Official Blog of Nugi Nugraha || Member of Google Corp & Blogger - Since 2011 || Copyrights 2011 - 2017 by Personal Blog & Google

Jumat, 28 Juli 2017

Pelacur, Jatuh Cinta

Sebelum manusia lahir, Tuhan sudah terlebih dahulu membuat garis hidup untuk hamba-Nya itu. Kebahagiaan, kesedihan, rezeki, jodoh, kematian, dll.

Dan pada dasarnya manusia hidup bukan hanya menjalani tapi juga harus bisa menerima dan mensyukuri apapun yang terjadi dalam hidupnya, apapun itu.

...

Btw, kali ini saya mau cerita tentang seseorang yang pernah saya temui. Namanya N (bukan Nugi ya ha-ha).

Dia seorang (maaf) pelacur. Dia tidak pernah mengeluh tentang apa yang terjadi dalam hidupnya, saya sebenarnya sangat salut.
Mungkin iya itu sebuah dosa yang besar, karena dilakukan lebih dari sekali dan mungkin tidak terhitung juga. Apalagi dia juga sadar bahwa itu sangatlah tidak baik, bahkan jauh dari yang namanya baik, hina ? Mungkin.

Dia selalu terlihat bahagia. Entah itu kebahagiaan yang real atau hanya pura-pura bahagia saja.
Tapi yang saya lihat ya, dia melakukan semuanya tanpa pernah ada beban, seperti tidak ada perasaan apapun. Itu yang saya lihat, yang saya kira-kira.

Suatu waktu saya pernah bertanya, sampai kapan dia akan seperti itu ?
Dngan wajah datar dan dengan nada bicara yang terdengar meyakinkan, dia menjawab, dia tidak tau kapan akan mengakhiri itu semua, karena katanya dia bukan peramal yang bisa menebak selangkah yang akan terjadi di depan.

Memang benar juga sih.

Saya juga pernah bertanya tentang perasaan dan saat melakukan itu semua.
Masih dengan nada bicara yang lantang dan pasti dia menjawab, dia tidak pernah memakai perasaan apapun, seolah-olah hatinya terlepas.

Manusia macam apa yang seperti itu ? He-he

Dan terkahir saya bertanya tentang masalah pribadinya dan yang sudah pasti biasa dirasakan oleh orang pada umumnya.

Cinta.
Apakah dia pernah jatuh cinta ?

Ketika saya tanya seperti itu dia menundukkan kepalanya, kemudian terlihat ada air mata mengalir ke pipinya.

Kemudian dia mencoba menjawab pertanyaan saya seperti tadi, tapi kali ini dengan wajah yang terlihat sangat sedih, dan dengan nada bicara yang saya kira seperti susah untuk mengungkapkannya.

"Saya seorang pelacur, saya hidup dari kerja yang kotor, mendapatkan uang dari hasil menjual jasa kepada orang-orang yang menginginkan kepuasan semata. Saya sadar saya bukan orang baik, tidak terlihat ada masa depan di kehidupan saya.
Tapi kalau ditanya apakah saya pernah jatuh cinta ?
Tentu saja saya pernah. Bahkan sering".

Dengan rasa menyesal saya mencoba untuk meminta maaf kepadanya. Saya tidak bermaksud untuk ingin tau hal yang saya pikir itu terlalu sensitif untuk orang lain ketahui.
Kemudian dia meneruskan ucapannya tadi.

"Love is love, cinta adalah cinta. Tidak ada seorang pun yang bisa luput dari rasa seperti itu. Orang baik dan orang tidak baik pun pasti akan mengalaminya. Termasuk saya, saya yang mungkin orang anggap paling kotor yang pernah ada di dunia ini.

Saya sering jatuh cinta, tapi saya mencoba untuk tetap menganggap bahwa itu bukan cinta tapi perasaan biasa. Karena komitmen hidup saya adalah tidak akan pernah untuk jatuh cinta kepada siapapun.
Kalaupun memang suatu saat rasa seperti itu ada, saya akan membuangnya jauh-jauh, menguburnya dalam-dalam, kenapa ?

Karena saya tau diri, saya tidak pantas untuk jatuh cinta. Dan kalau pun ada orang lain yang mencoba untuk menerima segala hal yang ada dalam diri saya, termasuk profesi saya, saya akan menolaknya. Karena saya sadar bahwa saya sangat amat tidak pantas untuk mendapatkan semua itu".

Sesaat saya hanya terdiam dan berpikir.

Apa iya, seorang pelacur tidak pantas jatuh cinta ?

Apa iya, seorang pelacur tidak pantas mencintai ?

Apa iya, seorang pelacur tidak pantas dicintai ?

Apa iya, seorang pelacur tidak pantas untuk saling mencintai ?


Sebenarnya siapa sih yang mau jadi pelacur ?

Belum pernah saya mendengar atau membaca tulisan seseorang yang mempunyai cita-cita ingin menjadi pelacur.

Lantas apa yang salah dengan pelacur ?

Siapa yang dirugikan oleh seorang pelacur ?

Itu hidupnya, biarkan dia melewati jalan yang sudah Tuhan takdirkan kepadanya.

Apakah pelacur yang menolak adanya cinta dalam hidupnya bisa dikatakan munafik ?


Mungkin memang dia munafik, dia mengingkari apa yang dia rasakan dalam hatinya.

Yang saya tau, cinta itu bisa merubah segalanya. Yang baik menjadi tidak baik, yang tidak baik menjadi baik, dan tidak sedikit yang menjadi lebih baik.

Hanya saja terkadang manusia terlalu takut akan hal itu, dia selalu merasa tidak pantas mendapatkan yang lebih baik untuk hidupnya hanya karena sebuah kesalahan dalam dirinya.

How about us ?

Bagaimana pun cara pandang kita terhadap mereka, cobalah untuk mengesampingkan setiap kesalahan dalam diri mereka, karena kita juga belum tentu lebih baik dari mereka. Mungkin mereka hanya melakukan satu kesalahan yang sama dalam hidupnya, tapi kita ? Mungkin tidak terhitung berapa banyak kesalahan yang pernah kita lakukan. Setiap detik, setiap jam, setiap hari dengan tanpa sadar kesalahan apa yang pernah dilakukan oleh kita.

Open our eyes, open our mind, open our heart.

Karena manusia harus mendapatkan apa yang terbaik dalam hidupnya, selalu ada jalan untuk apapun itu.

Apalagi untuk cinta.

Cinta ? 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar anda akan memotivasi blog ini lebih cemerlang..