Official Blog of Nugi Nugraha || Member of Google Corp & Blogger - Since 2011 || Copyrights 2011 - 2017 by Personal Blog & Google

Sabtu, 05 Februari 2011

I Hated My Fmy - Hidup Ku Just My Life (Bag 5)

I hate my f,,

Taukah kamu? Di dunia ini, seumur hidupku, tak ada orang yang kubenci seperti kebencianku pada f. Aku sungguh-sungguh membencinya, f ku sendiri. Aku, seorang anak lelaki satu-satunya dalam keluargaku, anak kedua dari 3 bersaudara. Aku si pembuat ulah, begitu kata f,,.

Tahun ini, aku telah menginjak usia yang ke-18 tahun. Namun semakin hari, semakin tumbuh menjadi dewasa, rasa benci ini tak kunjung hilang, justru semakin menjadi-jadi. Sejak berusia dibawah 10 tahun, sejak itulah aku merasakan kerasnya sikap f ku dalam mendidik anak-anaknya. Harus begini, harus begitu, tak boleh ini, tak boleh itu. Setiap perintah harus segera dilaksanakan dan setiap larangan yang dilanggar, amarah yang kami dapat. Yah, mungkin begitulah cara beliau-yang beliau anggap baik-untuk bisa mendidik dan merasa dihargai sebagai pemimpin keluarga, melalui ketakutan anak-anaknya pada beliau. 

Dan mulai saat itulah, kebencian ini perlahan-lahan muncul dalam hatiku. Bertahun-tahun kami menjalani hari-hari mengikuti cara f ku. 

Entah bagaimana yang dirasakan kakak dan adikku dalam menghadapi ini, tapi yang jelas, yang tampak oleh mataku, mereka bisa bertahan hingga detik ini, menuruti semua kemauan f ku. Tapi aku tak bisa, aku tak bisa seperti mereka! Aku sudah berusaha. Tapi setiap kali aku mencoba, selalu saja ada kesalahan dari setiap lakuku. Apapun yang aku lakukan, tak pernah benar di mata f ku. Setiap kekacauan dan ketidakberesan yang terjadi dalam keluargaku, selalu aku yang ditunjuk sebagai penyebabnya oleh f ku, meski sebenernya aku tak melakukan apapun. Namun selalu saja ada alasan untuk beliau melimpahkan semua kesalahan padaku. Aku merasa dianaktirikan oleh f ku,,.

Aku tau, aku tak seperti kakak dan adikku yang begitu sempurna sebagai anak untuk f ku. Tapi f ku selalu lupa bahwa sebaik apapun kedua saudaraku, mereka tetap manusia biasa yang tak mungkin luput dari kesalahan. Aku tak pernah mengatakan saudara-saudaraku jahat padaku. Terkadang mereka pun mencoba menjelaskan bahwa kesalahan-kesalahan yang dituduhkan padaku adalah kesalahan mereka. Tapi percuma! Penjelasan mereka mental. Ujung-ujungnya tetap aku yang disalahkan. Ibu? Ibuku adalah seorang wanita paling tangguh yang pernah kutemui. Beliau selalu berusaha menetralkan keadaan saat aku dimarahi f. Tapi dasar f, kebaikan apapun tentang diriku tak pernah bisa diterima olehnya. Bahkan seringkali, ibu pun kena marah karena dituduh membelaku. Aku memang anak yang buruk, bahkan untuk ibu yang paling kusayangi.

Sekarang kau tau bukan, mengapa aku begitu membenci f ku? Dan kebencian ini, semakin kurasa tak wajar setelah aku menginjak usia menuju dewasa. Sebuah kisah yang ku ukir dalam sejarah hidupku, kisah tentang seorang anak yang begitu membenci f nya sendiri. Lebih dari itu, aku muak meski untuk sekedar melihatnya. Aku tau, perasaan ini tak patut kumiliki. Karena bagaimanapun, beliau adalah f ku, karena keberadaan beliaulah aku lahir ke dunia ini,,.

Tapi penalaran apapun tak pernah bisa kumasukkan ke dalam pikiranku, untuk membuatku menghormati dan menyayanginya selayaknya seorang f, atau setidaknya untuk sedikit saja memusnahkan rasa benciku padanya. Berulang kali ibu menasihatiku, “Bagaimanapun, dia adalah f mu, Nak. Dan selamanya kau tak bisa mengubah itu. Itu takdir. Setidaknya hormati dia sebagai seorang f. Seburuk apapun perlakuan f terhadapmu, kebaikan yang pernah f lakukan untukmu pasti telah jauh lebih banyak. Minimal hingga usiamu 2 tahun, f telah ikut merawat dan mendidikmu, bahkan membiayaimu hingga saat ini. Coba kamu bayangkan bila suatu hari nanti f telah tiada, bukankah kamu pasti akan merasa kehilangan? Tak ada lagi yang menafkahi keluarga kita, membiayai sekolahmu, tak ada lagi yang mengajak kita jalan-jalan sekeluarga ketika liburan tiba, tak ada lagi yang memenuhi segala kebutuhan keluarga kita, tak ada lagi canda tawa dan perhatian f, dan tak ada lagi seorang f yang melengkapi kehidupan keluarga kita. Bukan kau pasti juga akan begitu kehilangan? Seberapapun besarnya kebencian yang kamu rasakan, semuanya akan hilang saat kamu tak bisa lagi bertemu dengan f suatu hari nanti. Dan ibu jamin, kalau hal itu sampai terjadi, kamu akan merasa sangat menyesal karena selama f masih ada, kamu tak sempat menunjukkan rasa sayangmu untuk f. Percayalah, apapun yang f lakukan, perintah-perintah f, larangan-laranganf, kalau kamu mau menelusur lebih jauh, itu demi kebaikanmu, Nak. Dan kemarahan-kemarahan f, itu karena f sayang padamu. Tapi mungkin, hanya f yang kurang mampu menyampaikannya dengan cara yang kamu mau.” Panjang lebar ibu selalu menasihatiku, tapi aku mengabaikannya. Aku memang anak durhaka! Aku menyakiti ibuku karena tak mengindahkan kata-kata beliau. Kebencianku seolah telah mengalahkan segalanya, bahkan rasa sayangku pada ibu dan f ku,,.

I'm sorry f,,.

,,to be continued,,

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Komentar anda akan memotivasi blog ini lebih cemerlang..