Official Blog of Nugi Nugraha || Member of Google Corp & Blogger - Since 2011 || Copyrights 2011 - 2025 by Personal Blog & Google

Sabtu, 01 November 2025

Jatuh Hati (Fase 12)



Aku tidak pernah lepas dari yang namanya jatuh hati. Aku masih ingat saat pertama aku jatuh hati, namanya, tempatnya, suasananya, dan sudah pasti dengan orangnya. Bahkan ketika aku menulisnya di blog ini sekarang pun, rasanya dia seperti berdiri di hadapanku, bayangan itu seperti begitu nyata. 

Dia adalah....


Namanya begitu terkenal ketika pertama kali dia pindah ke sekolah yang sama denganku, di mana kala itu kita mulai lebih saling mengenal dan begitu intens tapi seperti hubungan "friend-hate" jika pada saat itu aku mengartikannya seperti musuh tapi kami tetap berteman. Dia yang begitu berkarisma dan disukai oleh banyak orang. Sedangkan aku yang hanya murid sekolah biasa saja. Di hadapan orang lain kita selalu terlihat seperti bermusuhan, saling berkompetisi, bahkan beberapa kali kita bermain catur untuk membuktikan siapa yang paling unggul. 

Ingatanku kembali dibawa ke masa di mana aku mempunyai rasa yang berharap tidak mau jauh darinya, menungggu untuk saling menjahili dan sesekali mencari pertengkaran di antara kami. 

Hingga pada akhirnya kita terpisahkan oleh waktu yang selalu tidak pernah berkompromi dengan egonya sendiri. Waktu yang dengan teganya mengakhiri kebersamaan sekaligus menyelesaikan rasa itu untuk aku simpan menjadi bagian dari tumpukan yang rapih hingga sekarang bersama orang-orang yang aku menyebutnya hanya sebatas jatuh hati. 

Aku selalu penasaran dengan apa yang akan terjadi jika sang waktu memberi kesempatan untukku jika bisa kembali dipertemukan dengan mereka, atau mungkin salah satunya? 

Dari sini aku melihat salah satu dari mereka sudah mempunyai kehidupan yang luar biasa seperti memegang sebuah piala, terlihat gemilang tapi hanya tampak luar. Sedangkan aku yang masih tetap terjebak bermain catur dengan hidup bersama banyak kenangan indah tapi tidak pernah berani untuk mengakhiri permainan itu hanya agar aku tetap merasa hidup dengan harapan dan keinginan juga rasa yang semestinya tidak pernah aku berikan kepada salah satu dari mereka. 

Ya, aku masih hidup karena adanya harapan demi harapan. Tapi aku juga akan mati karena harapan itu sendiri. Manusia diberi kesempatan hidup karena akan menemui kematian. Tapi hanya dengan sebuah harapan kita sebagai manusia masih berharap untuk tetap hidup yang lebih baik. Meskipun pada kenyataannya harapan itulah yang memangkas umur kita secara perlahan. Bisa dibayangkan jika kita sebagai manusia sudah tidak mempunyai harapan. Harapan panjangnya mungkin hidup di masa depan akan lebih baik. Harapan pendeknya adalah semoga hari esok bisa lebih baik. Meskipun setelah hari itu terlewati pun pada kenyataannya tidak pernah ada yang lebih baik. 


Aku memang masih mengingat kapan pertama kali aku jatuh hati, tapi aku tidak pernah tahu kapan akan jatuh hati lagi. Tapi aku juga masih mengingat kapan terakhir kali aku jatuh hati. 

Aku bertemu dengannya karena waktu. 

Dia yang melihatku seperti orang yang berbeda dari orang-orang di sekitarnya. Sedangkan aku yang melihatnya seperti orang rapuh pada umumnya. Terabaikan oleh keadaan, tersisihkan karena sebuah hubungan, terasingkan karena adanya egois dari orang-orang di sekelilingnya, dia tampak terlihat tapi tidak pernah didengar apalagi ditanya kabar. Sedangkan aku datang dengan kesederhanaan tapi mampu mengisi kekosongan yang ada di dalam sana. Keceriaan kembali memenuhi kehidupannya. Aku memang tidak bisa mengatakan kapan akan turunnya hujan, tapi aku bisa menenangkan ketika petir sudah menggema, dan aku bisa menyediakan payung jika hujan itu akan tiba pada saatnya. 

Aku seperti butiran pasir yang memenuhi bagian kosong yang hanya bisa menempati posisi di mana jika hanya ada tempat dan bagian yang kosong. Karena pasir hanya akan terbawa tiupan angin jika tidak pernah bisa berada di tempat yang tepat seperti seharusnya. Dan dia menempatkanku di bagian yang kosong itu, yaitu hatinya. 

Tapi aku selalu takut jika jatuh hatiku berubah menjadi perasaan yang lebih mendalam. Karena aku selalu menghindar agar tidak sampai ke perasaan itu. Lebih tepatnya adalah aku selalu menutup celah untuk sebuah rasa yang disebut cinta. 

Semuanya indah tidak ada yang menyakiti perasaanku. Hidupku selalu bahagia jika aku jatuh hati. Entah karena aku berada di tempat yang tepat, atau karena adanya hati yang sama-sama bahagia dengan adanya diriku di hidupnya, atau mungkin karena kita sama-sama memang menahan diri untuk tetap berjalan seperti biasanya tanpa pernah saling berani untuk saling membuka jati diri. Tapi yang pasti, aku selalu melakukan hal terbaik untuk dia yang membuatku bahagia sekalipun hanya sekadar menyapa dengan kata "hai" sambil membawa aroma berbau matahari yang terkadang sangat aku benci tapi selalu aku tunggu saat waktu itu seperti hampir setiap hari. 

Sayangnya aku bukan tipe orang yang mau menerima kenyataan ketika perhatian kecilku tidak lagi dihargai. Perhatian kecil yang dia anggap menjadi sepele seperti pasir yang bisa kapan saja dia tiup agar berlalu tanpa berharap untuk kembali. Mungkin lebih tepatnya adalah aku bisa dengan cepat membuang rasa jatuh hatiku menjadi udara tanpa hembusan hingga dia pun tidak akan pernah menyadarinya lagi. 

Tapi yang pasti debu berbentuk pasir itu bisa kembali kapan pun yang dia mau. Ya, aku bisa dengan leluasa untuk jatuh hati kembali kapan pun yang aku mau. Selama masih ada celah untuk ruang yang kosong, aku bisa menempatinya sesuka hati. 


Atau, aku bisa dengan mudahnya untuk jatuh hati lagi kepada orang yang baru dengan harapan agar hidupku lebih berarti. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar kamu disini!👇✌️😁