Official Blog of Nugi Nugraha || Member of Google Corp & Blogger - Since 2011 || Copyrights 2011 - 2017 by Personal Blog & Google

Selasa, 20 Agustus 2013

Sepenggal Cerita Bersama Ibu (Hidupku Just My Life)

Yang aku tau dengan jelas dan sangat sadar, seorang ibu adalah sesosok wanita yang selalu dan paling menyayangi anak- anaknya. Sosok ibu juga tidak bisa digambarkan dengan seratus juta halaman ini. Ibu adalah segalanya bagiku. Air di lautan tidak akan cukup untuk menulis sebagai gambaran kebaikan dari seorang ibu.


Aku hanya ingin menceritakan pengalamanku bersama ibu.
Oh iya, aku punya 3 ibu. Hehe.. Banyak ya ?? :D

Ibu kandungku alias yang melahirkanku, namanya Eti Sri Yulianti. Nama yang bagus bukan ?
Aku mengenal sosoknya dari cerita- cerita saja. Maklum saja, waktu usia ku 6 tahun, pas kelas 1 SD saat itu, dia sudah meninggalkan ku lebih dulu untuk selamanya. Karena sakit yang sangat parah.
Sebenarnya, aku sudah tidak tinggal bersama ibu kandungku itu sejak usia ku sekitar 2 tahun. Aku diasuh oleh Ua ku (kakak dari ayahku).

Kalau ibu kandungku dulu tinggal di kota kelahiranku, di daerah Sumedang (bersama nenek dan kakek juga saudara- saudara), sedangkan Ua ku itu di Cianjur Selatan, tepatnya di Kampung Ciyuda, perbatasan dengan Garut Selatan. Kampung nya dari kampung (dulu masih jarang motor, makanya disebut kampung banget).

Selama aku tinggal bersama Ua ku itu, aku bisa merasakan yang namanya kasih sayang dari seorang ibu, meskipun namanya hanya ibu asuh (saat dulu aku berpikir seperti itu). Tapi sekarang aku berpikir, bahwa dia itu bukan hanya seorang ibu asuh, tapi sesosok pengganti ibu kandungku, ibu yang selalu mencurahkan kasih sayangnya yang belum tentu aku dapatkan dari ibu kandungku. Atau bahkan, kasih sayang dia yang tercurah sama aku tidak sebanyak kepada anak kandungnya sendiri.

Yang namanya masih anak- anak saat itu, aku belum terlalu mengerti yang namanya arti ibu untuk kehidupanku saat ini. Kadang aku suka berani melawan dia, tidak menghiraukan dia, bahkan tidak jarang juga aku berani balik membentak jika diamembentak. Ya Allah, berdosanya aku..

Aku juga pernah sesekali membuat dia menangis. Saking bandelnya aku.

Hal yang paling aku sesali, selama aku bersama dia, yaitu aku tidak pernah sekalipun membuat dia merasa bahagia. Tapi entahlah, yang jelas, begitulah yang aku rasakan. Tapi mudah- mudahan aku salah.
Aku ingin sekali membahagiakan dia, mengulang saat- saat bersama dia.

Dan hal yang paling selalu aku ingat adalah, waktu kecil (mungkin usiaku sekitar 4/5 tahun), kalau makan aku suka disuapin, diajarin sholat, disuruh ngaji ke masjid, sekolah. Ya, aku selalu mengingat saat- saat itu, yang samapai sekarang aku masih selalu mengenangnya. Aku bahagia jika sendiri dan mengenang saat- saat seperti itu, dibecandain sampai aku nangis.

Andai aku bisa kembali ke masa- masa itu..

Sampai aku kelas 2 SMP, aku pindah sekolah ke anaknya Ua di daerah Banjaran- Bdg. Lulus SMP, aku tidak pulang ke rumah Ua lagi, karena aku merasa malu juga. Karena aku berpikir, bahwa dia itu bukan siapa-siapa. Betapa sakitnya hati dia jika tau aku berpikir seperti itu Ya Allah, maafkan hamba..

Tapi, meskipun sudah tidak serumah dengan Ua, aku sering juga ketemu dan sekedar main ke rumah dia, ada rasa canggung juga ternyata, tidak seperti dulu.

Kalau sekarang ketemu dia, rasanya ingin memeluknya, seperti saat dulu ketika masih kecil. Tapi entahlah, mungkin dia sudah melupakannya juga, atau mungkin malah punya perasaan yang sama, perasaan sebagai ibu dan anak ? Semoga saja..

Dan sekarang, aku tinggal bersama keluarga ayah. Oh iya, aku dari 4 bersaudara. Anak laki satu- satunya, yang ke 3.

Kakak pertama udah punya 1 anak cowo kelas 1 SD dan sekarang lagi ngandung anak kedua.
Kakak kedua, udah nikah juga, lagi ngandung anak pertamanya.
(keponakan gw !!)
Sedangkan adek aku, dia lagi nganggur aja di rumah (di Cianjur, sekarang aku di Bandung, kerja ceritanya)..hehe

Mau cerita sedikit tentang sosok ayah, boleh ya ?? hehe

Ayah aku itu orangnya dulu cuek abis dah, tapi belakang ini, aku merasakan misteri yang beda, aku merasakan, sekitar 90% sifatnya berubah. Nanti dah aku bahas dalam tulisan selanjutnya.. (buat yang mau tau aja,,hehe)

Oke lanjut..

Sejak ibu kandung aku meninggal, ayah udah 2 kali menikah. Pertama sama orang Bogor, punya anak cewe (kakak kedua dan adek). Dan yang sekarang, menikah sekitar 14 tahun yang lalu sama muridnya sendiri (gosipnya gitu sih), temen SD dari kakak pertamaku..

You know IBU TIRI ?? Yang terkenal galak dan amat sangat galak sekali menurut cerita.

Tapi, kalau menurut pengalaman aku pribadi, oh mungkin bukan hanya pengalaman pribadi, tapi pengalaman saudara- sauadaraku juga kali ya, dia itu sosok ibu tiri yang tidak pantas disebut ibu tiri. Soalnya, apa yang dia lakukan buat anak- anak tirinya jauh dan sangat amat jauh sekali dari yang namanya tiri. Belum tentu juga ibu kandung bisa sayang seperti dia terhadap anak- anaknya. (Dia belum punya anak).

Aku ingin meluruskan, bahwa tidak semua ibu tiri itu selalu berdampungan dengan istilah galak apalagi sadis. Buktinya, aku mempunyai ibu tiri yang sangat amat baik sekali. Dan aku juga tidak pantas menulis disini dengan adanya kata "tiri", oke gak akan lagi dah.

Yang aku rasakan, dia itu sesosok ibu yang sangat amat baik, sayang dan sangat perhatian. Belum tentu juga orang- orang yang mempunya ibu t*** bisa sebaik ibu ku itu.

Hal yang aku sesali suatu waktu, disaat aku kadang membohonginya, melanggar perintah dia (perintahnya pasti selalu baik-lah), ngomongin dia, dan bala bla bla.. Gak kehitung lagi kesalahan aku sama dia..

Dan hal yang aku ingat, ketika dia bilang, "sekarang jangan panggil Teteh lagi, (aku biasa manggil dia Teteh), panggilnya sekarang mah Mamah aja ya, meskipun ibu tiri, tapi tetep ini Mamah, yang akan selalu sayang sama kalian, sama Dede. (aku dirumah dipanggil Dede..hehe)"

Ya, begitulah..

Jadi, jangan pernah menyia-nyiakan kasih sayang seseorang, siapapun dia, apalagi dia adalah seorang IBU..

Love you Mummm...

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Komentar anda akan memotivasi blog ini lebih cemerlang..