunyai cara sendiri agar ruang yang tidak terisi itu menjadi terpenuhi dengan cara-caranya tersendiri. Dia mulai bergaul dengan teman-temannya untuk pergi bermain dan baru pulang tengah malam, bahkan tidak jarang juga baru pulang keesokan harinya. Fajar juga sudah jarang masuk sekolah. Pikirannya manjadi kalut karena kehilangan sosok Ibu yang raganya ada tapi hati dan pikiran juga kasih sayangnya sudah entah berada di mana. 

Fajar mulai kenal dengan penghuni baru kavling yang berada tepat di depan rumahnya, yaitu Angga. 

Fajar merasa bahwa Angga adalah orang yang cocok untuk berbagi perasaan yang pada awalnya hanya bisa dia simpan seorang diri. Fajar juga merasa bahwa Angga bisa menjadi teman yang baik tanpa melihat jarak umur di antara keduanya. Apalagi Fajar juga yakin dengan saling bertukar cerita bersama Angga akan menjadikan rasa kecewa terhadap keadaan hidupnya akan sedikit memudar. Tapi Fajar tidak tahu bahwa Angga tidaklah seperti yang dia kira. Karena Angga adalah sosok baru yang tidak mudah untuk ditebak. Karena faktanya, Angga tidaklah benar-benar menceritakan tentang pribadinya yang pedih dan menyakitkan kepada siapa pun, termasuk Fajar. 

Dari kedekatan di antara Angga dan Fajar, Angga-lah yang diuntungkan. Karena dia bisa mengetahui bagaimana cerita kehidupan masa lalu di rumah nomor 13D yang mungkin tidak akan pernah diketahui oleh penghuni kavling lainnya.


Terakhir kali Fajar bercerita.

Pak Sidik masih melakukan kebiasaan buruknya, yaitu berjudi. Hingga pada akhirnya usaha jual beli emas Bu Sidik pun bangkrut. Dan kini sepasang suami istri yang baru menikah itu mulai merintis usaha baru lagi. 

Lalu, setelah Bu Sidik mengetahui kebiasaan buruk suaminya, akankah mereka berpisah atau tetap melanjutkan hubungan pernikahannya? 


"Ketika semuanya sudah terjadi, hanya ada dua hal yang bisa kita pilih, yaitu pergi atau memaklumi.

Kalau pergi akan terasa sakit pada awalnya. Tapi ketika memilih untuk memaklumi, semua itu akan berubah menjadi lebih baik atau malah menjadi air mata yang tidak berhenti mengalir karena kekecewaan yang akan terus terjadi."


**

Otak Angga mungkin memang berantakan, tapi dia masih bisa mengorganisirkan di setiap bagian pikirannya. 


Angga pun mulai mencari tahu tentang kehidupan para penghuni lainnya yang ada di kavling itu. 


To be continued. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar kamu disini!👇✌️😁