Official Blog of Nugi Nugraha || Member of Google Corp & Blogger - Since 2011 || Copyrights 2011 - 2026 by Personal Blog & Google

Jumat, 03 April 2026

Nugraha is My Name (Part 54)



PERINGATAN!


Sebelum membaca artikel ini, diharapkan agar pembaca sudah berusia 17 tahun, mempunyai kemampuan untuk menghargai dan menerima juga open minded. 

Karena artikel ini berdasarkan pengalaman pribadi dan terdapat konflik secara mendalam dari konteks, paradigma, opini dan juga akan menyertakan orang-orang yang pernah ada di kehidupan pribadi sang penulis secara jujur yang bisa dikonfirmasi secara komprehensif. 

 

-------


Tahun ini memang bukanlah tahun yang terberat, tapi aku sedang ada di fase menerima dan menerka banyak hal dari semua konsekuensi yang pernah aku lakukan. Tidak banyak yang tahu bagaimana keadaanku yang sebenarnya. Selain Dia yang memang memberikan ini semua, mungkin beberapa orang dan bahkan hanya segelintir orang yang benar-benar tahu bagaimana kenyataan hidupku yang sebenarnya. 

Mereka melihatku baik-baik saja. 

Ini bukan salah mereka yang tidak pernah bertanya kepadaku, tapi personaku yang sedari dulu memang terlihat baik-baik saja. Aku yang tidak pernah memperlihatkan kelemahanku, burukku, jatuhku, dan segala hal yang sebenarnya lumrah terjadi kepada setiap manusia yang hidup. 

Aku yang terlalu kuat membangun jati diri paling berbeda dari orang lain. Istilahnya tidak akan ada yang percaya kalau aku bilang sedang tidak ada uang. Karena kepribadianku yang sejak dulu terbentuk begitu sempurna dalam artian tidak mencerminkan kepribadian yang sama seperti orang-orang pada umumnya. 

Penampilanku, perkataanku, pembawaanku dan yang aku share pun semuanya tampak luar biasa di hadapan mereka. Seolah tidak ada celah untukku berkata bahwa aku tidak selalu baik-baik saja. Seolah tidak ada kesempatan untukku mengakui bahwa aku sedang membutuhkan pertolongan orang lain seperti mereka yang hampir setiap saat meminta uluran tanganku. Pada kenyataannya aku juga sedang membutuhkan uluran tangan yang lain. 


Mungkin aku memang tidak sejatuh itu, tapi lihatlah aku sebagai manusia pada umumnya. Manusia yang ada saat di mana aku juga membutuhkan sandaran dan pelukan dari manusia lainnya. 


Mungkin entah sudah berapa kali aku memilih

menjadi pengecut. Berdiam dan menghindar dari cerita pilu yang bertebaran di atas sana. Seolah itu cukup untuk menyelamatkanku, atau paling tidak membuatku tersenyum lebar tapi hambar. Meskipun hari demi hari berlalu, tapi tetap saja itu menjeratku dalam kekakuan yang menyiksa. Hingga pada kenyataannya tidak ada yang benar-benar berubah kecuali aku yang tetap terlilit rasa sakit di dalam sini. 

Duniaku terus berputar, mengitari ruang dan waktu yang sama, sementara aku terjebak di dalamnya, tidak mampu lagi bergerak, tidak tahu kapan semua ini akan rampung. Ataukah mungkin memang akan terus seperti ini? 


Di antara yang jelas tidak akan terjadi, terkadang aku tetap menaruh doa seperti orang yang tidak tahu diri. Meminta yang sudah ditutup rapat oleh kenyataan, seolah Dia bisa diajak mengulang akhir.

Dalam hatiku yang lain bilang itu mustahil, kata yang terdengar seperti titik, bukan koma. Tapi aku terus berjalan membawa keras kepala yang tersisa, karena menyerah terasa lebih menyakitkan daripada berharap tanpa jaminan.

Jika itu terdengar seperti putus asa yang dibungkus iman, maka biarkan aku tetap percaya dengan cara yang paling rapuh.

Sebab di antara semua yang tidak mungkin, aku hanya ingin satu hal, Engkau mengubahnya menjadi mungkin.


Dengan mengakui bahwa aku lemah dan lelah juga perih, aku tidaklah berkurang hanya karena pengakuan itu. Luka juga tidak membuatku hina, itu hanya membuatku lebih dalam.

Akan kucoba untuk merapikan kembali hatiku, memeluk diriku sendiri, dan bangun dengan keyakinan baru. Aku tetap berharga, tetap layak dicintai, dan tetap pantas bahagia.

Aku tetap utuh, tetap berhak atas cinta yang lebih sehat dan masa depan yang lebih tenang.

Akan kucoba untuk melangkah lagi, walaupun kecil. 


Aku juga kadang berandai-andai. 

Seandainya manusia bisa menakar jarak antara lahir dan berpulang. Mungkin lidah akan berhenti pongah, tidak gemar menyayat lewat kalimat lalu pulang tanpa rasa bersalah.

Kita akan hidup dengan lebih takut kehilangan, lebih sungguh mencintai, lebih pelan menyakiti. Sebab setiap hari bisa saja adalah halaman terakhir seseorang.

Tapi kita memilih ceroboh, malah menghamburkan waktu, mengeraskan kata, seolah hidup ini panjang dan bisa diulang. Padahal jarak itu pendek,

dan sering habis sebelum sempat disesali.

Oleh karenanya aku tidak pernah bertanya soal

kehidupan orang lain, selain dia mau cerita sendiri.

Mungkin terlihat tidak peduli, tapi itu adalah etika kehidupan dengan manusia lainnya.

Dan mungkin kenapa tidak ada yang bertanya lebih kepadaku, mungkin mereka juga sedang menerapkan etika itu selamanya? Sepanjang hidupnya? 


Mungkin untuk saat ini aku akan terus mengedepankan kepentingan hatiku yang memeluk kepekaan diriku sendiri tanpa harus memperlihatkan yang sebenarnya terjadi. Karena itu semua tidak akan berarti apa-apa bagi mereka yang mengetahuinya. Yang akan tetap peduli kepadaku hanyalah diriku sendiri. Alangkah lebih baiknya jika aku terus bertahan dengan persona ini juga apa yang terlihat baik-baik saja di mata orang lain itu. Semoga saja menjadi doa dan kenyataan bahwa aku benar-benar selalu baik-baik saja. 

Harapan akan kusimpan, aku hanya akan melangkah dan menerima juga mensyukuri pemberian-Nya apa pun itu. Karena banyak orang yang menderita karena harapan mereka sendiri, dan aku menyimpan itu hanya agar tidak terluka oleh harapan-harapan yang sebenarnya membuatku tetap bisa berjalan beriringan dengan kehidupan ini. 


Kamu? 

Iya, kamu. 

Aku tahu kamu tidaklah selalu baik-baik saja. 

Tapi aku tahu satu hal dari banyak kemungkinan yang akan terjadi di hidupmu, bahwa kamu akan tetap baik-baik saja pada akhirnya. 

Aku di sini, menunggu ceritamu yang terus menerus kamu simpan dari mereka. 

Aku yang akan tetap mendengarkan tanpa akan pernah menghakimi seperti biasanya. 

Mungkin pintu rumahku tertutup, tapi kamu masih bisa mengetuknya kapan pun kamu mau. 

Mungkin jarak kita sudah tidak sedekat itu lagi, tapi media sosialku kamu selalu tahu. 

Atau datanglah lewat doa dan mimpi, aku akan menemuimu di sana :) 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar kamu disini!👇✌️😁