Official Blog of Nugi Nugraha || Member of Google Corp & Blogger - Since 2011 || Copyrights 2011 - 2017 by Personal Blog & Google

Selasa, 02 Februari 2016

Money Changer Story (part 7) Cerita Non Fiksi 2016

Part 7

Aku terbangun karena mendengar suara telfon berdering.
Aku angkat saja. Ternyata itu suara resepsionis yang menawarkan sarapan pagi, mau diantar atau aku sendiri yang datang langsung ke loby breakfast.

Tanpa harus mandi pikir ku, aku pun langsung menuju tempat sarapan pagi. Di lantai 2 tepatnya. Disana banyak sekali orang. Memang waktunya sarapan pagi. Terlihat jam menunjukkan tepat pukul 9 pagi. Aku pun merubah waktu di jam tangan ku. Telat 1 jam. Karena perbedaan zona wilayah.

Sekitar 30 menit aku selesai sarapan. Sebelum meninggalkan ruangan tempat sarapan, aku baru melihat ke arah sekitar yang sejak tadi terdengar banyak orang berbicara, mengobrol, dan sesekali ada yang tertawa. Aku ? Jangankan tertawa, tersenyum saja rasanya sulit.
Di ruangan itu terlihat banyak sekali orang Indonesia. Tidak sedikit juga turis dari Negara yang berbeda.
Kemudian aku kembali ke kamar untuk mengambil tas ku dan menuju resepsionis untuk cek out.

Aku langsung menuju sebuah tempat perbelanjaan yang memang tidak jauh dari hotel tempat ku menginap. Hanya berjalan kaki sekitar 10 menit saja sudah sampai.
Sesampainya disana aku langsung membeli beberapa pakaian lengkap dengan sepatu juga tas ransel. Dan kemudian naik lagi ke lantai atas untuk melihat-lihat barang elektronik, meskipun tujuan ku hanya mencari kabel charger telfon ku saja.

Selesai.

Kebetulan disana juga ada restoran cepat saji seperti di Negara ku tentunya. Tidak asing lagi. Sekalian mau makan siang dan mengisi ulang batre telfon ku. Dan aku pun tidak lupa memasukkan sim card yang tadi aku beli sewaktu membeli kabel charger.

Dengan awalan +65.

Oh iya, aku masih menyimpan kartu nama Marisa. Saat itu juga aku langsung menelfon dia. Tidak lama menunggu, ada suara seorang perempuan yang menjawab. Benar saja, itu Marisa. Kebetulan dia tidak sedang bekerja, karena hari Sabtu dan dia menyuruh ku untuk datang langsung ke apartemennya. Dan kebetulan juga kalau apartemen yang dia tawarkan kemarin tidak jauh dari tempat dia tinggal.

Tepatnya di kawasan Chinatown, dengan memakai MRT, aku kurang paham juga sebelumnya, tapi berkat telfon ku yang kembali menyala aku bisa kembali beruntung. Dengan berjalan kaki sekitar 10 menit dari tempat pemberhentian MRT tadi, aku langsung dihadapkan dengan sebuah gedung apartemen yang sangat megah menurut ku. Masih kawasan elit pikir ku.

Di loby sudah ada Marisa yang katanya sejak tadi sudah menunggu ku.
Setelah mengobrol, tiba saatnya ke pokok tujuan ku kenapa menemuinya. Yaitu perlu sebuah tempat tinggal. Ya, apartemen.

Kami langsung menuju apartemen yang memang terletak tidak jauh dari apartemen dimana Marisa tinggal. Hanya berjarak 2 blok.

Begitu memasuki bangunan yang aku pikir lumayan mewah, kami langsung menuju lantai 20, terlihat dari angka yang di tekan oleh Marisa ketika di dalam lift.

Setelah sampai di lantai itu, kemudian Marisa menunjukan kamarnya.
Mewah aku pikir. Apakah uang ku akan cukup ? Pasti cukup. Karena sewaktu aku di hotel tadi pagi. Aku menghitung kembali uang yang ada di tas ku. Apalagi dolarnya bukan dolar Negara Singa saja. Tapi banyak juga yang berasal dari Negara Paman Sam. Yang aku hitung, ada sekitar 500 lembar pecahan 100 dolar US dan 250 lembar pecahan 50 dolar. Ada juga yang euro. Sekitar 200 lembar dengan pecahan 100 dan tidak terhitung yang 50 nya. Begitu pun dolar Negara Singa. Sisa aku bayar hotel semalam juga  sisa belanja pakaian saja masih sangat banyak sekali. Dan sudah pasti ada juga uang rupiah. Aku tidak mengingat berapa jumlah uang rupiah ku. Yang pasti beberapa kali lipat jumlah lembarannya dari semua uang yang lainnya. Apalagi aku juga tidak sempat menghitung uang yang lainnya.

Rasanya tidak benar jika aku tidak bertanya berapa harga sewa perbulan apartemen itu.

Begitu Marisa menjawab, alangkah kagetnya aku. Ternyata itu gratis. Aku hanya tinggal menempatinya saja. Kenapa bisa ? Tentu saja bisa. Karena aku juga tidak terlalu jauh berpikir, pasti antara Ron dan Martin yang ada dibalik semua ini.
Marisa memberkan kunci kamar dan segera ingin berlalu, seperti terburu-buru, tidak sesantai tadi saat kami sebelum sampai ke apartemen ini.
Aku bertanya kepada Marisa. Kapan mereka menemui dia. Dan yang tambah membuat aku kaget, ternyata dia bertemu dengan seseorang sewaktu masih di bandara sebelum berangkat kesini. Dan memang sengaja pula dia duduk di kursi sebelah ku. Dan sudah pasti dengan sengaja pula dia memang sudah berniat akan memberikan kartu namanya sebelum kami berkenalan sewaktu masih di pesawat.
Mungkin saja kartu nama yang diberikannya juga hanya satu-satunya yang memang akan diberikan kepada ku. Aku juga tidak percaya kalau namanya adalah Marisa. Meskipun alamatnya memang benar. Tapi tidak ada yang tau kalau dia memang tinggal disana atau tidak.
Ya Tuhan.

*

Aku meminta No telfon Ron atau Martin ke dia. Tapi dia hanya menggelengkan kepala. Dia tidak tau. Atau mungkin memang tidak boleh memberitahukannya kepada ku.

Baiklah. Ini memang untuk ku. Aku tidak pernah memintanya.
Sebuah apartemen yang mewah kini aku tempati. Tanpa harus banting tulang mengumpulkan uang untuk mendapatkannya. Hanya perlu mencari taxi untuk para perampok itu. Kemudian dengan mudahnya aku mendapatkan uang begitu banyak dan sekarang mendapatkan sebuah tempat tinggal yang sangat layak.

Sebentar. Bagiamana dengan Andri ? Seorang marketing di hotel tempat ku bekerja. Dia kan yang memang jelas melakukan perampokan itu. Pasti dia mendapatkan bagian yang lebih banyak lagi. Pasti sangat banyak.

*
Hari-hari pun aku lewati. Dengan hanya berdiam di kamar apartemen ku saja. Melihat siaran TV yang kebanyakan bahasanya tidak aku pahami. Meskipun ada juga yang memakai bahasa Melayu dan bahasa Inggris, tapi lebih banyak lagi bahasa Mandarin.
Dan kadang-kadang aku sengaja jalan-jalan ke sebuah pusat perbelanjaan terkenal dan mengunjungi tempat-tempat wisata juga. Yang sebelumnya hanya aku dengar dari cerita teman-teman ku saja, yang sebelumnya hanya aku baca di internet dikala ada waktu senggang. Kini aku sudah bisa menjelajahinya. Dan memang pernah aku impikan untuk bisa berkunjung ke Negara Singa ini.
Kini memang menjadi kenyataan. Meskipun hanya seorang diri. Tanpa teman dan keluarga. Ya, hanya diiriku sendiri.
*
Suatu malam, ada yang membunyikan bel kamar ku.
Tamu ? Siapa ?
***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar anda akan memotivasi blog ini lebih cemerlang..