Official Blog of Nugi Nugraha || Member of Google Corp & Blogger - Since 2011 || Copyrights 2011 - 2017 by Personal Blog & Google

Jumat, 12 Februari 2016

Aku (tidak) Pernah Mempunyai Anak - Hidupku Just My Life (15) 2016

Siapa yang tidak ingin mempunyai keturunan ? Adakah ? Mungkin ada, tapi hanya orang yang tidak memiliki pikiran waras saja.

*

Pada tahun 2011, aku pernah pacaran dengan seorang wanita bernama Her (nama tidak lengkap). Saat itu usia dia 1 tahun lebih muda dari ku. Dan dia masih sekolah SMA kelas 3. Hubungan kami berjalan 3 bulan, dan hal yang tidak pernah ku sangka sebelumnya, aku langsung harus men-adzani seorang bayi yang baru lahir, yang memang lahir dari pacar ku yang baru aku berjalan 4 bulan. Kenapa bisa ?

Sebenarnya aku tidak pernah mengambil langkah seribu alias kabur, karena aku tau dan dia juga sadar, bahwa anak yang dilahirkannya bukan hasil dari hubungan aku dan dia, tapi dengan pria sebelum aku.
Meskipun aku tidak pernah mempunyai rasa sayang atau cinta pada Her, tapi aku mencoba untuk menjalaninya.

Saat itu ayah biologis dari anak itu tidak mau mengakuinya, dan aku memutuskan untuk ikut menjaga anak yang suci itu. Bahkan orangtuanya mengajakku berdiskusi untuk memberi nama bagi cucunya itu, dan kami beri nama Angga Nugraha. Nugraha adalah nama last ku. Jujur saja, tidak ada rasa kccewa pada Her, karena aku tidak pernah bertanya apakah ini tujuannya kami berpacaran, yang ada hanya kasihan melihat keadaan dia, meskipun sedang dalam menunggu hasil ujian, tapi tetap saja dia belum mempunyai biaya untuk mengurus anaknya itu, bukan anakku. Sedang orang yang seharusnya bertanggung jawab malah acuh dan berjalan begitu santainya.
11 mei adalah tanggal lahirnya. Aku masih ingat saat aku ditelfon tengah malam oleh orangtua Her untuk menandatangani surat kelahiran (bukan akta lahir). Aku punya anak ? Aku senang sekaligus sedih juga. Aku senang karena tiba-tiba saja mendapat harta yang sangat berharga yang memang harus menjadi tanggung jawab ku, ya meskipun hanya untuk sementara (kata orangtua Her, selagi menunggu ayah dari cucunya sadar), tapi aku memang merasa beruntung saja. Saat itu aku ingin memberitahu keluarga ku, tapi setelah dipikir lagi, ah tidak perlu, karena ini merupakan kebahgiaan sementara saja dan kalau pun sebuah masalah, ini hanya masalah yang biasa saja. Aku pun tidak merasa tertekan. Dan sedihnya, aku harus ikut serta merawat seorang anak yang bukan anak kandung ku, ditambah aku sudah membuang jauh rasa sayang ku pada ibunya yang sudah jelas-jelas membuat aku kecewa. Aku merasa kasihan saja pada Her, tapi aku tidak boleh kasihan sama anaknya, tapi harus sayang, aku harus sayang sama anak itu. Dan tanpa perlu ada kata “harus” pun aku sudah ikhlas menyayanginya.

*

Dan itu berjalan selama 1 tahun. Meskipun aku ikut merawatnya tidak seperti selayaknya seorang ayah, karena aku hanya sesekali mengunjunginya, dan dia pun memanggil ku bukan dengan panggilan ayah, tapi nama saja, Nugi.


Tepat pada hari ulang tahunnya, aku ikut menghadiri acara yang lumayan meriah itu, karena memang diundang juga, malah meminta untuk mengambilkan pesanan kue ulang tahun yang sudah di pesan Her sebelumnya. Kue ulang tahun yang bertuliskan “Happy Birthday Angga Nugraha” dan dengan lilin berwarna merah berbentuk angka 1. Sepanjang perjalanan dari toko kue menuju rumah Her aku sangat gembira sekaligus bangga, akan memberikan kue ulang tahun untuk anak yang sudah aku anggap sebagai anak ku sendiri.

Tapi kebahagiaan ku tidak berlangsung lama, karena sesampainya di rumah itu, ternyata selain sudah banyak tamu, ada juga seorang pria yang belum pernah aku temui sebelumnya, tapi masih ingat wajahnya, aku pernah melihatnya di foto yang dulu pernah dutunjukkan oleh Her, dan wajahnya juga tidak terlalu asing, sangat mirip dengan anak yang berulang tahun hari ini. Ya, dia adalah ayah dari Angga Nugraha, yang kini nama itu diganti menjadi Erlangga Sadewa. Erlangga hanya menambahkan “Erl” saja karena Angga sudah begitu melekat dan sangat cocok untuk anak itu. Sedangkan Sadewa adalah nama last dari dia, ayah aslinya.

Dan sesuatu yang sangat membahagiakan bagi Her juga keluarganya, ternyata pria itu memberikan hadiah yang tidak akan ternilai harganya untuk anak itu, yaitu sebuah akta kelahiran. Dan tidak perlu dijelaskan lagi, bahwa aku memang tidak layak berada ditengah-tengah mereka.
Sedih juga kalau mengingat saat itu, aku harus rela meninggalkan dan melupakan dia yang sudah aku anggap seperti anak ku sendiri. Kami begitu dekat, layaknya seperti ayah dan anak. Aku menyayanginya melebihi orang-orang yang ada di kehidupan ku (saat itu). Dan harus benar-benar menghapus perasaan itu, karena aku memang tidak layak menyayanginya lagi, aku bukan siapa-siapa baginya.

Orangtuanya (Her dan..) pun menikah. Mereka tinggal selayaknya keluarga yang sudah 1 tahun mempunyai anak, meskipun aku tau, itu asing bagi dia. Karena dia baru mengenal ayahnya beberapa menit yang lalu, tidak seperti mengenal ku.

*
Deleted

*
Kalau ada waktu luang aku pun masih menemuinya, dan sudah tidak seperti yang baru ketemu lagi, kami memang akrab. Ya, kami memang akrab. Mungkin ada suatu ikatan yang tidak terlihat yang tersimpan di hati ku juga hatinya.


Miss you (not my) son.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar anda akan memotivasi blog ini lebih cemerlang..