Sinopsis:
Langkah yang Tak Pernah Sampai adalah kumpulan catatan tentang kehidupan, cinta, luka, kebahagiaan, dan segala keresahan yang tumbuh di antara harapan dan kenyataan.
Tentang keinginan yang tak terwujud, niat baik yang tak selalu berakhir baik, serta hal-hal yang pernah kita perjuangkan tetapi tak pernah benar-benar menjadi milik kita.
Sebab, tidak semua yang kita harapkan akan menemukan jalannya. Sebagian hanya tinggal sebagai kenangan, sementara sebagian lainnya menetap sebagai sesuatu yang tak pernah selesai.
---
Nugi Nugraha adalah penulis dari Bandung yang menulis tentang kehidupan, hubungan antarmanusia, dan berbagai hal yang tumbuh di antara harapan dan kenyataan. Melalui catatan-catatan personal, ia merekam pengalaman, pemikiran, dan perasaan yang membentuk cara pandangnya terhadap hidup. Sebab, ada hal-hal yang mungkin tak pernah sampai pada tujuannya, tetapi tetap layak untuk diceritakan.
Aku tidak tahu apakah diriku hari ini sudah benar-benar menjadi seseorang yang kuinginkan beberapa tahun lalu. Kalau ditanya apakah aku sudah berubah, jawabannya tentu saja iya. Ada banyak hal yang kini kupahami dengan cara berbeda. Ada pula hal-hal yang dahulu terasa begitu berat, tetapi sekarang bisa kuhadapi dengan lebih tenang. Meski begitu, aku tahu masih ada bagian dari diriku yang belum sampai ke tempat yang ingin kutuju.
Aku menjadi lebih dewasa, meskipun kedewasaan itu tidak sepenuhnya datang karena keinginanku sendiri. Sebagian tumbuh dari keadaan, dari perjalanan panjang yang tidak selalu mudah, dan dari berbagai hal yang harus kuhadapi tanpa banyak pilihan. Aku belajar bersabar, menerima keadaan, dan melihat sesuatu dengan pikiran yang lebih terbuka. Namun, aku juga tahu bahwa kedewasaan bukan berarti aku selalu bisa bersikap bijaksana dalam segala situasi.
Kadang-kadang, aku masih ingin diperhatikan. Aku ingin didengar ketika sedang berbicara. Ada kalanya sisi kekanak-kanakanku muncul begitu saja, bahkan ketika aku merasa sudah cukup memahami bagaimana seharusnya bersikap. Dulu mungkin aku menganggap hal-hal seperti itu sebagai kekurangan yang harus segera dihilangkan. Sekarang, aku mulai memahami bahwa menjadi dewasa bukan berarti kehilangan seluruh bagian diri yang pernah tumbuh bersamaku.
Ada banyak hal yang memenuhi pikiranku hari ini. Tentang hidup, masa depan, keluarga, hubungan dengan orang lain, juga pekerjaan yang sedang kujalani. Aku memikirkan keputusan-keputusan yang sudah kubuat dan bertanya-tanya apakah aku benar-benar yakin dengan semuanya. Bukan karena aku selalu menyesali pilihan sendiri, melainkan karena aku tahu bahwa setiap keputusan memiliki konsekuensi yang harus kuhadapi.
Aku sudah memilih jalanku sendiri. Beberapa pilihan mungkin terlihat aneh bagi orang lain, bahkan mungkin tidak mudah mereka pahami. Namun, aku punya alasan untuk mengambilnya. Ada hal-hal yang tidak bisa dijelaskan hanya dengan melihat hasil akhirnya. Sebab, orang lain mungkin hanya melihat keputusan yang kuambil, sementara aku harus menjalani seluruh proses yang membawaku sampai ke sana.
Meski begitu, aku tidak selalu yakin bahwa semua langkahku akan berakhir seperti yang kuharapkan. Ada tujuan yang terasa dekat, tetapi ternyata membutuhkan waktu lebih lama untuk dicapai. Ada pula keinginan yang perlahan harus kuterima sebagai sesuatu yang mungkin tidak akan terwujud. Aku belajar bahwa menjalani hidup bukan hanya tentang mengetahui ke mana harus pergi, tetapi juga tentang tetap berjalan ketika arah yang kupilih belum menunjukkan hasil.
Salah satu perubahan yang paling kurasakan adalah caraku menghadapi kesendirian. Aku tidak mengatakan bahwa aku selalu nyaman sendirian. Ada saat-saat ketika aku ingin berbagi cerita, membicarakan hal-hal sederhana, atau sekadar memiliki seseorang yang bisa diajak menghabiskan waktu. Namun, dibandingkan diriku yang dahulu, sekarang aku bisa menghadapi kesendirian dengan lebih tenang.
Aku tidak lagi merasa harus selalu mengisi setiap ruang kosong dalam hidupku. Ada waktu ketika kesendirian cukup menjadi bagian dari hari yang harus kujalani. Aku bisa menikmati waktuku sendiri tanpa terus-menerus bertanya mengapa tidak ada seseorang di sampingku. Walaupun begitu, keinginan untuk memiliki teman berbagi tetap ada. Bagiku, menerima kesendirian tidak berarti harus menutup kemungkinan untuk kembali dekat dengan seseorang.
Perjalananku mengajarkan bahwa tidak semua orang datang dengan ketulusan yang sama. Ada yang hadir karena memang ingin mengenal kita, ada yang memiliki kepentingannya sendiri, dan ada pula yang mungkin tidak pernah benar-benar memahami maksud baik yang kita berikan. Aku pernah melakukan sesuatu dengan niat yang menurutku baik, tetapi diterima melalui prasangka yang berbeda. Dari situ aku belajar bahwa ketulusan tidak selalu menghasilkan pemahaman yang sama di antara dua orang.
Pengalaman juga membuatku lebih berhati-hati dalam membangun hubungan. Ada keputusan dari masa lalu yang dampaknya baru benar-benar kupahami setelah bertahun-tahun berlalu. Sesuatu yang dahulu kuanggap sebagai cara melindungi diri ternyata ikut menentukan bagaimana aku memandang hubungan sampai hari ini. Aku menjadi lebih sulit memulai sesuatu yang serius, bukan semata-mata karena tidak menginginkannya, tetapi karena ada bagian dari diriku yang masih mempertimbangkan banyak hal sebelum memberi ruang kepada orang baru.
Aku tidak tahu apakah kehati-hatian itu akan selalu tinggal di dalam diriku. Aku juga tidak ingin memaksakan diri untuk segera berubah hanya karena waktu terus berjalan. Untuk saat ini, aku hanya berharap suatu hari bisa bertemu seseorang yang mampu berjalan berdampingan denganku, seseorang yang terbuka dalam berpikir, bisa diajak bertukar pandangan, dan tidak merasa harus selalu menang ketika kami memiliki pendapat yang berbeda.
Aku menyadari bahwa harapan itu mungkin tidak akan terwujud persis seperti yang kubayangkan. Namun, aku tidak merasa harus menghapusnya hanya karena kemungkinan untuk mendapatkannya tidak pasti. Ada keinginan yang boleh tetap hidup tanpa harus berubah menjadi tuntutan. Aku bisa berharap sambil tetap menjalani hidup, tanpa menjadikan terpenuhinya harapan itu sebagai satu-satunya alasan untuk merasa bahagia.
Dari keluarga, terutama dari cara ayah memperlakukanku sejak dahulu, aku juga membawa banyak hal sampai hari ini. Ketegasan yang kuterima membuatku tumbuh menjadi seseorang yang cukup tegas terhadap diri sendiri dan terhadap sesuatu yang kuanggap benar. Aku tidak mudah mengubah pendapat hanya karena orang lain mengatakan hal berbeda. Aku terbiasa mempertimbangkan sesuatu berdasarkan apa yang kupahami dan kupercaya.
Namun, aku tahu bahwa keyakinan terhadap diri sendiri juga perlu disertai kesediaan untuk belajar. Aku ingin tetap bisa mempertahankan pendapat tanpa menutup telinga terhadap pandangan orang lain. Aku ingin menjadi seseorang yang mampu berpikir lebih baik, bukan sekadar seseorang yang merasa dirinya selalu benar.
Ada hal-hal yang belum sepenuhnya selesai dalam diriku. Ada pula perasaan yang mungkin tidak mudah dijelaskan kepada orang lain, termasuk kepada orang-orang terdekat. Aku pernah ingin mengatakan kepada ayah bahwa aku membenci perlakuan-perlakuannya selama ini, tetapi pada saat yang sama aku merasa tidak punya pilihan lain selain menjalani keadaan yang ada. Kalimat itu menyimpan banyak hal yang belum tentu bisa selesai hanya dengan mengucapkannya sekali.
Meski begitu, aku tidak ingin menghabiskan hidup dengan terus mencari seseorang untuk disalahkan. Aku juga tidak ingin membalas setiap perlakuan yang pernah membuatku kecewa. Salah satu hal yang masih kusukai dari diriku adalah kemampuanku menahan diri ketika sebenarnya aku punya kesempatan untuk membenci, mencaci, atau melukai orang lain dengan kata-kata. Aku ingin terus memperbaiki cara berpikirku, sekalipun prosesnya tidak selalu mudah.
Mungkin aku belum menjadi seseorang yang sepenuhnya selesai dengan masa lalunya. Namun, aku juga bukan lagi orang yang sama seperti bertahun-tahun lalu. Kini aku bisa melihat diriku yang dahulu dengan pemahaman yang berbeda. Termasuk ketika aku pernah merasa gagal menjadi seorang anak.
Sekarang aku mengerti bahwa saat itu aku juga masih belajar menjalani hidup. Aku hanyalah seorang anak, dan itu pertama kalinya aku menjadi seorang anak. Aku tidak selalu tahu apa yang harus kulakukan, bagaimana harus bersikap, atau bagaimana memenuhi harapan orang lain. Kesadaran itu tidak serta-merta menghapus apa yang pernah terjadi, tetapi setidaknya membuatku bisa memandang diriku sendiri dengan lebih adil.
Jika aku bisa berbicara kepada diriku lima atau sepuluh tahun yang lalu, aku ingin mengatakan satu hal: teruslah berjalan. Seburuk apa pun keadaanmu, sebaik apa pun hari-harimu, sebanyak apa pun kegagalan atau keberhasilan yang akan kamu temui, kamu tetaplah orang yang sama. Perjuanganmu tetap berarti, bahkan ketika hasilnya tidak sesuai dengan yang kamu harapkan.
Hari ini, aku ingin lebih membahagiakan diriku sendiri. Bukan dengan memaksa semua keinginan menjadi kenyataan, melainkan dengan belajar memahami apa yang benar-benar kubutuhkan. Aku tidak harus mengejar segala sesuatu. Tidak semua hal perlu dimiliki, tidak semua harapan harus dipenuhi, dan tidak semua perjalanan harus berakhir di tempat yang sejak awal kubayangkan.
Pada akhirnya, tidak semua hal berjalan sesuai keinginanku.
Ada begitu banyak hal yang harus kulepaskan dari hidupku. Ada juga kejadian yang harus kuterima meskipun aku tidak menginginkannya. Memang, semuanya belum sesuai harapan. Namun, aku bersyukur masih bisa bertahan dan tersenyum setelah semua yang telah kulewati.
Aku belum tahu akan sampai di mana langkah-langkah ini membawaku. Aku juga belum bisa memastikan apakah keputusan yang kuambil hari ini akan mengantarkanku pada kehidupan yang kuinginkan kelak. Untuk sekarang, aku hanya ingin terus berjalan, belajar menerima apa yang tidak bisa kuubah, dan memberi kesempatan kepada diriku sendiri untuk bahagia.
Sebab, meskipun belum sampai, bukan berarti aku tidak sedang menuju ke suatu tempat.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar