Official Blog of Nugi Nugraha || Member of Google Corp & Blogger - Since 2011 || Copyrights 2011 - 2017 by Personal Blog & Google

Selasa, 15 November 2011

Ibu dan Anak (Kisah Maia Estianty dan Anaknya)

Semua ibu juga pasti selalu dan akan terus sayang sama anaknya, dalam keadaan bagaimana pun anak itu.
Maaf nih ya,, Baru aja baca situs online selebriti Indonesia. Kapanlagi.com tuuh,, Gw selalu always buka tuh situs tiap harinya..Pengen tau aja apa yang baru,,gitu.. Gpp kalii ? hhe

Barusan ya, gw baca tentang berita yang judulnya, "Maia Estianty: Al Butuh Ibunya" humm

Gw copas tuh...

KapanLagi.com - 
Oleh: Daniel Ruben

Prahara rumah tangga Ahmad Dhani dan Maia Estianty masih menyisakan kejadian yang berbuntut pada efek psikologis anak-anaknya. Saat keadaan mengharuskan untuk diam-diam menemui sang Bunda, membuat anak sulung mereka Ahmad Al Ghozalimenerima sebuah pukulan berat, ketika foto-foto dirinya sedang memegang botol beer beredar luas di dunia maya. Tak pelak, Maia sebagai seorang ibu dari anak-anak yang tinggal jauh dari dirinya pun ikut merasakan akibatnya.
Sedih dan kecewa pun dirasakan dengan sangat oleh Maia. Namun, Maia tak pernah meletakkan kesalahan itu kepada Al. Naluri keibuannya tahu persis apa yang dirasakan buah hatinya itu, ketika harus menghadapi situasi yang sewajarnya tidak dihadapi oleh anak seusia Al.
Kesalahan yang dibuat Al membuat Maia semakin menyadari bahwa Al sangat membutuhkan Ibunya, ketika tak ada lagi tempat bagi Al, untuk menuangkan isi hatinya. Seperti terjerat dalam sebuah perangkap, Maia pun tak mampu berbuat banyak, ketika ia harus menerima kenyataan bahwa anak-anaknya kerap mendapat larangan dari Ayah mereka untuk menemui Ibunya. Maia tak bisa berbuat banyak. Ia hanya bisa berdoa dan berharap anak-anaknya tumbuh dan berkembang dengan baik.
Beberapa waktu lalu, secara exclusive kepada KapanLagi.com®, Maia pun berusaha menyampaikan apa yang menjadi hasratnya sebagai seorang Ibu. Maia ingin anak-anaknya kembali. Al butuh Ibunya.



Maia Estianty

  • Keakraban Dhani dengan anak-anak selalu terekam media. Apakah sebenarnya memang seperti itu?
    Gini ya, sebenarnya kalau mau bicara di media, adalah bukan masalah-masalah keluarga. Selama ini memang anak-anak jarang banget tinggal di rumah saya. Jadi, bisa dihitung kalau misalnya ke rumah saya tuh mungkin dua bulan sekali karena memang gak boleh untuk main ke rumah itu udah jelas banget larangannya. Apalagi dulu pernah terjadi waktu aku ulang tahun, terus anak-anak mau datang nggak boleh, terus kemudian anak-anak main bentar di rumah, langsung disuruh pulang. Itu adalah sesuatu yang sangat menyedihkan bagi seorang Ibu, ketika anak-anaknya dilarang main ke rumah Ibunya.
  • Anak-anak sering curi-curi waktu untuk nengok Bundanya?
    Oh iya, kalau nyuri-nyuri waktu itu pasti, bahkan kemarin Al minta ngerayain hallowen di rumah, itu juga sebenernya Al nggak bilang Bapaknya.
    Pada saat anak-anak main ke rumah saya, itu Bapaknya nggak tahu. Atau misalnya kalau saya datang ke rumah dia, itu pun diam-diam, Bapaknya nggak tahu. Karena memang kalau saya ngomong atau minta izin pun, pasti nggak boleh. Jadi, ya mau nggak mau mencuri waktu demi kebaikan ya, bukan berarti mencuri barang-barang tapi mencuri waktu di mana seorang Ibu ingin ketemu anaknya. Toh, di agama nggak dosa kok kalau orang tua bertemu dengan anaknya.
  • Selalu ada ikatan bathin antara Bunda dengan anak-anak?
    Iya. Nggak tau kenapa ya, setiap ada sesuatu yang terjadi dengan anak-anak saya, dalam arti sesuatu yang kurang berkenan, saya selalu berdoa sama Tuhan, dan Alhamdulillah doa saya selalu terkabul jadi seperti yang saya mau.
  • Mungkinkah kalau Dhani kesal, ketika tahu anak-anak ketemu Ibunya?
    Al memang sempet ditegur Bapaknya dan ditanya kenapa kok bikin acara di rumah saya, kenapa sampai Ayahnya nggak tahu, justru tahunya dari orang lain. Saya udah bilang sama Al, supaya dia bicara jujur, bilang aja apa adanya. Tapi saya bilang juga ke Al kalau dia harus minta maaf karena nggak pamit sama Ayahnya.
  • Dari ketiga anak, Al, El, dan Dul, mana yang paling sering kepikiran oleh Maia?
    Kalau aku sih lebih ke anak aku yang pertama, si Al. Dan saya sangat khawatir kalau sampai anak saya mengalami depresi. Aku sampai pernah bilang ke masDhani, tolong Al dikasih ke psikiater/psikolog, namun mas Dhani menolak ide saya itu. Saya yakin, seorang anak itu pasti akan sangat terpukul dengan sebuah keadaan yang harus dia terima, tanpa bisa memberontak, apalagi untuk anak seumur Al.
  • Kalau soal kejadian foto-foto Al memegang botol minuman, bagaimana?
    Semua orang pasti pernah mengalami ketika dia ingin mencoba sesuatu yang baru, akibat dari rasa ingin tahunya. Itulah tugas orang tua / orang-orang yang ada di sekeliling dia untuk memberitahu mana yang baik, mana yang tidak. Dan saya juga udah tanya ke Al, di mana dia belajar mencoba minuman itu, dan saya juga tanya apakah ini pertama kalinya, dan Al mengakui bahwa sebelumnya sudah pernah mencoba. Saya sudah bilang ke dia untuk tidak mengulangi perbuatannya lagi, dan dia juga sudah minta maaf.
  • Respon Al tentang masalah itu?
    Aku sih waktu itu pernah kontak Al ya, dan sempet ngomong dari hati ke hati untuk menyemangati dia. Saya bilang supaya dia jangan peduli apa yang diberitakan di media, karena ada ulah orang jahil yang menyebarkan foto-foto itu, dan dia juga akhirnya bisa ketawa-ketawa. Al cuma pingin ngobrol dengan saya, karena dia butuh teman diskusi, bagaimana caranya dia bisa melewati masa-masa sulitnya, seperti laki-laki yang sedang puber, itu aja kok.
  • Al sangat terbuka dengan Bundanya?
    Alhamdulillah sampai sekarang Al itu sangat terbuka ya sama aku, kayak dulu waktu Al punya pacar, Bapaknya belum tahu, tapi saya udah tahu duluan. Al sangat senang ngobrol sama saya. Dia pernah bilang kalau ngobrol sama Bunda itu enak, bebas bisa cerita apa aja. Jadi memang Al sangat terbuka dengan saya.
  • Al nggak suka ngobrol sama Ayahnya?
    Saya pernah tanya ke Al, apakah dia suka ngobrol nggak sama Ayahnya. Dia bilang kalau memang dia jarang ngobrol sama Ayahnya, dan dia selalu nyari Bundanya. Alhamdulillah sampai sekarang kalau Al ada problem, dia selalu ngomong ke Bundanya. Jadi terbukti bahwa, walaupun secara fisik kita tinggalnya berjauhan, tapi secara bathin, namanya Ibu dan anak itu selalu dekat.
  • Sangat sulit kah ketika Maia ingin bertemu anak-anak?
    Kalo dibilang sulit sih nggak sulit ya, kita tinggal kontakan aja kalau pingin ketemu. Cuma memang jadinya seperti orang selingkuh. Selalu diam-diam, sembunyi-sembunyi, dan makin nggak ketahuan makin seneng, ya ada serunya juga sih.
  • Siapa yang paling dekat dengan Maia?
    Kalau waktu masih kecil, saya paling deket sama Dul. Hanya saja, mungkin saat ini saya sedang fokus sama Al ya, karena kan adik-adiknya tidak terlalu terpengaruh dengan problem Ayah Ibunya ya. Tapi kalau Al kan mungkin banyak kekecewaan di hatinya, dan pada akhirnya saya harus bicara hati ke hati dengan dia, makanya saya jadi lebih fokus ke dia sekarang ini.
  • Apakah Dhani memang keras dalam mendidik anak?
    Memang dulu pendidikan di rumah itu agak-agak militer ya, sangat tegas sekali. Sementara kalau saya kan lebih fleksibel. Selama itu masih baik, ya monggo dilakukan. Kalau pendidikan saya juga cukup straight, tapi kalau menghadapi kehidupan, saya lebih fleksibel. Kita sama-sama mencari tahu apa sih hikmah atau arti dari sebuah kehidupan. Jadi, aku lebih banyak mengajari anak-anakku dengan contoh nyata dari kehidupan sehari-hari, dan lingkungan di sekitarnya.
  • Untuk mengatasi kesulitan ini, ada sebuah keinginan untuk mencari mediator?
    Kalau misalnya butuh mediator saya pikir mediator itu nggak bakal didengerin juga sama mas Dhani, dan walaupun saya ngomong baik-baik sama mas Dhani juga tidak akan pernah didengarkan, karena saya tahu banget karakternya mas Dhaniseperti apa.
    Dia selalu menganggap dirinya paling benar, jadi makanya saya nggak pernah ngasih omongan ke dia, karena kalau saya ngomong A pasti salah, dan saya ngomong B juga pasti salah. Jadi mendingan aku fokus ketemu anak saya, walaupun itu harus diam-diam, dan membantu dia menghadapi ini. Daripada aku pakai mediator, percuma nggak akan ditanggapi, malahan jadi kasihan mediatornya. Mendingan saya sendiri yang handle.
  • Sering kangen sama anak-anak?
    Kalau dibilang rasa kangen ya pasti kangenlah. Yang namanya seorang Ibu pasti ada masa-masanya saya nangis. Tapi kembali lagi, saya pasti akan ngomong bahwa ya Allah, anak-anak itu adalah milikMu, roh mereka adalah milikMu, jadi aku titip mereka, hanya Engkau yang bisa melindungi anak-anakku. Dari kasus kemarin aku juga ngomong sama Al, bahwa itu adalah teguran dari Tuhan karena kamu melakukan sesuatu yang tidak baik. Dan buat saya, Al sangat gentle dengan dia mengakui kesalahannya.
  • Kata-kata Al yang membuat Maia senang?
    Pengakuan dia kepada saya. Saya sangat bangga punya anak seperti Al, yang mau mengakui kesalahannya, dan dia juga sangat jujur dan terbuka. Al juga buat saya sangat gentle dengan dia meminta maaf atas kesalahannya. Saya sangat kagum atas kejujuran Al. (kpl/ben/nat)

Nah, gw lumayan terharu juga dengan kata" Maia, yang,"Iya. Nggak tau kenapa ya, setiap ada sesuatu yang terjadi dengan anak-anak saya, dalam arti sesuatu yang kurang berkenan, saya selalu berdoa sama Tuhan, dan Alhamdulillah doa saya selalu terkabul jadi seperti yang saya mau."

Pengen banget ya gw ngerasain yg seperti itu,, oops

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar anda akan memotivasi blog ini lebih cemerlang..