Official Blog of Nugi Nugraha || Member of Google Corp & Blogger - Since 2011 || Copyrights 2011 - 2025 by Personal Blog & Google

Sabtu, 11 Oktober 2025

Kavling (Part 2)



Banyak hal yang tidak pernah bisa diungkapkan. Beberapa orang mungkin bisa membagi ceritanya bersama orang yang mereka sayangi, sebagian orang juga mungkin bisa membagi cerita-ceritanya dengan Sang Maha Pencipta, dan tidak sedikit juga ada orang yang hanya mampu menulisnya dengan mengetik di layar komputer dan smartphone-nya karena tidak lagi menyimpan rasa percaya kepada semua hal yang ada di dunia ini selain kepada dirinya sendiri, dan orang itu adalah Angga. Angga si penghuni baru di kavling pinggiran kota. 


Setelah kepindahannya di kavling itu, hidup Angga mulai berubah. 

Babak baru hidupnya pun dimulai. 

Dia mulai mengenal beberapa orang di Blok D yang dia tempati saat ini. Dalam satu blok terdiri dari 14 rumah yang berderet saling berhadapan khas perumahan murah pada umumnya. Tidak ada yang berbeda dari segi bangunannya, hanya saja yang menjadi jauh lebih menarik bagi Angga sekarang adalah karakter dan latar belakang dari para penghuninya yang membuat dia sedikit penasaran. 

Angga menempati rumah di ujung jalan yang berdampingan dengan persawahan juga berhadapan langsung dengan rumah yang bernomor 14D. Bersebalahan dengan 3 rumah yang hanya diisi oleh pengontrak saja. Kabarnya si pemilik rumah juga mempunyai beberapa rumah di blok lain yang memang khusus untuk disewakan. 

Sedangkan rumah nomor 13D yang berada tepat di sebrangnya dihuni oleh sepasang suami istri beserta kedua orang anaknya yang masih sekolah. 

Kemudian ada rumah nomor 11D yang dihuni oleh seorang pria paruh baya yang hanya ada di malam hari saja dan sesekali terlihat di siang hari, itu pun jika tanggal merah. 

Ada rumah dengan nomor 9D yang dihuni oleh sepasang suami istri dengan satu orang anak yang masih kecil. 

Sedangkan rumah nomor 12D, 10D dan 8D diisi oleh penyewa saja. Karena memang itu adalah rumah kontrakan. Oleh karenanya orang-orang yang menempati rumah itu selalu berganti tidak ada yang menetap. 

Ada juga rumah nomor 6D yang selalu kosong. 

Rumah nomor 4D yang diisi oleh sepasang suami istri. Istrinya berjualan online, sedangkan suaminya menjadi driver bus antarkota. 

Bersebelahan dengan 2 rumah yang selalu kosong.

Berlanjut ke rumah nomor 3D yang dihuni oleh sepasang suami istri dengan satu orang anak. Istrinya pekerja kantoran, sedangkan suaminya terakhir ada kabar hanya mengurus rumah saja. 

Rumah nomor 5D yang dihuni oleh seorang wanita pensiunan yang usianya sudah tidak muda lagi. Dia tinggal seorang diri. 

Dan rumah nomor 7D dihuni oleh sepasang suami istri dengan satu orang anaknya.


**


Angga bukanlah orang yang pandai bergaul pada awalnya. Tapi setelah kepindahannya ke rumah kavling itu dia menjadi seseorang yang berbeda. 

Dia mulai kenal dengan orang-orang di sana. Tentu saja dia tidak pernah menceritakan banyak fakta tentang dirinya. Karena baginya, banyak hal yang hanya dirinya saja yang perlu tahu dan merasakannya. Dia tidak ingin ada orang lain yang mengetahui bagaimana masa lalunya. Dari keseluruhan cerita dan perjalanan hidupnya, Angga hanya membagi banyak kepalsuan yang bahkan semua itu sudah dia rancang dengan halus. Hingga tidak ada seorang pun akan sadar dengan kebohongan yang Angga lakukan. 

Pertama, Angga mengaku berkerja sebagai admin di sebuah online shop. Padahal pekerjaan utamanya adalah sebagai penulis lepas dan blogger. 

Kedua, dia mengaku belum pernah menikah. Padahal pada kenyataannya dia baru saja menjauh dari bayang-bayang anaknya dan juga masa lalunya. 

Ketiga, dia juga mengaku sudah tidak mempunyai orang tua dan bahkan tidak memiliki saudara kandung. Begitupun dengan saudara-saudara yang lainnya pun Angga tidak dekat. Dia mengaku hanya hidup sebatang kara. 

Baginya, kepindahannya ke rumah kavling itu benar-benar untuk memulai hidup yang baru. 

Meskipun sejauh ini dia merasa berhasil membuat para tetangganya percaya, tapi semua itu tidak menghapus rasa sakit karena terpaksa melepaskan dan jauh dari anaknya sendiri. 

Tapi dia tetap mempunyai keyakinan bahwa dia akan merasa lebih baik di tempat tinggal barunya sekarang. Karena bagi Angga, melepas itu seperti menguliti rasa sakit itu sendiri. Pada awalnya memang terasa perih dan bahkan meronta, namun seiring berjalannya waktu, melepas adalah proses bertumbuh untuk membentuk hati beserta perasaan agar lebih kokoh lagi.

Angga juga masih bertukar kabar dengan anaknya, Azriel. 

Dia juga menyampaikan pesan kepada anaknya agar selalu bersikap baik kepada Ibu dan Ayah sambungnya. Mereka memang jauh secara jarak, tapi itu tidak mengartikan bahwa mereka akan terpisah secara perasaan. 


"Aku tidak pergi atau menjauh, aku masih di sini untukmu. Hanya saja aku sengaja mundur untuk beberapa langkah untuk memberi banyak ruang melangkah. Aku juga tidak berhenti peduli, aku masih memperhatikanmu dari jauh. Hanya saja aku sadar ada yang lebih bisa membuat senyummu semakin indah di sana. 

Nanti bila kamu terluka, carilah aku.

Saat ini nikmati bahagiamu bersama mereka.

Aku tidak apa-apa, aku baik-baik saja.

Yang penting kamu selalu tahu, bahwa kamu adalah cinta yang tidak akan pernah tergantikan". 


**


Kini, kehidupan baru Angga pun segera dimulai. 

Dimulai di sebuah tempat yang disebut kavling. 


To be continued. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar kamu disini!👇✌️😁