Official Blog of Nugi Nugraha || Member of Google Corp & Blogger - Since 2011 || Copyrights 2011 - 2017 by Personal Blog & Google

Sabtu, 26 Februari 2011

Kubah Hidup Ku (Hidup Ku Just My Life)


Bayangkanlah Anda sedang berada di tengah-tengah samudera. Sejauh-jauh mata memandang tak ada yang tertangkap oleh pandangan mata kita, kecuali biru laut menghampar datar dan melingkar sempurna. Jika kita putar arah pandang kita, apakah searah jarum jam atau kontra arah jarum jam, maka akan terasa benar  bahwa tak ada ‘horizon’ tunggal di titik ujung pandang kita, melainkan ‘batangan-batangan’ garis horizon yang tersambung secara halus dan samar ‘melengkung’. Yah, lingkaran besar horizon. Hamparan laut yang kita pandang, nampak seperti sebuah ‘meja bundar’ yang amat besar. Jika langit sedang cerah total, maka bentang maha luas itu benar-benar akan nampak seperti kubah biru yang mengatup sempurna pada lingkaran garis horizon dari ‘meja bundar’ tadi. Maka sesaat kita dengan mudah bisa membayangkan kita serasa berada dalam ‘tenda besar’ berbentuk kubah dan berwarna biru, baik atap maupun alasnya.
Itulah persepsi pandang mata telanjang kita terhadap ‘bentuk’ bumi dan langit. Bumi nampak seperti hamparan datar (pada kasus laut yag dipandang) dan langit tertangkap mata seperti kubah biru amat besar dengan puncak tepat di atas kita lalu menurun melengkung ke segala penjuru hingga tepat menutup tepi-tepi samudera. Ke mana pun kita bergerak di seluruh wilayah permukaan bumi, ‘kubah besar’ ini akan juga bergerak ‘mengikuti’ seiring pergerakan kita. Berapa luas sebenarnya ‘wilayah datar’ yang kita tangkap sebagai meja bundar tadi? Belum pernah ada yang mengukurnya secara pasti. Tapi dengan memperhatikan ‘landmark’ alam, seperti gugus pegunungan – yang menandai lokasi wilayah tertentu - sewaktu kita melepaskan pandangan di pantai, kita bisa memperkirakan bahwa luas ‘meja bundar’ itu kira-kira seluas 6 – 8 kabupaten untuk ukuran luas wilayah kabupaten di pulau Jawa (kalau ada hitungan/perkiraan yang lebih tepat mohon dikoreksi). Berarti luas yang disebut ‘bidang datar’ untuk ukuran mata pandang manusia itu hanya sebagian kecil saja dari luas permukaan bumi yang sesungguhnya, selebihnya sudah ‘melengkung’ dan tenggelam (berada) ‘di bawah’ horizon.
Maka, apakah kita menyadarinya atau tidak, hidup kita sehari-hari – dari detik ke detik, dari menit ke menit, pergantian jam, minggu, bulan dan tahun, kita sebenarnya berada dalam ‘setting’ ruang kubah besar. Dalam rumah besar ‘kubah kehidupan’ inilah manusia melintasi rute-rute kehidupannya, sejak tangis bayi kali pertama hingga ditangisi saat kepergiannya kelak ke alam lain. Beragam aktivitas yang dilakoni, dari petani gurem hingga petani berdasi, dari pengemis hingga artis, murid hingga guru, mahasiswa hingga dosen, dari kelompok-kelompok masyarakat hingga para pendampingnya, buruh-buruh, tukang becak, tukang sayur, para tukang lainnya, dari aparat desa hingga para eselon 1 di birokrasi pusat, dari mantri di kecamatan hingga menteri-menteri di kementerian negara, serta dari presiden rumah tangga hingga presiden pimpinan pemerintahan sebuah negara. Semua tanpa kecuali menjalani aktivitas hidup - dari yang paling kecil dan rutin, bernafas, makan minum, berjalan, berlari, berkendara, berpetualang, hang out, tidur dan bangun kembali – semuanya dilakukan di dalam kubah kehidupan ini.
Di bawah kubah besar ini, periode-periode waktu bisa dibagi dengan jelas dalam harian, minggu, bulan dan tahun. Matahari terbit di pagi hari dengan cahaya lembut, terus bergerak merayap menghangatkan. Lalu mencapai ‘puncak’ langit dengan terik membakar. Kemudian terus bergerak turun, hingga tiba di ufuk senja dengan cahaya jingga yang kembali lembut. Setelah itu datanglah malam, dengan langit kelam namun bertabur ‘berjuta’ bintang. Bintang-bintang nampak ‘menempel’ di langit, padahal mereka berada dalam jarak yang berbeda satu sama lain. Ada juga bulan yang tiap malam melintas langit dalam beragam kenampakan, mulai bulan sabit yang tipis seperti alis gadis cantik, secara perlahan tiap hari menuju bentuk bulan purnama, hingga kembali ke bentuk sabit yang tipis. Pergantian siang dan malam, lintasan-lintasan matahari, bulan dan bintang-bintang, semua berjalan, semua terjadi dan semua mengisi ‘setting’ ruang kubah kehidupan entah sejak ribuan tahun yang lalu. Sejak sistem alam ini tertata dan bekerja sesuai dengan ‘perintah’.
Di dalam kubah kehidupan - sejak awal sejarah manusia tercipta hingga saat ini - beribu kisah telah terukir, romansa kehidupan yang mengandung sisi-sisi perjuangan, pertarungan kebaikan dan kejahatan, serta sisi-sisi manusiawi yang lain seperti kisah-kisah asmara. Semua ada di sini, di dalam kubah kehidupan.
Sekarang, marilah kita coba keluar sejenak dari ‘setting’ ruang kubah langit ini. Kita tinggalkan sejenak muka bumi. Kita melesat ke angkasa (terserah mau pakai pesawat apa) hingga batas terluar orbit bumi, hingga bumi nampak seperti layaknya bulan dalam ukurannya. Apa yang tiba-tiba kita rasakan ? Kita benar-benar merasakan dunia yang berbeda dari yang kita pandang sehari-hari. Tetapi kita pun segera sadar, bahwa kini tak ada lagi horizon, tak ada lagi kubah langit, tak ada lagi awan-awan putih menghias langit, tak ada matahari dhuha, dan tak ada senja berwarna jingga. Tak ada sawah dan ladang tempat benih tanaman disemai, tak ada kolam tempat hobbi memancing tersalurkan dan tak ada laut tempat menebar jala/jaring. Tak ada siang, dan apakah ada malam di situ seperti keindahan malam di sini? Kita tak bisa lagi menentukan arah timur-barat, utara-selatan, serta atas-bawah. Semua sama, kita hanya merasa sedang berada di tengah-tengah ‘sesuatu’ yang amat besar dan amat luas. Kita pun akhirnya menyadari bahwa kita adalah spesies yang lebih dekat cara hidupnya dengan bangsa primata dan reptil darat, bukan bangsa ikan (makhluk air) dan juga bukan bangsa unggas. Kita lebih banyak ‘melata’ dan ‘merayap’ pada bidang-bidang datar, relief landai dan sesekali terjal. Sedang ‘menyelam’ di air dan ‘terbang’ di angkasa hanya sesekali dilakukan manakala diperlukan. Maka kemudian, terbitlah kembali kerinduan kita untuk segera pulang ke habitat kita yang asli, yaitu ‘kubah kehidupan’, untuk menjalani hari-hari, untuk terus setia mengikuti lintasan perjalanan silih berganti yang tiada henti, yaitu pergantian siang dan malam.
Mungkin karena keunikan kehidupan di dalam ruang kubah inilah maka malaikat Harut dan Marut yang suci pernah dicoba oleh Sang Pencipta untuk melakoni kehidupan layaknya manusia, dan ternyata mereka merasakan sesuatu ketika berhadapan dengan dua wanita jelita. Mungkin karena ‘takdir’ untuk menyelami nuansa kubah kehidupan inilah Sang Manusia Super (Superman) dilesatkan dari jarak ‘jutaaan’ kilometer dan menukik ke muka bumi. Ia kemudian merasakan sensasi, tidak saja ketika berperan sebagai pahlawan pembela yang tertindas, namun juga ketika ia merasakan debar-debar tertentu saat bersama Louis Lent, sesuatu yang mungkin tak pernah ia rasakan di planet asalnya, Krypton.
Kubah kehidupan, kubah yang menyimpan catatan-catatan romansa kehidupan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Komentar anda akan memotivasi blog ini lebih cemerlang..