Seorang pria yang bernama Angga Pratama Nugraha berusia 30-an bekerja sebagai housekeeping manager di sebuah hotel yang mempunyai hobi menulis untuk mendapatkan penghasilan tambahan.
Paska perceraian yang membuatnya cukup terluka dan bahkan trauma, Angga Pratama Nugraha kini hanya menghabiskan hari-harinya dengan bekerja dan menulis yang dia jadikan penghasilan tambahan atas saran dari Psikiaternya. Angga memiliki anak laki-laki yang sudah kelas 1 SMA. Umur dia dengan anaknya hanya terpaut 16 tahun. Kenakalan remaja yang membuatnya harus memikul beban sendirian atas pilihan yang salah di masa lalunya. Masa mudanya dihabiskan untuk berusaha memenuhi kebutuhan dia beserta anaknya tanpa bantuan dari orang-orang terdekatnya. Banyak ketakutan yang ada di dalam diri Angga, salah satunya adalah dia takut jika anaknya berada di jalan yang pernah dia alami di masa lalu. Oleh karena itu dia selalu berusaha untuk mendidik anaknya dengan sebaik mungkin.
Angga, dengan kehidupan yang tampak baik-baik saja. Dia tidak banyak membicarakan tentang pribadinya kepada siapa pun. Kehidupannya cukup tertutup hanya agar tetap menjaga hal-hal yang tidak diinginkan. Karena baginya, selama masalah masih bisa diselesaikan seorang diri, orang lain tidak perlu tahu apa yang sebenarnya terjadi di dalam sana.
Angga hanya tinggal berdua bersama anaknya di sebuah kontrakan sederhana. Dari sejak perceraian ketika anaknya baru berusia 3 tahun, Angga memilih hidup sendiri hanya agar lebih fokus untuk mengurus anaknya seorang diri. Bukannya dia tidak membutuhkan orang lain, tapi baginya jika harus memulai sebuah hubungan yang baru lagi selalu ada perasaan takut jika kejadian di masa lalunya terulang kembali. Berpisah karena sebuah pengkhianatan yang begitu menyakitkan bukan hal mudah untuk bisa dia terima, bahkan sang waktu pun tidak mampu untuk mengubur semua ingatan buruk di masa lalunya. Makanya dia lebih memilih untuk hidup sendirian tanpa kehadiran orang yang baru lagi, cukup dia dan anaknya saja. Bagi Angga, prioritas utamanya bukan lagi dirinya, melainkan anaknya. Ketika anaknya bahagia maka dia akan merasa jauh lebih bahagia.
Angga begitu menyayangi anaknya. Azriel Putra Nugraha nama yang Angga berikan kepada buah hatinya. Seperti pelangi yang hadir setelah hujan melanda. Seperti embun yang menyejukkan pagi diiringi hangatnya mentari. Seperti halnya lantunan firman yang membawa kedamaian untuk jiwa-jiwa yang gelisah tanpa jalan yang terarah. Azriel, bagi Angga adalah keindahan dan kesempurnaan di atas segala hal yang pernah terjadi di dalam hidupnya.
Tapi pelangi tidak selalu hadir di kala hujan sudah berakhir. Embun dan hangatnya mentari pun tidak selalu hadir di kala pagi yang kadang sengaja berkabut. Bahkan untuk sebagian orang, terkadang seindah apa pun firman menggema hanya menjadi sebuah alunan yang berlalu tanpa irama.
Seperti ketika datangnya kabar bahwa mantan istri Angga akan membawa Azriel untuk tinggal bersama keluarga barunya di luar kota.
Kini Angga ada di persimpangan kebingungan antara harus egois dengan menahan agar Azriel tetap tinggal bersamanya atau membiarkan dirinya jauh dari anak tercintanya yang tidak pernah terpisahkan selama 13 tahun.
Angga dihadapkan dengan kenyataan bahwa dia akan terpisah jauh dengan belahan jiwa dan cinta sejatinya, yaitu anaknya.
**
Setelah perpisahan Angga dengan anaknya, kini dia hanya tinggal sendiri dan menghabiskan waktu dengan bekerja dan melarikan kesedihannya dengan berbagai macam minuman dan obat-obatan.
Baginya, kini patah hati terbesar bukan lagi karena sebuah pengkhianatan, tapi karena terpaksa harus terpisah jauh dari orang yang sangat dia sayangi dan dia cintai.
Tidak ada lagi semangat untuk menjalani kehidupannya. Hingga pada akhirnya dia memutuskan untuk pergi dari kota itu dan berencana untuk pindah ke tempat yang baru untuk memulai hidup tanpa bayang-bayang anaknya.
Angga mulai resign dari pekerjaannya sebagai housekeeping manager. Dia mulai mencari rumah yang bisa dibeli dengan uang yang ada di tabungannya.
Hingga pada akhirnya dia menemukan satu perumahan kecil yang disebut kavling di sebuah daerah yang cukup jauh dari kota yang sedang dia tempati saat ini.
**
Kepindahan Angga ke sebuah perumahan yang disebut kavling itu niatnya adalah agar lebih merasa tenang dan nyaman juga untuk memulai hidup yang baru. Apalagi dia juga menyimpan kesedihan yang begitu dalam karena harus terpisah dari anaknya.
Tapi yang namanya sebuah perumahan ternyata penduduknya sangat beragam dengan berbagai macam masa lalu masing-masing dan latar belakang para penghuninya. Sudah jelas bahwa Angga bukanlah satu-satunya orang yang berniat untuk memulai hidup yang baru di tempat itu.
Apakah hidup Angga akan menjadi lebih baik?
To be continued.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Komentar kamu disini!👇✌️😁