Setelah move-on dan berusaha untuk benar-benar melepaskan, kini aku kembali dipertemukan oleh semesta dengan orang yang tidak pernah aku duga sebelumnya. Ya, aku semudah itu untuk jatuh hati dan berpindah dari hati yang satu ke hati yang lainnya. Memang niatnya untuk menjaga konsistensi itu sangat penting, tapi bukan aku namanya jika semua niat itu tidak runtuh hanya karena sebuah perasaan. Karena yang paling sulit dalam hidupku untuk saat ini hanya satu, yaitu tetap konsisten.
Kali ini aku dihadapkan dengan banyak hal yang membuatku menjadi cukup bingung. Bukan bingung karena ada sesuatu yang dipikirkan, tapi karena aku benar-benar tidak tahu harus memikirkan apa lagi. Pikiranku terlalu lurus tanpa beban, tanpa persoalan dan rasanya begitu hampa. Dan itu kalimat bingungku yang sesungguhnya. Pada kenyataannya aku selalu khawatir dengan perasaanku yang takut menjauhkanku dari mereka, dari dia dan dari orang-orang yang menganggapku begitu terlihat lurus tanpa perasaan.
Tuhan, aku ini hanya manusia biasa yang mudah sekali untuk jatuh hati. Kenapa?
Seberapa banyak luka yang tidak terlihat oleh mereka? Aku hanya pandai menyembunyikan semuanya dari orang-orang yang ada di sekitarku.
Seberapa rapuhnya hatiku ketika harus berusaha untuk terlihat baik-baik saja tanpa sebuah perasaan.
Aku terlalu pandai berbohong, bukan membohongi orang lain, tapi membohongi perasaanku sendiri. Berlagak seperti kosong, padahal yang ada dalam hatiku begitu penuh dan membuatku tidak nyaman ketika harus tetap menyimpan bahkan menyembunyikan.
Dulu aku mengira lebih mudah untuk marah ketimbang bersedih. Tapi ketika aku sudah sedewasa ini aku menjadi lupa bahwa itu dua emosi yang berbeda.
Mau marah kepada siapa, bersedih pun hanya memeluk diriku sendiri. Bercerita hanya sebatas template yang selalu aku akhiri dengan "kapan-kapan aku cerita lagi, ya".
Karena aku banyak menyimpan traumaku seorang diri.
Untuk yang kali ini mungkin bisa saja aku tetap melanjutkan perjalanan jatuh hatiku tanpa harus orang yang bersangkutan pun tahu. Tapi rasanya seperti menyiksa diri sendiri dari dalam. Mungkin akan lebih lega saat ada sebuah tamparan yang nyata di pipiku. Tapi aku takut kehilangan dia dalam artian ketika dia mengetahui perasaanku dan dia malah menjauh karena tidak pernah menyangka bahwa aku menyimpan semua perasaan itu kepadanya.
Menjauh dari seseorang demi berhenti menyakiti diri sendiri adalah tingkat tertinggi dari rasa sakit.
Di lain sisi ingin selalu dekat dengannya tapi takut menyimpan rasa yang semakin dalam, dan di lain sisi takut kehilangan tapi tidak pernah sanggup untuk benar-benar kehilangan.
Semua rasa semakin lengkap karena adanya sebuah perasaan, yaitu jatuh hati.
Tapi, tapi aku akan tetap menulis ceritaku sendiri, meskipun dengan tangan yang masih menggenggam perih.
Aku sedang berpikir tentang bagaimana caranya aku mengendalikan dari semua rasa yang ada.
Mencari cara dan langkah yang terbaik untuk ke depannya.
Tapi ketika aku pikirkan lagi, sebenarnya tidak ada yang lebih baik apalagi lebih tahu dibanding sang Maha Penentu. Dan mungkin aku akan lebih memilih untuk tetap menyadari akan pentingnya apa itu diam dan menjauh juga berpura-pura tidak pernah mengerti dengan apa yang tengah terjadi hanya agar semuanya tetap baik-baik saja seperti seharusnya. Meskipun pada kenyataannya tidaklah baik-baik saja. Lagi pula aku lebih tenang dan bahagia ketika dianggap bodoh sebagai seorang pengecut di antara yang lainnya. Karena aku memposisikan diriku di mana seharusnya berada bukan memaksakan apalagi mengharapkan banyak hal hingga mengorbankan segalanya. Apalagi hanya karena sebuah rasa.
Soal rasa, hati tak pernah berdusta.
Meski lisan berkata tidak, hati akan tetap mengakuinya walau lidah tidak pernah berbahasa, hati akan tetap mengutarakannya. Sebab, perkara hati, yang tahu hanya aku dan Tuhan-ku saja.
Aku harus tetap bahagia dengan diriku sendiri, bersama orang lain hanyalah bonus.
Tulisan ini dibuat kurang dari 30 menit.
Dari sini menunjukkan betapa tidak konsistennya aku yang bisa berubah dengan begitu cepat.
Tadi aku berniat akan menjauh dan mulai menjaga jarak dengannya. Dan kamu tahu? Belum 5 menit aku mencoba untuk meneleponnya lagi.
Oh, Tuhan!
What happened with my fucking heart?
Jatuh hati memang tidak setingkat dan serumit jatuh cinta. Tapi aku benar-benar terombang-ambing dikala jatuh hati ini melanda.
Damned it!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Komentar kamu disini!👇✌️😁