Official Blog of Nugi Nugraha || Member of Google Corp & Blogger - Since 2011 || Copyrights 2011 - 2017 by Personal Blog & Google

Rabu, 27 Juli 2016

Hidupku Dalam Kegelapan - Hidupku Just My Life (35) 2016

Location: Braga Street
Aku masih bingung dengan arah jalan hidup ini. Langkah kaki ini seperti sudah terhenti, nafas ku juga terasa sesak, pikiran ku sangat kacau karena sudah tidak bisa berpikir dengan jernih, dan hati ku juga seperti sudah membeku karena tidak dapat merasakan lagi yang namanya real kehidupan, seperti berada dalam sebuah tempat yang sangat sempit, ada apa ini ?


Tentu saja ketika aku menulis ini karena pikiran ku sedang benar-benar tidak dapat berpikir dengan baik, yang ada hanya kecemasan saja, hati ku sedang resah, dan intinya kehidupan ku sangat tidak jelas mau bagaimana dan harus seperti apa nantinya. Masa depan ? Aku pikir masa depan ku seperti kertas yang penuh dengan coretan tidak jelas dan sangat tidak penting, tidak tampak ada hal baik dari coretan itu.


Aku bukan kertas, tapi aku adalah debu. Dimana aku berada aku selalu tidak diinginkan, dimana aku singgah maka aku akan segera dibersihkan dan dihilangkan. Tidak ada yang menginginkan ku, bahkan sesama debu.


Aku bukan kertas ataupun debu, tapi aku adalah diriku sendiri.
Ya, aku diriku sendiri dengan segala hal yang sangat membingungkan. Aku masih punya mimpi, tapi aku tidak mau mencoba untuk mencapainya. Aku masih punya tenaga tapi aku tidak mau menggunakannya. Aku masih punya kaki tapi aku tidak mau melangkahkannya. Aku masih punya pikiran tapi tidak aku gunakan untuk berpikir dengan baik. Aku masih punya hati tapi aku sudah tidak bisa merasakan apapun, hatiku seperti setengah mati, selain merasakan hal- hal yang tidak penting untuk aku rasakan.


Harapan ? Harapan ku, aku harap ada tubuh yang mau dan mampu membawa ku keluar dari kehidupan yang seperti ini. Karena aku masih punya keyakinan, aku yakin akan ada orang yang bisa melakukan itu. Tapi aku tidak tau dia dimana dan dia itu siapa.


Aku yakin sebelum waktu ku habis masih ada kesempatan dimana aku mampu melakukan hal baik di dunia ini. Menggunakan kesempatan ini untuk diisi oleh hal- hal yang sangat bermanfaat minimal bagi diri ku sendiri dan maksimal untuk orang lain.


Selama ini aku selalu melakukan banyak kebodohan yang aku sendiri juga sadar bahwa itu semua tidak ada artinya. Tapi entah kenapa aku tidak mampu melepaskan kebiasaan itu, sangat sulit sekali.


Mungkin tidak akan ada yang bisa dan mau mengerti kehidupan ku selain diri ku sendiri.


Percuma juga aku menunggu orang itu, jika aku sndiri saja tidak layak untuk ditunggu olehnya. Mungkin sangat percuma jika ada orang yang mau menghampiri orang (…) seperti aku ini. Dengan kehidupan yang tidak jelas. Gelap.


Pekerjaan tidak jelas, tidak ada relasi dengan orang-orang positif, setiap waktu ku digunakan untuk santai yang sudah jelas tidak ada artinya, selalu menyianyiakan kesempatan yang ada, ibadah juga nol, dan masih banyak hal bodoh yang aku lakukan yang secara sadar aku merasakan dampak negatifnya.


Hobi ? Aku hanya menulis hal yang tidak penting seperti ini. Tidak seperti orang lain yang hobinya berguna dan bisa menghasil sesuatu yang lebih bermakna untuk hidupnya.


You know about me now ? It’s not enough, coz it is still a lot of things stupid I did.



Help me please !!!


Minggu, 24 Juli 2016

Mantan Pacar Ku - Hidupku Just My Life (34) 2016

Hold me, hold you, forever.
Cinta pertama ? Semua orang pasti punya. Mantan pacar ? Belum tentu semua orang punya. Mantan pacar dan cinta pertama ? Bukan satu-satunya, lebih jelasnya bukan tertuju pada satu orang saja. Kadang ada cinta pertama yang menjadi pacar, dan cinta pertama yang hanya jadi kenangan indah saja. Cinta pertama yang tidak pernah sempat bersama, mungkin belum, atau memang tidak akan pernah, atau apalagi ya yang lebih menyakitkan jika mengingat cinta bertepuk sebelah tangan..ouhhh !! So sad !! Sangat menyedihkan !!


Oke, aku tidak akan bahas cinta pertama lagi untuk sekarang, tapi akan membahas mantan pacar.


Pacar pertama ku, D. Dulu jadian sejak aku kelas 1 SMA dan dia masih SMP. Dia teman kakak ku (aku sama kakak perempuan ku *Omah duluan aku sekolahnya). Awalnya comblang-comblang anak sekolah lah biasa, terus kirim-kiriman surat (yaaaah… ketahuan deh generasi kapan. Sebenarnya HP sudah mulai ramai, tapi aku belum punya aja waktu itu, jadi masih surat aja). Dia seorang perempuan yang yang aku pikir dulu sih cute ya, bawel dan lebih ke nyebelin tapi. Gak tau juga kenapa alasan utama kita bisa jadian. Tidak ingat juga berapa lama hubungannya. Putus aja gitu, udah. Dan tidak pernah bertemu lagi, sampai, sampai pas lebaran kemaren kita bertemu di rumah, dia sengaja silaturahmi ke rumah buat ketemu kakak ku, sohib banget sih mereka. Dan dia sudah punya anak 1. Oke goodluck mom !



Pacar kedua ku, R. Dialah orang pertama yang memberi contoh bagaimana aku bisa bertahan dalam kehidupan yang seperti saat ini. Dia orang pertama yang pertama yang aku sukai, aku cintai juga aku sayangi dan bisa aku miliki. Aku bertemu dengan dia sejak tahun 2005-2006 lah. Di tengah Kota Kembang. Aku tau segala hal tentang kehidupan gelap bersama dia, dan dia yang memang sengaja mengajarkan semuanya. Dia orangnya mudah bergaul, jadi wajar aja sih hampir semua orang di tengah kota tau siapa dia. Selain itu juga dia menyenangkan, selalu buat aku bahagia jika kita bersama, lumayan lucu, dan yang paling aku ingat dari dia ya itu, dia adalah pacar sekaligus guru bagi aku. Aku memanggil dia “Pacar Kriminal”. And u know what ? Kita tidak pernah ada kata putus. Setiap kali bertemu ya kita seperti teman sekaligus pacar. Mungkin dia belum bisa dijadikan mantan, tapi aku selalu bilang putus sama dia jika sedang kesal, pastinya bukan dari hati sih, dan memang dianya juga tidak menerima jika diputusin, apalagi kita pernah berjanji kalau kita akan menjadi pacar sampai kapan pun. Kenapa aku anggap dia mantan ? Karena aku sudah beberapa kali pacaran. Aku juga tidak tau dia pacarankah diluar sana. Karena kita tidak selalu inten dalam komunikasi. See u bebeb. (panggilan dia ke aku yang bikin aku eneg dengernya haha). Tapi kangen sih. Hehe Dan sampai saat ini juga kadang masih bertemu. Tapi kalau ada urusan bisnis aja sih. (kembali ke pelajaran pertama).



Ketiga atau selanjutnya aja kali ya. Next mantan pacar. 

Dia adalah orang Sukabumi yang stay di Jakarta. Namanya sama dengan nama asli ku,M. Tapi sama abjad awalnya aja. Kita pertama bertemu sekitar 5 tahun yang lalu lah. Atau mungkin 6 tahun. (Males buka file soalnya nih). Dia orangnya penyayang banget. Aduh pokoknya romantis banget lah. Itu saat aku sedang jamannya susah, secara hidup di Ibu Kota. Kalau lu gak banting bahu orang, lu gak akan makan. (gak juga sih). Intinya aku sering nyakitin dia, gak peduli in dia, tapi kita emang pernah pacaran sih, pastinya karena aku juga pernah menyukai dia. Makanya kita pacaran. Ya iyalah ! Dan sudah sekian lama tidak bertemu juga tidak mendapat kabar (inten media social), aku lihat facebook dia pas awal tahun ini (01-2016), dan ternyata ada komen di postingan foto dia bahwa dia sudah mininggal, itu komennya 1 tahun yang lalu. Tadinya aku mau say hai dan beneran mau minta maaf dengan tullus, karena sadar banget dulu udah bla bla bla. Tapi ternyata dia sudah terlebih dahulu pergi. Sedih juga sih. Intinya ya, jangan pernah buat kecewa orang yang sayang sama kita, jikalau iya pernah, setidaknya segeralah untuk meminta maaf. Hai M, semoga kamu tenang dialam sana.



Jadi sedih.

Next. Mantan pacar yang selanjutnya. Dia A. Anak Riau yang Demi Allah nyebelinnya minta ampun tuh anak bawelnya. Kalau sekarang udah ada kata “kepo”, pengen tau aja apa yang sedang aku lakukan. Dulu usianya 14 kalau gak salah. Dia panggil aku kakak, kadang ayang sih, dan aku harus panggil dia apa ? Aku harus panggil dia Dede. OMG ! Shock ? Jangan ! Ketawa aja. Hahaha. Kita LDR gitu. Katanya dia berencana kuliah di Bandung, itu 3 tahun lagi dari usia dia yang baru 14 (dulu tahun 2011). Wew. Tapi dulu kita emang sempat menjalin yang namanya pacaran, meskipun berbeda jarak, jauuuh sekali. Karena aku gak tahan dengan sikap sok manjanya dia, yang akhirnya kita putus. Bye A, udah lulus kuliahnya ?



Next. Mantan pacar yang selanjutnya namanya A. Dia anak rantau yang tinggal di Jakarta juga. Sampai saat ini juga dia masih di Jakarta sih (keluarganya ada yang disana bro). Dia orangnya kocak dan gaul abis. Gak abis sih, Cuma gaul aja. Kata yang selalu dia ucapkan saat itu “slow”. Kamu jangan begini, kamu jangan begitu, nanti begini, nanti jadi begitu. Halah bangak ngatur banget pokoknya. Tapi itu dia, dia menunjukkan kasih sayangnya dengan cara seperti itu, aku pernah menyukai hal yang seperti itu dari dia. Ya meskipun pada akhirnya aku bosan juga jika selalu diceramahi. Pengajian aja yuk beb ! Dan beberapa bulan yang lalu kita bahas kalau kita pernah pacaran dan dia ngajak balikan lagi. Tentu saja, I gonna say NO ! (Dengan dia komunikasi tetap terjalin meskipun via chat atau media social). Hey A, aku tunggu disini ya, ntar aku anter lagi belanja baju ke distro (dan traktiran pastinya). Nunggu gratisan aja gw mah orangnya.


Next. Mantan pacar yang selanjutnya bernama D. Dia orangnya tajir abis. Kaya banget maannnn !!! Mewah pokoknya. Aku pacaran sama dia posisi aku sudah tinggal di Kota Kembang. Aku tidak pernah memikirkan bagaimana nanti makan kalau sama dia. Dia tanggung semua. Malah dia pernah ngajak tinggal bareng di kost dia daerah Dago. (aku tolak karena aku ada hubungan dengan next mantan. Haha. Nanti dibahas). Kesana kemari pakai mobil. Hampir setiap malam ke diskotik. Aku panggil dia Kakak (hmmm). Kak, aku pengen makan disana, kak, aku pengen jalan kesana, kak, aku pengen clubbing disana, kak, aku pengen minum ini, dan masih banyak lagi kakaknya. Hehe. Hingga akhirnya aku ketahuan selingkuh. Sebenarnya itu alasan dia aja, pada kenyataannya dia eneg aja sama aku yang sok manja dan ini itu. Bego banget ya aku waktu itu, aduh. Belum kaya udah putus. Haha. OOpss ! Bocoran nih, dia adalah model/ talent dari sebuah agent ternama di Bandung lho. Dan sekarang dia balik ke kampung halamannya di Palembang. Tapi kita masih saling chat kalau ada perlu. BBM On terus.



Next mantan pacar aku namanya G. Dia oranya baik, care juga tentunya. Begitulah pokoknya. Dia juga tau kalau aku sempat pacaran sama si D dan sedang dekat dengan seseorang yang bernama D juga. Ya gak tau juga ya, dia udah sayang sama aku sih gitu katanya. Ya udah, pacaran aja. Yang hingga akhirnya dia nyerah sendiri dan pergi entah kemana tuh orang yang sampai saat ini gak pernah ketemu lagi. (pernah ketemu di tempat clubbing, dulu itu juga).  Sedikit kenangan saat bersama dia, karena saat itu aku terlalu banyak menyimpan hati dibanyak hati. Tau artinya ? Nggak ? Ok, next aja.



Mantan pacar aku yang selanjutnya bernama A. Dia executive muda (gw ga tau gimana nulisnya aduh, salah bener ya gitu ?). Intinya dia anak muda yang sukses lah. Dia bekerja di sebuah bank ternama. Dia juga sudah mempunyai rumah yang saat itu baru selesai dibangun disebuah perumahan. Aku sempat berniat untuk benar-benar fokus sayang sama dia aja. Yang hingga akhirnya aku tau kalau dia adalah orang kaya baru yang memang baru mengenal dunia pelangi dan masih menekuni hobinya berselancar kesana kemari. Ya sudah, aku yang mundur. See u (pernah down sih, tapi gak lama karena aku selalu bertemu si R, “Si Kriminal”).



Sekian lama aku menutup hati, dan memang aku juga selalu bertemu si R, yang kebetulan dia juga sedang tinggal di kota yang sama pada saat itu (ya udah gw jelasin ya, KOTA BANDUNG). Aku juga tidak pernah merespon jika ada orang yang mendekati aku. Bukannya sok gimana-gimana ya, males aja. Aku abaikan aja seperti menutup hidung saat melewati tempat sampah. 
Ya ampun gak nyambung.



Hingga akhirnya aku bertemu dengan C. Saat itu dia masih sekolah. Cute sih nggak, soalnya dia item gitu, terus dia juga selalu nyebelin, bikin aku pengen marah-marah jika sedang dekat dia, tapi kangen kalau jauh. Hehe. Oke jujur aja, dia orang yang mungkin aku masih berasa berdosa banget jika aku katakan disini, karena aku tau, aku sadar, tidak banyak kebahagiaan yang dia rasakan saat bersama ku. Dia harus merasakan bagaimana yang pernah aku rasakan pada masa aku dulu. Mencintai orang lain yang dengan terang-terangan menyukai orang lain, apalagi teman dia sendiri. Ya, aku menyukai teman dari si C. Dan masih banyak lagi yang membuat dia tidak berhenti membenci ku sampai saat ini (mungkin). Tapi dia romantis sih menurut ku. Bahkan kita berjalan sampai 4 bulan pacaran. Hingga akhirnya dia ngajak break dan gone. Dan terakhir dia DC bbm aku (sekitar 4 bulan yang lalu), aku invite dia. Dan sebelumnya dia juga mencaci-maki aku dengan pedas, OMG. Mungkin saking bencinya dia sama aku. Mungkin sih. Gak tau juga. Pengennya baik-baik aja. Makanya kadang aku invite ulang pin dia. Hey C, thanks for everything dan sorry for everything. I have no friend again, like 2013.


Yups, itulah mantan pacar aku yang masih aku ingat. (Aku yakin masih ada yang lain yang memang hilang dari ingatan ku, SERIUS), itu benar-benar lupa. Sorry guys jika aku banyak salah, dan makasih untuk setiap hal yang pernah membuat aku tersenyum senang dan tertawa bahagia. Meskipun kita sebagai mantan, kini, tapi setidaknya kita pernah melewati waktu berdua dengan sangat bahagia bersama yang hingga akhirnya terlepas dari ikatan itu.


Dan sekarang aku tidak ingin punya hubungan apapun dengan siapapun. Tapi kalau bertemu si R aja sih, we’re never break, we always there if we want, we’re loving if we want, and we will make it have fun if together than more.


Dan yang dengan sadar menurut aku sangat menyedihkan, aku tidak pernah mau keluar bersama teman (yang aku kenal) dan, 

Dan masih melanjutkan cerita dengan Cinta Diam Diam Ku. 

Cinta Diam Diam Ku: Bagian 1 - Bagian 2 - Bagian 3 (Cerita asli yang tidak sengaja dan memang begitu saja abadi di blog ini *lihat tanggal postingan)

Kamis, 21 Juli 2016

Siapa Yang Kamu Percaya ? - Hidupku Just My Life (32) 2016


Aku masih seorang  (sensor), dari dulu dan tidak tau akan sampai kapan aku akan seperti ini.
Akankah suatu saat aku bosan ? Bosan menjalani kehidupan yang seperti ini ?

Bosan ? Sepertinya aku tidak perlu bosan untuk menjalani kehidupan yang seperti ini. Kenapa ? karena setiap orang mempunyai jalan masing-masing. Jalan kehidupan yang baik ataupun yang buruk harus tetap dijalani, karena inilah yang namanya hidup.

Haruskah aku menghindar ?

Menghindar ? Aku pikir kehidupan bukanlah kutukan atau yang lebih buruk daripada itu. Aku tidak akan menghindari semua ini, tap justru aku akan semakin menanntang apa yang lebih menyakitkan dari kehidupan ini. Menyakitkan ?

Tidak semua orang tau, bahkan tidak ada orang yang tau siapa kita, bagaimana kehidupan kita, karena kita semua selalu mempunyai cara untuk menghindari dan menutupi sisi lain dari kehidupan ini. Menghindar bukan berarti meninggalkan kehidupan melainkan menepis beberapa orang agar tidak mengetahui siapa sebenarnya kita. Menutupi ?

Kalau menutupi mungkin lebih jelasnya tidak membiarkan seorang pun tau kehidupan kita yang sebenarnya. Bahkan orang yang ada di sekitar kita, bukan di sekitar tapi orang yang paling dekat sekalipun. Yang terdekat tuh siapa ? Teman ? Sahabat ? Pasangan ? Keluarga ?

Teman ? Ya, teman menurut aku sih hanya orang yang kita kenal dan dia juga mengenal kita. Tapi dalam hal ini dia hanya sebatas tau siapa kita saja dalam spek garis besar saja.

Sahabat ? Lebih spesifikasi dan akrab daripada teman. Tapi dalam hal ini dia juga tidak tau kalau kita menutupi sesuatu darinya, mungkin dia pikir tau semuanya dari cerita-cerita kita padanya, padahal yang sebenarnya tidak semua.

Pasangan ? Mungkin bagi sebagian orang pasangan lebih dari sekedar teman juga sahabat. Tapi kalau bagi aku pribadi ya, maaf nih, bagi aku pribadi ya, pasangan adalah seorang yang dibawah teman apalagi sahabat. Kenapa ? Karena aku tidak menganggap seorang pasangan itu adalah orang yang harus paling tau segalanya tentang kehidupan kita. Justru lebih banyak hal yang akan aku tutupi dari pasangan. Mungkin beda pendapat dengan kalian. Tapi itulah arti pasangan bagi aku, “bukan segalanya”. Tapi mungkin suatu saat aku akan membuat tulisan baru dengan judul bahwa pasangan patut dijadikan segalanya yang melebihi teman juga sahabat, dengan kriteria tertentu pastinya. Pasangan yang seperti apa ?

Keluarga ? Apakah kamu punya keluarga ? Pasti punya. Apakah aku punya keluarga ? Tentu saja punya. Apakah keluarga bagi kamu adalah segalanya ? (jawab aja). Apakah keluarga bagi aku adalah segalanya ? Tentu saja iya. Hanya orang gila dan yang hatinya busuk kalau ada orang yang menganggap bahwa keluarga bukan segalanya. Tapi disini, apakah mereka semua atau mungkin dari salah satu keluarga ada yang tau segalanya tentang diri kita, tentang siapa kita ? Yakin nih ?

Kalau aku pribadi ya, keluarga memang segalanya, tapi mereka tidak ada yang tau bagaimana kehidupan pribadi aku. Hal yang paling pribadi pastinya. Semuanya masih tertutup, bahkan bersegel ? Maksud lo ? Ya, mereka tidak ada yang tau apa yang aku tutupi, yang sengaja aku sembunyikan dari mereka, dari kehidupan yang memang seharusnya selalu terbuka. Karena aku berpikir tidak ada orang yang aku percaya. Iya sih aku percaya hanya pada Allah, tapi disini aku tidak akan membahas tentang kepercayaan kepada Tuhan ya. Terlalu agamis aduh.

Aku tidak percaya keluarga ? Tidak percaya orang-orang disekitar aku ? Tentu saja tidak. Sama sekali tidak. Kenapa ? Pasti kenapa kan ? Kenapa coba ? Hmm..kenapa ya ?

Ternyata, itulah kelemahan aku. Bukan hanya aku sih, mungkin kalian. Jika tidak percaya kepada orang lain berarti tidak percaya kepada diri sendiri. Lho kok bisa ? Karena semua berawal dari diri sendiri.
Jelas, masalahnya adalah tidak percaya diri. Jadi tidak perlu menyalahkan orang-orang disekitar kita jika tidak ada yang dapat kita percaya, karena memang kepercayaan pada diri sendiri saja kurang, bahkan sama sekali tidak ada.


Kalau kamu, siapa yang paling kamu percaya untuk mengetahui segalanya tentang pribadi kamu ? Temankah ? Sahabatkah ? Pasangankah ? Keluargakah ? Atau diri sendirikah ? Kirim ke komentar !!! 

Well, terlalu bijak ? Tandanya ada kepercayaan diri. Peace !!!


Jangan lupa kembali !!!