Official Blog of Nugi Nugraha || Member of Google Corp & Blogger - Since 2011 || Copyrights 2011 - 2017 by Personal Blog & Google

Senin, 21 Februari 2011

Peluk Ibumu Sekarang, Sebelum…

1298285176663618490 
Ditulis untuk mengingatkan kita pada Ibu yang dengan mulianya telah mengabdikan seluruh masa hidupnya pada kita, anaknya. Semoga menjadi inspirasi bagi kita yang telah dilahirkan di dunia ini dengan sempurna…

Sekitar 20 meter di depanku tampak seorang Ibu. Dia tengah menggendong seorang anak kecil yang kir-kira berusia 1-1.5 tahun. Masih sangat kecil, bahkan anak itu sedang tertidur di pangkuan. Mereka berdua duduk di sebuah ayunan tempat juragan mebel. Sebenarnya itu ayunan dijual, dan biasanya empunya akan marah jika ada yang duduk. Saya kenal betul dengan tempat itu. Maklum beragam jenis mebel berkualitas dengan arsitektur unik dan menarik dijual disitu. Benar-benar heran mengapa orang itu dibiarkannya duduk sambil mengayun-ngayun tubuhnya.
Si anak tampak berpegangan ditiang penyangga ayuna yang kokoh. Khawatir tangan anak itu patah karena terjepit dengan tiang ayunan yang terus berayun. Ingin rasanya kuhampiri ibu itu dan menegurnya. Jarik yang dipakai untuk menggendong anaknya dibiarkan terus terseret di tanah. Lagi-lagi kutakutkan jariknya tersangkut dan menjepit dada anaknya. Bisa dibayangkan sakitnya jika menimpa anak kecil yang tidak tahu apa-apa itu.
Ibunya terus memandang kosong, hampa ke depan. Entah apa yang dia pikirkan. Si anak tetap saja bermain di pangkuannya. Sekali-kali anak itu meminta digendong. Tapi Si Ibu tetap tidak menghiraukan. Ada apa dengan ibu iu? dalam hati saya bertanya. Anaknya laki-laki, lucu dan masih berkembang.
Sekarang Ibu itu seolah terbangun dari lamunannya. Dilihatnya anak itu, sembari tersenyum. Diajaknya bermain, dengan mengayunkan lembut anaknya ke udara. Si anak tertawa keras, merasa senang. Cukup lama mereka bermain. Kembali ibu itu terdiam lalu mengelus kepala anaknya. Seolah banyak yang dipikirkan dan diharapkan kepada anaknya kelak.
Anak itu, tampak ingin menangis. Naluri ibu tahu bahwa anaknya sedang kahausan setelah bercanda dengannya tadi. Dibukanya dalaman yang membungkus payudaranya. Agak sedikit menyembunyikan payudara yang dikulum oleh si anak dengan baju gelapnya. Si anak terus asyik mengulum serta menyusu sisa-sisa ASI yang ada. Saya yakin bahwa ukuran payudara seperti itu tidak punya cukup ASI bahkan tidak ada sama sekali. Karena paudara ibu itu terlihat kecil dan tidak pada ibu pada umumnya saat masa menyusui. Terlihat yang dibawanya hanya sebungkus es , dan tak mungkin diberikan ke anaknya. Setidaknya anak itu bisa diam sejenak.
Saya hanya punya satu wafer coklat. Ku hampiri mereka, dengan menyeberangin jalan yang memisahkan kita. Setelah mendekati mereka, ibu itu tampak tersenyum lebar padaku. Jujur saya tidak mengerti dengan bahasa Jawa. Tapi setidaknya saya mengerti maksud ekspresi wajahnya, bahwa dia menyambut baik kedatanganku.
Senang rasanya bisa melihat senyum anak kecil itu. Ia terlihat senang dengan wafer yang kuperlihatkan padanya. Tidak kuperhatikan lagi omongan Ibunya. Karena saya pun tidak mengerti yang dikatannya. Sesekali kumenghiburnya dengan “cilukba” andalanku. Tawanya sungguh lepas, dengan ku yang duduk diayunan yang sama. Wafer itu terlihat dimainkanya, tanpa sadar mungkin kalau itu adalah makanan. Tidak apalah yang penting anak itu senang.
Baru saja terlintas dipikirku tentang Bos mebel ini, akhirnya Ia benar muncul. Ku kira Ia akan marah dan mengusir kami. Tapi tidak, Ia malah berinteraksi denganku. Sepertinya Ia memberikanku kode dengan telunjuk yang ditempelkan miring di dahinya. Bahwa orang di hadapankku ini sedang mengalami gangguan jiwa. Tapi saya tidak terkejut, karena ini kali keduanya saya bertemu ibu anak tersebut. Tidak jauh dari tempat ini.
Mengapa saya harus takut, mengapa saya harus mengabaikannya? Mereka adalah manusia, toh tak apa jika saya berinteraksi dengannya. Ibu dan anak itu adalah makhluk Tuhan, kita sama. Hanya berbeda pola pikir dan kejiawaan. Tidak perlu tahu latar belakang dia bisa punya anak dan bagaimana menghidupinya, itu urusan yang kuasa, urusan Allah. Allah punya kuasa atas segala sesuatu, Dia punya kaki dan tangan yang lebih untuk menjangkau selurh ummatnya.
Saya hanya teringat dengan Ibu yang jauh di sana. Sudah beberapa hari ini saya tidak menghubunginya. Apa kabar dengannya? Ingin ku menangis jika kubayangkan Ibuku seperti itu. Sungguh tak kuinginkan dan tak pernah terbayangkan. Bersyukur aku dengan keadaan yang sekarang. Beliau telah merawatku hingga seperti ini. Kini ku bisa melihat naluri ibu yang tak pernah mati. Sebuah pandangan sisi lain dari seorang ibu yang mulia jiwanya.
Ibu itu akhirnya pergi dan pamit, masih dengan bahasa Jawa. Saya hanya tersenyum, berharap dia akan baik-baik saja. Besar harapanku kita masih bisa bertemu kembali. Semoga kelak anakmu menjadi penerang sepanjang perjuangan hidupmu. Kau teta Ibu yang mulia, mulia diantara Ibu yang telah nista kepada buah rahimnya di luar sana. Mulia dimata Tuhan, karena amanahNya telah kau jalankan, menjaga dan merawat anak itu dengan baik.
Terimakasih Ibu, terimakasih atas jasamu yang tak sepadan dengan apapun. Ku hanya bisa berdo’a dari kejauhan dan berharap kau baik-baik saja di sana.
Kasih ibu kepada beta, tak terkira sepanjang masa
Hanya memberi tak harap kembali
bagain Sang surya menerangi dunia
Marilah kita selalu mendo’akan ibu kita. Ibu yang telah melahirkan dengan perjuangan dan penuh kasih sayang. Berlaku baik lah padanya, bahagiakan Dia, walau takkan pernah terbalas dengan apapun itu. Sampaikan do’a terbaik untuknya, niscaya do’a anak Soleh akan tersampaikan sepanjang masa. Amin…
Salam buat seluruh Ibu yang berhati mulia…

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Komentar anda akan memotivasi blog ini lebih cemerlang..