Official Blog of Nugi Nugraha || Member of Google Corp & Blogger - Since 2011 || Copyrights 2011 - 2017 by Personal Blog & Google

Sabtu, 08 September 2012

Bahagia dan Sedih (Hidupku Just My Life bag 37)

“Biarlah mereka tersenyum bahagia ketika kita menangis di waktu kelahiran kita.”

Ceria itu perasaan bahagia. Bahagia itu ceria. Intinya itu sih. Hehe.. Ada perasaan yang terluapkan dalam ekspresi kita dengan kesenangan yang tak terbahasakan. Entah dari mimik wajah, gerakan tubuh, gaya bicara, atau pun dari cara makan kita dan lain sebagainya. Segala sesuatu terasa lebih mudah dan ringan untuk dijalani. Tapi ada juga sih yang bahagia meski ia sedang menghadapi masalah yang terasa berat. Dan yang soal seperti itu jangan tanya saya seperti apa orang yang bahagia meski kita lihat sebenarnya ia menderita.

Normalnya, kita hidup ingin selalu diisi dengan keceriaan dan kebahagiaan. Perayaan hari kelahiran, pernikahan, lulus ujian, diterima bekerja di perusahaan idaman kita, jalan-jalan ke suatu tempat yang indah, dan lain sebagainya umumnya bisa buat kita bahagia, senang dan ceria. Meski demikian tak selamanya hidup kita selalu ceria.

Iya, hidup memang diciptakan berdampingan. Kadang kita begitu sangat ceria, juga kadang ada rasa sedih, meski tanpa diminta, ia datang juga. Toh, terlalu sering ceria juga kan gak enak rasanya. Dan ya, sekali lagi, kita selalu sepakat bahwa segala hal yang serba terlalu memang tidak baik.

Kata orang tua dulu, saat kita terlalu senang atau ceria biasanya itu tandanya sesaat lagi akan datang kesedihan. Bisa jadi benar. Bagaimana pun yang namanya kebijaksanaan orang tua tidak bisa kita abaikan begitu saja.

Saya punya teman yang beberapa bulan lalu begitu bahagia karena mendapatkan “bonus” atas kinerjanya di kantor. Tidak hanya dia, tapi teman-teman sekantornya, tanpa terkecuali saya, pun turut ikut berbahagia melihat bagaimana betapa ekspresi keceriaannya terlihat. Semua bersyukur. Semua merasakan kebahagiaannya. Semua ceria!

Sayangnya, itu semua tidak berlangsung lama. Teman kami yang berbahagia itu justru diuji dengan penyakit yang cukup membuatnya habis-habisan mengeluarkan biaya untuk berobat. Rona wajah keceriaannya redup. Meski dengan kuat hati dia mencoba untuk tetap tegar dan berusaha berbahagia.

Lain cerita dengan teman saya yang lainnya. Baru saja ia mendapatkan seorang anak. Istrinya baru saja melahirkan putri pertama baginya. Sempat ia bercerita bagaimana ketegangannya dalam menemani istrinya disaat melahirkan. Rasa takut, was-was, (mungkin) juga sedih melihat istrinya berjuang menimpa perasaan teman saya itu. Setelah melalui itu semua, dengan lahirnya anaknya itu lahir pula lah kebahagiaan, keceriaan padanya. Alhamdulillah…

Maknanya, hal yang buat kita sedih bahkan menyakitkan itu harus kita hadapi, karena itu adalah hal yang wajar dalam hidup.  Asalkan kita memang mempersiapkan diri untuk itu. Kita harus memahami bahwa hidup tak hanya soal bahagia, tapi ada juga sedihnya.


Mempersiapkan diri untuk bahagia dan mempersiapkan untuk merasa sedih. Karena keduanya bisa 'melalaikan' jika tak di-manage dengan baik. Soalnya, apa yang akan terjadi dalam hidup, gak bisa ditebak. Skenario-Nya adalah rahasia terbesar yang hanya akan terbaca setelah terjadi”,

Jadi ya, sama seperti nasihat orang tua tadi, pesan saya sih kita seharusnya selalu bersiap-siap. Saat bahagia, jangan terlalu bahagia. Saat sedih, jangan terlalu sedih. Karena kita gak tahu, setelah itu, apa yang terjadi?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar anda akan memotivasi blog ini lebih cemerlang..