Official Blog of Nugi Nugraha || Member of Google Corp & Blogger - Since 2011 || Copyrights 2011 - 2017 by Personal Blog & Google

Rabu, 20 Januari 2016

Keluarga Pelangi 1 (part 2) Cerita Non Fiksi 2017


Hari-hari ku kembali seperti berada di tengah padang rumput yang hijau, begitu sejuk aku lihat, angin berdesir begitu lembut. Sampai akhirnya aku mendapat kabar bahwa anak laki-laki ku yang kedua tertangkap polisi karena kasus kepemilikan narkoba.
Seperti mendengar petir di siang bolong. Seperti ditimpa batu sebesar gunung tepat di kepala ku ini. Dan sejak itu pula aku dilarikan ke rumah sakit karena serangan jantung.

Tuhan. Apalagi ini.
Aku pikir, aku mendidik anak ku itu dengan sebaik mungkin. Bahkan sangat baik. Sekolah pun sampai keluar negeri. Tapi kenapa harus terjerumus dengan hal yang sepele. Orang awam yang tidak pernah merasakan bangku sekolah pun masih bisa untuk menolaknya. Apalagi hampir disemua media informasi banyak tertulis bahaya dari narkoba itu. Aku tidak habis pikir. Kenapa harus seperti itu.
Dan kini aku hanya  bisa terbaring di rumah sakit. Dan kabarnya anak ku juga sudah mendapat hasil keputusan sidangnya, dan harus menjalani hukuman penjara beberapa tahun. Aku masih belum dapat berpikir lagi. Pikiranku kusut.

*
Cobaan terus datang silih berganti.
Aku masih tetap terbaring di tempat tidur. Tanpa ada seorang pun yang peduli. Bahkan istri ku pun entah ada dimana disaat aku terbangun di pagi hari. Meskipun ada yang bantu tapi semuanya harus memakai biaya, apalagi sakit ku yang tidak kunjung sembuh. Dan usahaku yang aku amanatkan pada anakku juga tidak berjalan dengan baik. Dan akhirnya kami harus pindah ke rumah yang sangat sederhana. Ya, sederhana sekali. Jauh berbeda dengan yang dulu pernah kami tempati. Para pekerja yang sudah tahunan bekerja di rumah kami pun kembali ke kampung halamannya.

Anakku yang pertama harus mencari pekerjaan baru yang mungkin kalau dapat pun upahnya tidak seberapa.
Anakku yang kedua masih harus menjalani hukumannya karena kasus narkoba.
Dan harapan ku saat ini adalah kepedulian istri ku yang mau tetap mendampingiku dalam keadaan seperti ini. Ternyata jauh dari harapan. Bahkan sangat jauh dari yang namanya seorang istri juga dari seorang ibu.

Ternyata selama ini dia hanya kumpul dengan teman-temannya untuk arisan yang tidak jelas dan mengahbiskan uang untuk ini itu yang tidak ada artinya. Dan terakhir dia mempunyai hutang ratusan juta kepada rentenir. Barang-barang yang ada di rumah kami pun harus direlakan demi membayar hutangnya. Itupun masih belum cukup.

*
Keluarga kami kini tidak sebahagia dulu. Harapan ku tinggal satu lagi. Yaitu anak bungsu ku yang sebentar lagi akan lulus dari sekolahnya.
Mungkin akan masuk ke universitas impiannya. Oh tidak, tetapi tidak melanjutkan sampai ke bangku kuliah.
Dan aku sudah menyarankan agar dia langsung mencari pekerjaan saja.
Tapi cobaan Tuhan belum usai. Cobaan masih datang menimpa keluarga kami.
Aku sudah pasrah jika nyawa ku saja yang diambil oleh Tuhan. Jangan nyawa anak
ku. Disaat mendengar kabar kalau anakku tertabrak mobil. Dan saat ini dia sudah berada di rumah sakit. Bahkan aku juga mendengar kabar bahwa anakku sudah tidak bernyawa lagi.
Tuhan. Jangan Kau ambil nyawa anakku. Ambil saja nyawa ku. Ternyata dia hanya koma.
*
Tuhan.
Engkau kabulkan do’a ku Ya Tuhan ?
Kenapa Kau ambil sekarang ? Kenapa ?
Aku hanya mampu melihat mereka dari sini. Dari jauh. Dari kegelapan. Dari alam yang sudah berbeda.
Anak pertama ku sangat kesulitan dalam mencari pekerjaan barunya, sehari-harinya hanya terdiam dan murung saja di dalam rumah.
Anak kedua ku yang masih menjalani masa hukumannya.
Bahkan anak perempuanku berjalan pincang.
Ya Tuhan. Kenapa Engkau biarkan keluarga ku tidak sebahagia dulu ? Apa salah ku ?

*
Tuhan, aku baru ingat, aku lupa bersyukur. Aku lupa membagi kebahagiaan disaat keluargaku sedang bahagia. Aku hanya memikirkan keluarga ku saja. Aku tidak peduli pada saudara-saudara ku yang saat itu sedang membutuhkan bantuan dari keluarg kami. Aku melupakan mereka.
Dan disaat ini pun mereka tidak ada yang peduli pada keluarga ku. Mereka acuh.

Aku juga lupa tidak pernah beramal untuk kepentingan yang ada di sekitar lingkungan kami. Anak yatim juga lembaga sosial lainnya. Jika ada yang meminta sumbangan ke depan rumah kami, kami hanya memberi ucapan maaf saja “lain kali”.
Tidak pernah mengadakan syukuran jika keluarga kami sedang mendapatkan sesuatu yang membahagiakan. Disaat anak-anakku lulus sekolah, disaat usahaku maju pun aku lupa tidak pernah bersyukur.
Bahkan kami pun hanya memperkerjakan pegawai di rumah kami hanya dengan upah yang minim dan tanpa ada lebih sedikitpun selain upah saja.

*
Dulu aku pernah menabrak seorang anak kecil hingga tewas dan aku malah tetap melaju kencang tanpa menoleh kebelakang apalagi berhenti dan turun dari kendaraan.
Aku pun membebaskan kedua anak laki-laki ku untuk bergaul dengan siapa saja, bahkan pulang hingga larut malam pun aku tidak melarangnya.
Dan terakhir istri ku. Aku sudah salah mengira. Ternyata wanita yang selama ini aku banggakan, malah menjadi tombak tumpul yang tidak ada gunanya lagi, terlebih untuk anak-anakku.

*
Aku hanya menatap mata mereka yang penuh harapan kosong dari alam gelap ini. Dengan berjuta penyesalan. Kenapa aku melupakan hal-hal yang kecil yang ternyata dampaknya sangat amat besar dalam kehidupan keluarga saat ini.

*
Tuhan, jika aku di izinkan untuk kembali hidup, aku akan merubah semuanya. Aku akan menjadi manusia yang pandai bersyukur. Tidak peduli keluarga kami sedang dalam keadaan susah ataupun senang, ucapan syukur akan selalu kami panjatkan. Bahagia tidak harus dengan berlimpahnya harta, selama napas masih ada pun itu nikmat yang sudah melebihi kebahagiaan yang Engkau berikan.

*
Ternyata itu semua hanya mimpi.
Dan, aku pun terbangun dari koma ku selama seminggu. Katanya karena terjatuh dari tangga rumah. Dan sudah seminggu juga aku terbaring dirumah sakit.
Istriku yang dengan sabarnya setia ada di sampingku. Juga ketiga anakku. Bahkan ditambah seorang cucu pertamaku. Terlihat juga anak keduaku menggandeng seorang wanita yang akan dia jadikan istrinya. Anak terakhirku dengan bangga memperlihatkan nilai kelulusannya yang sangat memuaskan, yang sudah pasti akan diterima di sebuah univeritas ternama di luar negeri.
Terimakasih Tuhan, Engkau memberi gambaran jika aku lupa bersyukur akan seperti itu jadinya. Tidak akan pernah aku sia-siakan kesempatan hidup ini. Akan aku pergunakan sebaik-baiknya.
Karena hidup akan lebih bahagia jika selalu bersyukur.



Selesai

(Terimakasih yang sudah membaca) 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar anda akan memotivasi blog ini lebih cemerlang..