Official Blog of Nugi Nugraha || Member of Google Corp & Blogger - Since 2011 || Copyrights 2011 - 2025 by Personal Blog & Google

Sabtu, 21 Februari 2026

Nugraha is My Name (Part 53)



PERINGATAN!


Sebelum membaca artikel ini, diharapkan agar pembaca sudah berusia 17 tahun, mempunyai kemampuan untuk menghargai dan menerima juga open minded. 

Karena artikel ini berdasarkan pengalaman pribadi dan terdapat konflik secara mendalam dari konteks, paradigma, opini dan juga akan menyertakan orang-orang yang pernah ada di kehidupan pribadi sang penulis secara jujur yang bisa dikonfirmasi secara komprehensif. 

 

-------


Rumah? 


Aku tinggal di rumah yang tidak terlalu besar. Mungkin hanya cukup dibanding mereka yang tidak pernah memiliki tempat untuk berteduh. 

Tapi aku juga mempunyai beberapa rumah yang bisa kapan saja untuk aku datangi sekaligus bisa aku tinggalkan dengan semauku. 

Rumah juga bisa menjadi tempat di mana semua orang bisa pulang. Lalu, bagaimana jika aku pulang tanpa membawa satu pun tanda kemenangan? 

Aku melihat dunia yang begitu sibuk menghitung hasil, sedangkan aku sibuk menahan diri agar tetap utuh.

Mereka menyebutku hampir, seolah itu sinonim dari gagal. Seolah luka yang kutelan diam-diam tidak pernah layak disebut perjuangan.

Padahal aku tidak hilang di perjalanan, tidak menyerah pada gelap yang nyaris memakan.

Mungkin, diam-diam, itu sudah cukup untuk kusebut kemenangan. Karena kini aku masih menjadi yang terkuat dengan pandangan khalayak mata memandang tanpa pernah terlihat di balik tirai yang selalu tersembunyi selain tulisan demi tulisan yang lirih hingga menggema menjadi suara tanpa kata meski sesekali berlinang air mata. 


Terkadang aku gelisah oleh kata "kapan", seolah hidup harus lekas lunas.

Target ditimbun, mimpi dipaksa matang, demi membungkam suara sekitar.

Padahal waktu tidak pernah berjanji panjang.

Di antara ambisi dan tepuk tangan, "kafan" menunggu tanpa tergesa.

Ironisnya, manusia sibuk mengejar esok, namun lalai menghidupi hari ini.

Dan kini aku tidak lagi memikirkan kapan melainkan kafan. 

Masa lalu bagiku sudah mati, masa depan juga tidak pernah pasti, yang aku miliki hanyalah hari ini.

Maka setiap hari yang aku jalani, aku akan mencoba untuk makan, minum dan hidup dengan gembira. 


Hidupku juga bukan ruang komentar orang, dan langkahku bukan bahan evaluasi siapa pun. 

Apa yang kupilih, kutanggung sendiri.

Apa yang mereka cemaskan, akan kubiarkan tetap di sisi mereka.

Terkadang manusia sering salah kaprah tentang peduli, dan mengira ikut campur adalah bentuk cinta.

Padahal tidak semua pintu perlu diketuk, tidak semua luka ingin disentuh.

Yang menjadi milikku, biar kuselesaikan dengan caraku.

Yang menjadi milik kalian, rawatlah tanpa menyentuh batasku.

Sebab kedewasaan bukan tentang saling mengatur, melainkan tahu kapan harus berhenti melangkah ke wilayah yang bukan hak kita.

Karena semua orang mempunyai ruang, ruang di mana yang ada di dalamnya adalah urusan pemiliknya.


Tentang rumah yang pernah beriringan bersama.

Yang kini menyayat hati seperti mengirisnya tanpa permisi. Mengatakan bahwa aku seperti seekor anjing kelaparan yang tidak pernah diberi makan. 

Rumah yang pernah hampir tahu segalanya tentangku seperti bak ditelanjangi sampai ke bagian terdalam cerita hidupku. Aku sudah memaafkan, bahkan tanpa syarat dan drama.

Tapi tolong, jauhkan wajahmu dari pandanganku.

Menjauhlah dari jangkauanku. 

Berpalinglah dari tatapan kosongku. 

Sebab ingatan tidak semudah itu diajak berdamai.

Memaafkan bukan undangan pulang apalagi untuk kembali duduk hingga berbagi cerita dan menyampaikan jeritan kesengsaraan lagi. 

Memaafkan hanya cara halus agar aku bisa bernapas, tanpa harus melihat siapa yang pernah menikam lalu meminta dimengerti.

Aku mencoba untuk kembali tenang. 

Karena bagiku, ketenangan bukanlah suatu pembawaan. Tapi itu suatu bentuk.


Takdir telah mengambil banyak hal dariku. Tapi takdir juga meninggalkan satu pelajaran kecil, bahwa runtuh bukan akhir. Karena runtuh hanya jeda untuk belajar bernapas dan berjalan kembali. Meskipun di setiap jalan yang salah selalu mempunyai jalan untuk pulang, tapi tidak semua orang mampu membayar untuk jalan itu. Tapi sayangnya aku berani membayar jumlah yang lebih ditambah beberapa pengorbanan agar aku mampu membayar semua itu. Karena yang terpenting bagiku sekarang adalah diriku lebih bahagia dengan cara yang tidak merugikan diri sendiri. Apalagi aku menyadari bahwa setiap hari aku selalu mengingat bahwa hari ini adalah hari tertua yang pernah aku alami, dan aku tidak akan pernah semuda itu lagi. 


Di tengah perjalananku yang entah menuju ke mana, anak itu pun sekarang lebih mendekat kepadaku lagi. Mungkin bisa lebih dekat jika aku mau. Usahaku hanya sebatas dan dalam tahap yang sangat wajar sejauh ini. Mungkin dia juga sedang mencari jati diri yang sesungguhnya. Seiring berjalannya usia dia yang kini menginjak usia remaja, mungkin dia juga melihat bagaimana sikapku kepadanya. Aku menyayanginya, mencintainya, aku pun akan rela berkorban apa pun untuknya. Dalam perjalanan hidupku yang sudah cukup panjang ini aku merasakan cinta yang sesungguhnya. Cinta yang aku sebut cinta sejati. Karena cinta yang aku rasakan kepadanya terlahir dari rasa iba dan berkembang menjadi peduli, simpati dan empati, dan kini menjadi cinta yang melewati batas keadaan yang ada. Aku tidak pernah ingin dipanggil "ayah", yang penting dia tahu bahwa aku bisa melebihi orang tua lainnya yang memberikan kasih sayang dan cinta kepada anak-anaknya. 


Sesekali aku juga memang gemar mengeluh, entah melalui bisikan atau sekadar tulisan, dan sesekali aku juga menyebut lelah dengan suara lantang, seolah dunia perlu tahu betapa berat aku menahannya sendirian.

Tapi mereka tidak pernah tahu, di balik keluhan yang cerewet itu aku tetap bangun, tetap berjalan, tetap memilih hidup meski sering tidak ramah.

Aku bangga pada diriku sendiri, pada mulut yang mengadu namun kaki yang tidak pernah benar-benar pergi. Keluh kesahku bukan tanda lemah, melainkan bukti bahwa aku masih bertahan, meskipun sendirian.


Aku sudah menabrak rasa sakitku berkali-kali, dengan kepala yang sama, dengan hati yang masih retak di tempat yang itu-itu saja.

Tidak ada yang benar-benar tahu bagaimana aku merangkak keluar dari gelap, kecuali aku dan Dia yang menyaksikan setiap runtuh yang tidak pernah sempat kuceritakan.

Jadi jangan menghakimiku terlalu jauh.

Yang tampak tenang di permukaan bukan berarti tidak sedang karam, mungkin hanya sedang belajar diam agar tidak sampai tenggelam.


Hingga pada akhirnya, segala yang terasa berat pun akan lewat.

Seperti hujan yang selalu tampak abadi padahal hanya singgah sebentar di atap. 

Sebesar apa pun derasnya, hujan tetap punya waktu untuk reda dan membiarkan tanah yang rapuh belajar untuk kering kembali.

Begitu juga aku.

Sebanyak apa pun luka yang turun, aku selalu percaya bahwa suatu hari aku akan bernapas lega tanpa harus takut dengan badai berikutnya yang akan datang. 


Tentang rumah? 

Rumah yang aku butuhkan di sini bukanlah suatu tempat yang mempunyai atap, tapi rumah yang memilki hati tanpa pernah mempunyai tujuan untuk menghakimi. 


Dan kini aku tidak tahu di mana rumahku.