Official Blog of Nugi Nugraha || Member of Google Corp & Blogger - Since 2011 || Copyrights 2011 - 2017 by Personal Blog & Google

Minggu, 24 April 2016

Berpikir dan Selalu Sabar Dalam Menghadapi Kehidupan - Hidupku Just My Life (21) 2016



Taked by LG L70 Dual (at) Braga, Bdg

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sementara ini aku masih belum bisa berpikir dengan perfect, ya sih, mungkin bukan hanya aku, tapi setiap orang juga selalu berpikir minus tentang kehidupan ini, apalagi Allah menciptakan manusia dengan berbagai macam perbedaan yang sedemikian berbedanya.



*

Aku mempunyai ibu tiri yang usianya tidak terlalu jauh dari ku, hanya beda 8 tahun saja. Meskipun demikian, tapi yang selama ini aku lihat kedewasaannya melebihi para orangtua yang seperti kebanyakan pada umumnya, jauh lebih dewasa. Aku senang punya ibu seperti dia, pilihan yang tepat bagi ayah telah memilih dia untuk dijadikan ibu bagi anak-anaknya, 4 anak. And you know ? Semuanya anak tiri pastinya. Meskipun tidak selamanya harus diurus, karena kami berempat sudah melewati masa anak-anak. Dan saat ini tinggal aku yang “mungkin” masih dianggap baru memasuki usia remaja, tapi bukan puber ya. Ketiga saudara perempuan ku sudah berumah tangga. De, kapan nikah ? 

Pertanyaan yang bikin badmood !!!!



Dan sekarang serumah kami tinggal berlima, yaitu ibu, ayah, aku dan kedua adiknya ibu. (Kedua adiknya laki-laki semua. Paman tiri ? Huek !!!). Yang paling kecil kelas 2 SMP dan satu lagi kelas 2 SMA.



Seperti kebanyakan masalah dalam rumah tangga pada umumnya, konflik selalu ada. Sepertinya bagaikan liburan tanpa oleh-oleh jika dalam sebuah rumah tanpa pernah ada masalah. Dan masalah utama yang aku hadapi untuk saat ini adalah harus tahan malu untuk tinggal bersama orangtua ku entah berapa lama lagi. Pernah aku tulis juga kenapa untuk sementara aku harus tinggal dulu di rumah bersama orangtua. Sementara ? OMG !!!



Selain itu, masalah yang kadang aku hadapi adalah jika harus beradu konflik sama adiknya ibu yang kelas 2 SMA. Entah apa yang ada di kepala dia, kabel korslet kah ? Atau kotoran burung yang tidak sengaja masuk meracuni otaknya ? Atau bahkan ada bisikan iblis merah di telinga kirinya ? Maybe. Tingkahnya yang mengharuskan aku untuk membaca istigfar lebih banyak lagi, malah sudah tidak ingat berapa ribu kali aku mengelus dada. Andaikan ada isi ulang sabar, mungkin sudah aku isi full dari dulu. Apa yang dia perbuat ? Dia tidak lebih parah dari prilaku ku beberapa tahun lalu, saat aku masih seusia dia. Dan yang aku lihat malah lebih parah lagi. You know what ? Selalu membawa orang lain dalam setiap kesalahannya, seolah-olah dia berbuat salah karena aku yang membawanya, aku yang mengajarkannya kepada dia. Padahal ‘kan tidak perlu diajari juga dia melakukannya sendiri. Yang terakhir aku tau dia minum-minuman keras saat PKL di daerah Pangalengan. Terus hutang ke sepupu aku masih belum dibayar, menjual barang-barang yang dibelikan orangtua, selalu mengarang cerita dengan kadar 99% kebohongan + jawaban 99% kebohongan juga. Wajarkah ?


Yang aku tau, jika menutupi kebohongan dengan kebohongan lagi itu bukan menambah dosa atau menjadi double kebohongan saja, tapi 360 derajat kepercayaan dari orang lain akan berubah. Mungkin akan beruntung bagi dia, tapi itu untuk sementara waktu saja.
Sebenarnya itu hak dia mau bagaimana juga, “karena aku benar-benar sangat amat tidak peduli sama sekali dengan dia”. Mau berbuat apapun juga terserah dan bodo amat. Tapi satu hal yang aku tidak suka, kalau ada hal yang dikait-kaitkan dengan diri aku. Sekecil apapun itu. Kurang baik apa coba aku ? Komentar sedikipun tidak, menyuruh apalagi, melarang ngapain juga ‘kan sudah jelas bahwa aku benar-benar tidak peduli sama sekali. Sudah beruntung tidak aku usir, kalau saja bukan kebaikan ibu yang aku lihat, mungkin memang sudah dari dulu aku berikan “ongkos” untuk pulang ke rumah orangtuanya. Ibu-Bapaknya masih ada, ngapain harus tinggal disini.

*

Tapi itu yang aku pikirkan jika sedang merasa marah saja, jika dia sudah membawa nama ku kedalam kesalahan yang dia lakukan (kalau ketahuan berbuat salah oleh ibu/ayah), Demi Allah dan Insya Allah, dalam hati ku yang paling dalam aku tidak pernah ingin punya perasaan dengki dengan orang lain. Termasuk dia, karena Allah sudah mengatur segalanya.



Semoga saja Allah selalu memberikan kesabaran yang lebih kepada ku.. amiin.. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar anda akan memotivasi blog ini lebih cemerlang..